Akurat Logo

Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas

Idham Nur Indrajaya | 31 Oktober 2026, 16:15 WIB
Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
Mengulas kontribusi Asuransi Astra dalam membangun kemandirian ekonomi melalui pendidikan, literasi keuangan, dan pemberdayaan masyarakat. - dok. Asuransi Astra

AKURAT.CO Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, nasib sebuah usaha kecil sering ditentukan oleh hal-hal yang tidak terlihat dari luar: akses terhadap modal, pengetahuan, teknologi, dan pasar. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), keempatnya menentukan apakah sebuah bisnis sekadar bertahan atau mampu berkembang. Tantangan itu terasa lebih berat bagi kelompok yang selama ini menghadapi keterbatasan akses ekonomi, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.

Karena itu, bagi jutaan pelaku usaha kecil, pemberdayaan tidak berhenti pada bantuan modal. Mereka juga membutuhkan keterampilan mengelola keuangan, memperluas pemasaran, memenuhi standar usaha, memanfaatkan teknologi digital, dan membangun kepercayaan diri dalam mengambil keputusan bisnis. Tanpa dukungan yang berkelanjutan, potensi ekonomi kelompok ini berisiko tidak berkembang secara optimal.

Pentingnya persoalan ini terlihat dari skala UMKM dalam perekonomian. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat bahwa pada tahun 2025-2026, sektor UMKM berkontribusi sebesar 60,5% hingga 61,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia—dengan nilai nominal mencapai sekitar Rp9,58 triliun hingga Rp9,87 triliun—serta menyerap sekitar 97% total tenaga kerja nasional dari kisaran 65,5 juta unit usaha di seluruh Indonesia (dengan 30,21 juta unit usaha non-pertanian terdata di SIDT-UMKM per akhir 2025). Dengan angka sebesar itu, memperkuat usaha kecil bukan hanya urusan kesejahteraan individu, tetapi juga bagian dari daya tahan ekonomi nasional.

Di ruang inilah Asuransi Astra menempatkan kontribusi sosialnya dalam perjalanan tujuh dekade. Melalui pendampingan usaha, dana bergulir, literasi keuangan, pelatihan keterampilan, hingga pembukaan akses pasar, perusahaan berupaya membuka jalan bagi masyarakat untuk membangun kemandirian ekonomi. Artikel ini menelusuri perjalanan tersebut, dari UMKM secara umum, perempuan, hingga penyandang disabilitas, sekaligus mengajukan satu pertanyaan yang menyertai semuanya: seberapa jauh perubahan itu bertahan setelah program berakhir?

Apa Arti Pemberdayaan?

Pertanyaan itu paling mudah dipahami lewat kisah yang sederhana. Bagi Siti, membangun usaha katering bukan semata-mata perkara memasak dan menjual makanan. Di balik setiap pesanan ada harapan untuk memperbaiki penghidupan keluarga dan menjaga usaha kecilnya tetap berjalan.

Sebelum memperoleh dukungan melalui program PENA (Pahlawan Ekonomi Nusantara), penjualan usaha Nafisah Catering yang dikelolanya dilaporkan berada di kisaran Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Setelah memperoleh dukungan modal dan pengembangan usaha, angka yang dilaporkan naik menjadi sekitar Rp4,5 juta hingga Rp5 juta per bulan. Dukungan senilai Rp5 juta digunakan untuk membeli gerobak dan memenuhi kebutuhan kemasan, dua hal yang bagi usaha kecil dapat menjadi pintu untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

"Dengan adanya program PENA yang diselenggarakan atas kerja sama antara Kementerian Sosial dan Asuransi Astra, saya sangat terbantu sekali," kata Siti melalui catatan tertulis yang tercantum dalam Sustainability Report Asuransi Astra pada tahun 2023, dikutip Sabtu, 31 Oktober 2026.

Tentu, angka penjualan itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kesejahteraan keluarga Siti meningkat secara permanen. Penjualan pun berbeda dari laba bersih yang diterima pemilik usaha. Meski begitu, kisah ini menunjukkan sesuatu yang penting: modal dapat membantu seseorang memulai atau memperbesar usaha, tetapi pengetahuan, kemampuan mengelola keuangan, akses pasar, dan perlindungan terhadap risiko menentukan apakah usaha itu mampu bertahan. Di titik inilah pemberdayaan menjadi lebih bermakna daripada sekadar penyaluran bantuan.

