Akurat

China Turunkan Suku Bunga untuk Atasi Dampak Perang Dagang dengan AS

Demi Ermansyah | 7 Mei 2025, 16:35 WIB
China Turunkan Suku Bunga untuk Atasi Dampak Perang Dagang dengan AS

AKURAT.CO Beijing semakin menyesuaikan kebijakan moneternya guna menghadapi tantangan ekonomi yang diperburuk oleh perang dagang dengan Amerika Serikat.

Gubernur Bank Sentral China, Pan Gongsheng, mengumumkan keputusan penting untuk memangkas suku bunga 7-day reverse repurchase rate menjadi 1,4%, turun dari 1,5%.

"Hal ini kami lakukan sebagai upaya mengurangi biaya pinjaman dan merangsang aktivitas ekonomi di tengah ketegangan yang semakin tinggi dalam hubungan perdagangan dengan AS," ucapnya dikutip dari laman CGTN.

Pemangkasan suku bunga ini, lanjut Pan, merupakan bagian dari strategi China untuk menjaga kestabilan ekonomi yang terganggu oleh kebijakan tarif AS yang terus meningkat. Selain itu, bank sentral China juga mengurangi rasio giro wajib minimum (GMW), yaitu jumlah uang yang harus disimpan oleh bank sebagai cadangan, sebesar setengah poin persentase.

Baca Juga: Dihantui Tarif AS, Vietnam Tetap Kukuh Jaga Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Meskipun waktu pelaksanaan kebijakan ini tidak diungkapkan, langkah tersebut jelas menunjukkan bahwa pemerintah China berkomitmen untuk mendukung sektor keuangan dan perbankan, serta merangsang pertumbuhan ekonomi domestik.

Keputusan Beijing untuk memangkas suku bunga ini diambil sebagai reaksi terhadap serangkaian kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap impor China.

Tarif yang telah melonjak hingga 145% diperkirakan akan memperburuk defisit perdagangan antara kedua negara, yang sudah tertekan akibat perang tarif yang berlangsung lama.

"Tarif ini, jika terus diterapkan, bisa menghancurkan perdagangan bilateral dan berdampak negatif pada ekonomi China," ungkapnya kembali.

Lebih lanjut dirinya juga menambahkan, bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya China untuk meredakan dampak negatif dari kebijakan AS yang agresif, serta untuk menjaga daya saing ekonomi domestik China.

Selain memotong suku bunga, Bank Sentral China juga telah mengumumkan beberapa kebijakan tambahan. Di antaranya adalah penyediaan dana pinjaman ulang senilai CNY500 miliar yang ditujukan untuk sektor konsumsi dan perawatan lansia.

Selain itu, alokasi dana pinjaman sebesar CNY300 miliar juga disiapkan untuk mendukung sektor teknologi, serta usaha kecil dan menengah yang sering kali menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.

Baca Juga: Kritik Tarif AS, Warren Buffet Sebut Proteksionisme Bukanlah Senjata Perdagangan

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa China tidak hanya fokus pada pemulihan sektor keuangan, tetapi juga memperhatikan sektor-sektor penting yang berpotensi memberikan dampak langsung terhadap stabilitas sosial dan ekonomi jangka panjang.

Sebagai informasi, pemangkasan suku bunga oleh China memicu reaksi global, karena China adalah ekonomi terbesar kedua dunia yang sangat mempengaruhi perdagangan internasional. Yuan offshore yang sempat melemah menjadi 7,2 per USD mencerminkan ketidakpastian yang masih membayangi pasar global.

Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah China juga mencerminkan kekhawatiran pasar mengenai prospek ekonomi China yang mungkin tertekan lebih lama akibat ketegangan dagang yang berlarut-larut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.