Kritik Tarif AS, Warren Buffet Sebut Proteksionisme Bukanlah Senjata Perdagangan

AKURAT.CO Investor miliarder asal Amerika Serikat, Warren Buffett memberikan peringatan keras terkait penerapan tarif dan kebijakan proteksionisme dalam perdagangan internasional.
Dalam pertemuan tahunan para pemegang saham Berkshire Hathaway yang berlangsung di Omaha, Nebraska, pada Senin (5/5/2025), Buffett menyampaikan bahwa perdagangan seharusnya tidak dijadikan alat untuk berperang antar negara.
"Perdagangan tidak seharusnya menjadi senjata," ujar Buffett dikutip dari laman CGTN. Menurutnya, penggunaan tarif dan kebijakan proteksionisme dalam perdagangan bisa berisiko besar. Buffett mengingatkan bahwa kebijakan semacam itu justru bisa memperburuk hubungan internasional dan menciptakan ketegangan yang tidak perlu.
"Ini adalah kesalahan besar, menurut saya, ketika kamu memiliki tujuh setengah miliar orang yang tidak begitu suka dengan kamu, sementara kamu memiliki 300 juta orang yang berbicara tentang betapa suksesnya mereka. Saya rasa itu tidak benar, dan saya rasa itu tidak bijaksana," tambah Buffett.
Buffett juga menekankan bahwa kemakmuran dunia tidak akan terjadi dengan mengorbankan negara tertentu. Menurutnya, semakin makmur dunia internasional, semakin besar manfaat yang dapat diperoleh, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi rasa aman.
"Saya percaya bahwa semakin makmur dunia ini, itu tidak akan mengorbankan kita. Semakin makmur dunia, kita akan semakin makmur, dan kita akan merasa lebih aman, begitu pula anak-anak Anda di masa depan," kata Buffett.
Namun, di tengah pandangannya mengenai perdagangan global, Berkshire Hathaway juga mengumumkan penurunan pendapatan operasional pada kuartal pertama 2025, yang turun 14% menjadi USD9,64 miliar. Hal ini dipengaruhi oleh kerugian lebih dari USD700 juta yang berasal dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Dalam laporan keuangan kuartalan yang dirilis pada Minggu lalu, Berkshire Hathaway mencatatkan bahwa hasil operasional perusahaan bisa terpengaruh oleh faktor makroekonomi dan peristiwa geopolitik yang terus berkembang.
Salah satu faktor yang mempengaruhi ketidakpastian tersebut adalah kebijakan perdagangan internasional dan tarif yang semakin meningkat pada tahun 2025.
"Kecepatan perubahan dalam peristiwa-peristiwa ini, termasuk kebijakan perdagangan internasional dan tarif, telah meningkat pada 2025. Ketidakpastian besar tetap ada mengenai hasil akhir dari peristiwa ini," tulis Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November