Cara pandang tersebut menjadi benang merah kontribusi sosial Asuransi Astra menjelang usia tujuh dekade. Perusahaan yang selama ini dikenal lewat layanan perlindungan asuransi ini juga mengembangkan program tanggung jawab sosial yang menyentuh pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan, yang menjadi empat pilar kontribusinya.

Rekam Jejak Pemberdayaan UMKM: Dari 2016 hingga 2026

Dukungan terhadap UMKM bukan agenda yang baru muncul menjelang perayaan tujuh dekade. Rekam jejak yang dipublikasikan perusahaan menunjukkan bahwa pemberdayaan usaha kecil sudah berjalan setidaknya sejak 2016. Pada tahun itu, Asuransi Astra mencatat penambahan 91 UMKM binaan di enam kota, sementara program literasi keuangan menjangkau ribuan peserta di berbagai daerah.

Seiring waktu, bentuk dukungannya berkembang melampaui bantuan modal. Perusahaan menambahkan skema dana bergulir, pelatihan kewirausahaan, pendampingan, dan kolaborasi dengan lembaga yang berpengalaman dalam pengembangan usaha mikro.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat tidak selalu harus dimulai dari usaha berskala besar. Sumber daya lokal, keterampilan mengolah produk, dan kemampuan membangun kegiatan ekonomi bersama sudah dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya usaha produktif.

Kampung Berseri Astra di Pela Mampang

Kampung Berseri Astra di Pela Mampang. dok. Asuransi Astra

Contoh yang paling terlihat ada di Pela Mampang, Jakarta Selatan. Melalui program Kampung Berseri Astra, warga didorong mengembangkan usaha produktif seperti urban farming, pengolahan hasil pertanian, budidaya ikan, pengelolaan sampah, dan kegiatan kelompok wanita tani, di samping dukungan bagi usaha kecil.

Rini Andriani, salah satu penggerak kelompok wanita tani, menggambarkan pendekatan itu dengan sederhana. "Urban farming ini tidak sulit, tidak perlu lahan yang luas, tidak perlu modal yang besar," ujarnya melalui catatan tertulis di situs resmi Asuransi Astra yang dipublikasikan pada tahun 2021.

Di kawasan yang sama, dana bergulir menjadi instrumen untuk membantu pelaku usaha memperoleh tambahan modal. Sebuah penelitian akademik tentang program ini menemukan bahwa pembiayaan tanpa bunga sebesar Rp2 juta membantu menguatkan modal dan mendukung kemandirian ekonomi sejumlah penerima manfaat.

Penelitian yang sama juga mencatat bahwa penerima masih mengharapkan nilai pinjaman yang lebih besar serta pelatihan pengemasan dan pemasaran yang lebih konsisten. Temuan ini menegaskan bahwa akses modal adalah langkah awal. Agar dampaknya berkelanjutan, modal perlu berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan bisnis.

Dari Bank Wakaf Mikro hingga PENA

Pola yang sama terlihat pada skala yang lebih luas. Pada 2022, Sustainability Report Asuransi Astra mencatat 216 UMKM binaan, tiga Bank Wakaf Mikro, dan 2.407 nasabah Bank Wakaf Mikro. Pada tahun yang sama, program dana bergulir di tiga kota menjangkau 119 UMKM, sementara Estafet Peduli Bumi di tujuh wilayah (Medan, Jakarta, Semarang, Balikpapan, Makassar, Denpasar, dan Sumba) menjadi wadah yang memadukan kewirausahaan dengan pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

Kerja sama dengan Kementerian Sosial melalui PENA memperluas jangkauan itu pada 2023. Laporan tahunan mencatat 100 UMKM di Malang memperoleh bantuan modal dan pelatihan kewirausahaan. Di Sidoarjo, PENA menghadirkan bantuan modal bagi 50 UMKM dengan dukungan senilai Rp250 juta. Di Palangka Raya, bantuan modal bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diberikan kepada 50 UMKM dengan dukungan Rp100 juta, dan 20 di antaranya dikelola penyandang disabilitas.

Angka 20 itu bagian dari 50 penerima di Palangka Raya, bukan tambahan di luar angka tersebut. Di Malang dan Palangka Raya, sebanyak 198 UMKM juga memperoleh perlindungan asuransi mikro Garda Me Micro, kelompok penerima manfaat yang berbeda dari UMKM binaan.

Kontribusi Asuransi Astra dalam program tersebut mencakup inklusi keuangan dan pelatihan kewirausahaan. Materinya cukup konkret: pembuatan produk tekstil dari kain perca batik, pasteurisasi susu menggunakan listrik, serta produksi keripik buah dengan teknologi vacuum frying.

Materi pelatihan itu memperlihatkan bahwa perusahaan memandang bantuan bukan hanya sebagai transfer sumber daya, melainkan sebagai kesempatan untuk memperkuat kemampuan produktif penerima. Seberapa jauh kemampuan itu berubah menjadi usaha yang bertumbuh tentu baru dapat dinilai dari perkembangan usaha setelah pelatihan, bukan dari jumlah peserta atau kegiatan yang terlaksana.

Membaca Angka 2024 hingga 2026

Setelah 2022 dan 2023, skala pembinaan terus bergerak. Pada 2024, Sustainability Report mencatat 190 UMKM dibina dalam satu tahun, dengan akumulasi UMKM binaan mencapai 626 hingga akhir 2024. Angka 626 adalah angka kumulatif resmi, bukan angka tahunan. Pada tahun yang sama, 150 nasabah Bank Wakaf Mikro memperoleh dukungan, dan jumlah kumulatif nasabah tercatat 5.310.

Laporan 2025 mencatat 85 UMKM dibina sepanjang tahun, tetapi tidak memuat angka kumulatif terbaru. Jika 85 UMKM itu peserta baru yang belum tercakup dalam akumulasi 2024, perkiraan akumulasi hingga akhir 2025 adalah 711 UMKM (626 ditambah 85). Angka 711 hanyalah estimasi hitung, bukan angka resmi perusahaan. Pada 2026, program UMKM BERDAYA menjadi yang terbaru, dengan 120 peserta. Angka itu juga jumlah peserta tahun berjalan, bukan jumlah kumulatif, dan belum tentu seluruhnya UMKM baru yang belum pernah tersentuh program sebelumnya.

Periode

Jumlah UMKM

Keterangan

2022

216

UMKM binaan dalam Sustainability Report 2022

2023

Tidak ada total tunggal

Beberapa program dengan sasaran berbeda

2024

190

Dibina selama tahun berjalan

Akhir 2024

626

Akumulasi resmi UMKM binaan

2025

85

Dibina selama tahun berjalan

Akhir 2025

711

estimasi

2026

120

Peserta UMKM BERDAYA 2026

Angka-angka ini perlu dibaca dengan hati-hati. UMKM binaan Asuransi Astra, UMKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang memperoleh pendampingan Asuransi Astra, serta UMKM penerima bantuan modal atau perlindungan asuransi adalah kategori yang berbeda. Begitu pula peserta pelatihan, penerima dana bergulir, dan nasabah lembaga keuangan mikro. Menjumlahkan semuanya berisiko menghitung penerima yang sama lebih dari sekali.

Pembedaan serupa berlaku untuk angka Grup Astra yang jauh lebih besar. Astra Sustainability Report 2021 mencatat 15.903 UMKM binaan, 878 penyandang disabilitas binaan, 24 Lembaga Pengembangan Bisnis, dan 125 start-up binaan hingga akhir 2021. Data Astra International untuk 2022 mencatat 1.484 UMKM binaan dan 123 penyandang disabilitas binaan sebagai capaian tahun berjalan. Semua itu angka tingkat grup, bukan pencapaian Asuransi Astra saja, sehingga hanya layak menjadi konteks.

Membuka Ruang Ekonomi bagi Perempuan

Dari gambaran umum UMKM, perhatian bergeser ke kelompok yang kerap menanggung hambatan lebih besar. Di banyak wilayah, perempuan menjaga keberlangsungan usaha keluarga: mengelola produksi, mengatur keuangan rumah tangga, memasarkan produk, bahkan menggerakkan kelompok usaha di lingkungannya. Namun potensi itu tidak selalu diikuti akses yang setara terhadap modal, pelatihan, teknologi, dan pasar. Bagi sebagian perempuan, tantangannya bukan hanya memulai usaha, tetapi juga mengelolanya secara profesional, memperoleh pembiayaan, dan memperluas jangkauan konsumen.

Asuransi Astra mengembangkan sejumlah kegiatan yang menempatkan perempuan sebagai pelaku utama. Kelompok wanita tani di Pela Mampang adalah salah satunya. Kegiatan urban farming di sana tidak hanya mendukung ketahanan pangan lingkungan, tetapi juga membuka peluang mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi. Bagi perempuan yang terbatas aksesnya terhadap lahan dan modal, pemanfaatan ruang sempit memungkinkan kegiatan produktif berlangsung dekat dengan rumah, sekaligus membuka ruang untuk terlibat dalam ekonomi komunitas.

Tenun Ikat Karaja di Sumba

dok. Asuransi Astra

Di sektor kerajinan, dukungan kepada kelompok penenun Tenun Ikat Karaja di Sumba menunjukkan bagaimana keterampilan tradisional dapat menjadi sumber penghidupan. Pada 2022, sebanyak 70 anggota kelompok menerima alat tenun, benang kapas, serta pelatihan pengelolaan keuangan dan risiko usaha. Keterlibatan perempuan dalam kerajinan ini lebih luas daripada menjaga tradisi. Ketika keterampilan produksi dibarengi pengelolaan usaha dan akses pasar, produk lokal berpeluang menjadi sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.

Kolaborasi dengan YDBA: Dari Literasi hingga Standar Industri

Untuk memperdalam pendampingan semacam itu, Asuransi Astra menggandeng YDBA. Pada 2024, keduanya menjalankan kegiatan literasi keuangan bagi UMKM perempuan dengan materi pengelolaan keuangan dan penguatan kemampuan bisnis. Pada 2025, kerja sama itu berlanjut ke program yang lebih terarah bagi 10 UMKM milik perempuan.

Program 2025 ini berawal dari kampanye digital Asuransi Astra dalam rangka Hari Perempuan Internasional pada Maret 2025, ketika partisipasi masyarakat melalui unggahan media sosial dikonversi menjadi dukungan nyata bagi UMKM perempuan. Kick-off berlangsung pada 11 Juni 2025, disusul pendampingan hingga Agustus yang mencakup asesmen, pelatihan, dan pendampingan intensif. Tujuannya meningkatkan kompetensi, kemandirian, dan mentalitas industri, antara lain melalui standar QCD (quality, cost, dan delivery) yang menyangkut kualitas produk, efisiensi biaya, serta ketepatan pemenuhan pesanan. Dengan standar itu, UMKM diharapkan mampu memenuhi kebutuhan konsumen dan memperluas penetrasi pasar nasional.

Pendekatan ini relevan karena persoalan UMKM perempuan tidak selalu berhenti pada kekurangan modal. Ketika usaha mulai tumbuh, pelaku bisnis juga harus menjaga konsistensi kualitas, mengelola biaya, memenuhi pesanan, memahami kebutuhan konsumen, dan mencatat keuangan dengan lebih tertib.

Salah satu peserta kegiatan literasi bersama YDBA, Leony Agus Setiawati, mendapat pembekalan tentang digitalisasi usaha: penggunaan aplikasi pembukuan, pemanfaatan media sosial, pemahaman pelanggan, pembuatan konten, dan pemasaran. Bagi usaha kecil, kemampuan memisahkan keuangan pribadi dan usaha, memahami biaya produksi, serta membaca perilaku konsumen dapat menjadi fondasi keputusan bisnis yang lebih baik.

Angka 10 peserta pada 2025 perlu ditempatkan secara proporsional. Itu jumlah peserta program pendampingan khusus perempuan yang terdokumentasi, bukan total UMKM perempuan yang pernah dibina Asuransi Astra. Belum ada publikasi resmi mengenai angka kumulatif tersebut.

Baca Juga: Asuransi Astra Bidik 80 Persen Klaim Diproses Tanpa Manusia, AI Dipakai untuk Deteksi Fraud

Baca Juga: Asuransi Astra Pangkas Proses Beli Asuransi dari 16 Langkah Jadi 2 Berkat OCR

#PerempuanBermakna: Dari Apresiasi Menuju Literasi dan Kemandirian Finansial

dok. Asuransi Astra

Program pendampingan itu hidup berdampingan dengan kampanye kehumasan yang lebih terbuka bagi publik, #PerempuanBermakna. Kampanye ini diinisiasi sejak 2023 untuk memperingati Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret, dengan rangkaian kegiatan yang mengapresiasi peran perempuan sekaligus memperluas akses mereka terhadap pengetahuan dan kesempatan ekonomi. Pada 2026, kampanye menggabungkan aktivasi publik, kegiatan digital, dan literasi keuangan bagi pelaku UMKM perempuan. Pemberdayaan di sini tidak hanya soal bantuan modal atau pelatihan usaha, tetapi juga pengakuan atas kontribusi perempuan dan penguatan kemampuan mereka mengambil keputusan finansial.

Face-O-Matics: Ruang Apresiasi

Sisi publik kampanye 2026 terlihat dalam Face-O-Matics, instalasi interaktif di kantor pusat Asuransi Astra pada 9 Maret 2026. Pengunjung diajak menggambar potret diri sekaligus menuliskan pesan dukungan dan apresiasi bagi perempuan, memadukan kreativitas dengan refleksi tentang keberagaman karakter, potensi, dan pengalaman perempuan. Lebih dari 500 orang, perempuan maupun laki-laki, termasuk jajaran direksi, ikut serta, dan setiap pengunjung menerima buket bunga pilihannya.

Kegiatan ini bersifat simbolis, tetapi membawa pesan bahwa apresiasi kepada perempuan tidak semestinya berhenti pada perayaan tahunan. Pengakuan perlu diikuti dukungan yang memungkinkan perempuan mengembangkan kemampuan, memperoleh akses ekonomi, dan memegang kendali lebih besar atas masa depannya. Dampak ekonomi kegiatan seperti ini memang perlu dibedakan dari program pembinaan usaha yang menargetkan peningkatan kapasitas dan pendapatan secara lebih langsung.

Bunda BISA: Literasi Keuangan Syariah dan Perlindungan

Dimensi yang lebih langsung hadir lewat kolaborasi dengan Yatim Mandiri dalam program Bunda BISA (Bunda Mandiri Sejahtera). Pada 5 Maret 2026, kedua pihak menggelar kegiatan literasi bertajuk "Berdaya, Mandiri, dan Cerdas Finansial untuk Menjadi #PerempuanBermakna" bagi pelaku UMKM perempuan. Pesertanya dibekali literasi keuangan syariah, mulai dari prinsip transaksi bebas riba, konsep bagi hasil atau mudharabah, hingga pengelolaan keuangan sesuai prinsip syariah. Materi disampaikan oleh Business Manager Digital Marketing & Renewal Management Asuransi Astra, Ekki Primanda Ramadhan.

Sesi tersebut juga mengenalkan pentingnya perlindungan asuransi untuk menjaga aset berharga dari risiko tak terduga. Bagi pelaku UMKM, pemahaman ini bagian dari perencanaan keuangan yang lebih matang, sebab kerusakan aset usaha, kecelakaan, atau kejadian tak terduga lain dapat mengganggu arus kas dan mengancam keberlanjutan bisnis jika tidak diantisipasi. Selain literasi, Asuransi Astra menyalurkan paket sembako untuk membantu kebutuhan peserta selama Ramadan dan memberikan perlindungan asuransi melalui Garda Me sebagai bagian dari dukungan terhadap inklusi keuangan.

Masyarakat luas ikut dilibatkan melalui Add Yours Instagram Challenge. Publik diajak membagikan sosok perempuan bermakna dalam hidup mereka beserta cerita dan apresiasinya, dan setiap unggahan yang memenuhi ketentuan dikonversi menjadi donasi Rp25.000 untuk mendukung pemberdayaan UMKM perempuan dalam program Bunda BISA.

Finance Director Asuransi Astra, Herlin Agustina, mengatakan kampanye ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap perempuan memiliki potensi yang dapat berkembang bila memperoleh ruang dan dukungan memadai.

"Tiap perempuan membawa banyak potensi masing-masing. Kami percaya bahwa dengan memberikan ruang, dukungan, dan akses yang lebih baik adalah kunci agar perempuan bisa terus tumbuh dan berpotensi sehingga memberikan dampak lebih besar lagi. Kampanye #PerempuanBermakna juga panggilan untuk bersama-sama membuka peluang, memberdayakan, dan merayakan setiap langkah perempuan yang berarti," tutur Herlin dikutip dari catatan tertulis di situs resmi Asuransi Astra yang dipublikasikan Selasa, 10 Maret 2026.

Marketing – Commercial & Health Business Director Asuransi Astra, Indah Octavia, menambahkan bahwa pemberdayaan tidak semata-mata memberi kesempatan, tetapi juga membuka jalan agar perempuan dapat berkembang dan berdampak lebih luas.

"Melalui kampanye ini, kami ingin mengapresiasi setiap langkah perempuan yang sering kali berjalan dalam sunyi, namun membawa dampak nyata bagi sekitarnya, mulai dari keluarga, lingkungan kerja, hingga komunitas. Kami berharap rangkaian kegiatan #PerempuanBermakna yang telah hadir secara berkelanjutan ini dapat menjadi ruang yang mendorong perempuan untuk terus bertumbuh, memperoleh akses terhadap pengetahuan finansial, serta semakin percaya diri dalam mengembangkan potensi terbaik yang dimilikinya," ujar Indah.

Kedua pernyataan itu menempatkan literasi finansial sebagai fondasi pemberdayaan. Arahnya sejalan dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan pada 2026 yang, menurut materi program perusahaan, menetapkan perempuan dan pelaku UMKM sebagai dua dari lima kelompok sasaran prioritas peningkatan literasi keuangan.

Dengan begitu, rangkaian #PerempuanBermakna memperlihatkan bagaimana kampanye yang bermula dari apresiasi dapat meluas menjadi kegiatan yang menyentuh kebutuhan ekonomi: aktivasi publik dan digital membangun kesadaran, sedangkan literasi keuangan memberi bekal praktis untuk mengelola usaha dan memahami perlindungan risiko.

Pemberdayaan Lewat Pendidikan Komunitas di Sumba

Pemberdayaan perempuan dan masyarakat juga bisa berjalan lewat penguatan kapasitas lokal di bidang pendidikan. Di Sumba, Roswita Asti Kulla, pendiri English Goes to Kampung, pernah menyampaikan apresiasinya atas dukungan Asuransi Astra bagi kegiatan pendidikan di wilayah itu.

"Terima kasih kami ucapkan untuk Asuransi Astra. Senang rasanya prinsip EGK selaras dengan pilar-pilar berkelanjutan Asuransi Astra dalam menjawab dan memenuhi tanggung jawab sosial perusahaan," ujarnya.

Dari pertanian perkotaan, kerajinan tenun, peningkatan kapasitas usaha, literasi keuangan, hingga pendidikan, jalur pemberdayaan ekonomi perempuan terbukti beragam. Ukuran keberhasilannya pun semestinya konkret: pertumbuhan pendapatan, keberlanjutan usaha, perluasan pasar, dan meningkatnya kendali perempuan atas keputusan ekonomi.

Ketika Disabilitas Bukan Batas untuk Berwirausaha

Bila perempuan menghadapi akses yang tidak selalu setara, penyandang disabilitas menghadapi persoalan yang lebih berlapis. Hambatannya tidak selalu soal keterampilan atau kemampuan menjalankan usaha. Ada keterbatasan akses terhadap pendidikan vokasional dan pembiayaan, lingkungan kerja yang belum inklusif, fasilitas yang belum mudah diakses, kesempatan pelatihan yang terbatas, jaringan pemasaran yang sempit, serta penerimaan pasar yang belum terbuka.

Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) pernah menyoroti bahwa banyak pekerja penyandang disabilitas masih terkonsentrasi pada pekerjaan informal dengan upah rendah. Petugas program ILO, Dina Sari, dalam salah satu publikasi lembaga itu menyebut bahwa sebagian besar pekerja penyandang disabilitas bekerja di sektor informal tingkat rendah dengan upah minimal. Dalam publikasi lain, ILO mengutip data Susenas 2019 yang menunjukkan bahwa hanya sekitar 22 dari setiap 100 orang dengan disabilitas kategori tertentu yang bekerja.

Gambaran ini menunjukkan bahwa inklusi ekonomi tidak cukup diwujudkan dengan membuka kesempatan mengikuti pelatihan atau sekadar bekerja. Penyandang disabilitas juga membutuhkan akses terhadap keterampilan, modal, sumber daya, jaringan bisnis, konsumen, dan lingkungan usaha yang memungkinkan mereka berkembang secara mandiri.

Dari Aksesibilitas ke Kewirausahaan

Asuransi Astra mulai menyentuh isu ini dari sisi aksesibilitas. Pada 2020, perusahaan menjalankan #MaskerTemanTuli, termasuk dukungan masker yang membantu komunikasi bagi komunitas Tuli. Program itu belum merupakan pemberdayaan usaha, tetapi memperlihatkan perhatian pada kebutuhan kelompok disabilitas.

Dukungan kemudian bergerak ke arah usaha. Pada 2023, 20 UMKM yang dikelola penyandang disabilitas termasuk dalam 50 penerima bantuan modal di Palangka Raya. Pada 2024, laporan perusahaan mencatat dukungan kepada empat kelompok UMKM disabilitas dengan total 30 peserta melalui pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap produk asuransi mikro. Pada tahun yang sama, perusahaan menggelar Limit Breaker.

Limit Breaker: Langkah Menuju Kemandirian UMKM Disabilitas

dok. Asuransi Astra

Program Kolaborasi Pembinaan UMKM Disabilitas "Limit Breaker: Langkah Menuju Kemandirian UMKM Disabilitas" dilaksanakan pada 2–3 Oktober 2024 di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS), Cibinong, Bogor. Program ini melibatkan STIS dan Alunjiva, platform peningkatan kapasitas dan kapabilitas penyandang disabilitas.

Rancangannya tidak berhenti pada bantuan sosial, tetapi membangun fondasi kewirausahaan. Setelah pembukaan, peserta mengikuti pembinaan selama empat bulan dan memperoleh dana bergulir dari Asuransi Astra. Materinya mencakup penguatan mentalitas dasar pelaku usaha, pemanfaatan teknologi digital untuk bisnis, serta pemahaman tentang legalitas dan penggunaan media sosial bagi usaha. Peserta juga memperoleh bantuan sosial dan pembekalan bisnis. Publikasi resmi perusahaan pada 9 Oktober 2024 tidak memuat jumlah peserta yang dapat dipastikan, sehingga angka itu tidak diasumsikan sama dengan jumlah penerima pada program lain.

Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa keberlanjutan UMKM disabilitas membutuhkan perpaduan keterampilan teknis dan kapasitas manajerial. Teknologi digital dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas, sementara pemahaman legalitas membantu pelaku usaha memenuhi persyaratan ketika ingin mengembangkan bisnis atau menjalin kerja sama.

Chief Compliance & Risk Management Asuransi Astra, Widya Adi Tjahjono, mengatakan pemberdayaan UMKM disabilitas adalah bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih inklusif.

"Memastikan kesejahteraan UMKM disabilitas adalah bagian dari upaya kami untuk menciptakan ekonomi yang inklusif dan merata. Seperti yang kita ketahui, UMKM sendiri berperan penting dalam pembangunan negara melalui penciptaan lapangan kerja baru, penyediaan produk lokal berkualitas, dan inovasi yang berkelanjutan. Dengan menerapkan prinsip Diversity, Equity, and Inclusion (DEI), kita membantu ciptakan lingkungan yang memberikan kesempatan yang setara bagi semua orang tanpa ada yang tertinggal untuk turut berkontribusi dan berkembang. Hal ini tidak hanya memperkuat ekonomi, tetapi juga memperkaya keberagaman masyarakat, sehingga dapat membangun komunitas yang lebih tangguh dan berkelanjutan untuk semua," ujarnya melalui catatan tertulis di situs resmi Asuransi Astra pada 9 Oktober 2024.

Beauty Class for Disabilities: Keterampilan sebagai Pintu Menuju Peluang Kerja

dok. Asuransi Astra

Jika Limit Breaker menyiapkan fondasi wirausaha, pelatihan keterampilan membuka jalan lain menuju penghasilan. Pada 2025, program pembinaan menjangkau 60 UMKM penyandang disabilitas, menurut Sustainability Report 2025. Laporan itu belum menjelaskan apakah angka tersebut mencakup peserta baru, peserta lanjutan dari program sebelumnya, atau gabungan keduanya. Pada tahun yang sama, Asuransi Astra menggelar Beauty Class for Disabilities di kantor pusatnya pada 28 Oktober 2025, melibatkan komunitas penyandang disabilitas binaan perusahaan bersama Yayasan Balai Latihan Kerja Includia.

Program ini membekali peserta dengan keterampilan tata rias sekaligus kemampuan pemasaran digital. Pemilihan bidang kecantikan punya alasan: permintaan jasa tata rias atau Make Up Artist (MUA) dalam berbagai acara membuka peluang bagi mereka yang menguasai teknik dan mampu menjangkau pelanggan. Data Badan Pusat Statistik dalam publikasi Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia 2024 menunjukkan bahwa sektor jasa adalah penyerap tenaga kerja penyandang disabilitas terbesar, dengan proporsi 40,44%, dan perempuan memiliki proporsi lebih tinggi di sektor itu, yakni 68,53%.

Data tersebut memberi konteks mengapa pelatihan keterampilan jasa dapat menjadi jalur pemberdayaan, meskipun besarnya proporsi itu belum membuktikan bahwa profesi MUA akan mudah diakses. Peluangnya tetap bergantung pada keterampilan, aksesibilitas, jaringan pelanggan, dan kemampuan membangun usaha.

Pelatihan dimulai dengan kelas tata rias yang dibawakan pelatih MUA tersertifikasi, Pratiwi Nabila Alya Sari. Peserta mengenal peralatan, jenis kulit, dan teknik dasar merias wajah, lalu mempraktikkannya langsung pada model. Pembekalan tidak berhenti pada teknik: peserta juga belajar sanitasi peralatan kecantikan, etika profesi MUA, dan penyesuaian teknik rias dengan karakter wajah serta kebutuhan klien. Aspek-aspek ini penting untuk membangun standar layanan profesional dan menjaga kepercayaan konsumen.

Kelas berikutnya berfokus pada pemasaran digital, dipandu Novia Francisca, Chief Operation Officer MOM CREARTION sekaligus perwakilan Yayasan Balai Latihan Kerja Includia. Materinya meliputi personal branding, optimalisasi media sosial, dan strategi menjangkau calon klien yang lebih luas. Kombinasi dua kelas tersebut masuk akal, sebab jasa yang berkualitas perlu diikuti kemampuan memperkenalkannya kepada pasar. Bagi calon MUA, portofolio digital menjadi etalase untuk menunjukkan hasil kerja, membangun reputasi, dan memperoleh kepercayaan pelanggan.

VP Governance, Risk Management, Compliance & Corporate Secretary Asuransi Astra, Djoko Nugroho Anindito, mengatakan pelatihan ini bagian dari upaya menghadirkan ruang inklusif bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan dan membuka peluang baru.

"Melalui program Beauty Class for Disabilities, kami berupaya menghadirkan ruang yang inklusif dan penuh inspirasi untuk mengasah keterampilan tata rias hingga pemasaran bagi para teman disabilitas. Tentunya hal ini bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan, pengalaman, dan keyakinan diri agar mampu melangkah lebih jauh dan membuka pintu peluang baru. Dengan begitu, mereka dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi serta merasakan peace of mind dalam setiap langkah kehidupannya," kata Djoko.

Pernyataan itu memperlihatkan inklusivitas yang dimaknai bukan hanya sebagai kesempatan untuk hadir dalam sebuah kegiatan, melainkan sebagai penguatan kemampuan yang dapat dipakai dalam kehidupan ekonomi. Keberhasilannya akan lebih terukur bila diikuti data tentang peserta yang kemudian bekerja sebagai MUA, memperoleh pelanggan, membangun usaha, atau meningkatkan pendapatan.

UMKM BERDAYA 2026: 120 UMKM, Pelatihan, Inkubasi, dan Akses Pasar

dok. Asuransi Astra

Perkembangan terbaru muncul pada 2026 lewat UMKM BERDAYA (Bersama Asuransi Astra Tingkatkan Daya Saing Usaha), yang diluncurkan pada 22 Juli 2026 sebagai bagian dari rangkaian menuju peringatan 70 tahun perusahaan. Program ini menyasar 120 UMKM di 10 provinsi: 70 UMKM umum binaan Yayasan Astra–YDBA dan 50 UMKM yang dikelola penyandang disabilitas, yang dijalankan bersama Enably.

Kelompok 70 UMKM mengikuti pembinaan lima pilar pada Mei hingga September 2026. Adapun 50 UMKM disabilitas dari Jabodetabek mengikuti program Mandiri Finansial, Paham Digital, Naik Kelas pada Juli hingga September 2026, yang mencakup pelatihan, pembinaan, dan inkubasi. Materinya meliputi pembukuan dan pengelolaan keuangan usaha, pemasaran digital, serta kemampuan melakukan pitching dan menjelaskan keunggulan produk kepada konsumen.

Yang menarik, program ini tidak berhenti di ruang pelatihan. Peserta memperkenalkan produk melalui showcase dan bazar, dan sejumlah produk diserap untuk kebutuhan kegiatan internal perusahaan sehingga membuka peluang transaksi dan pengalaman memasuki pasar. Langkah ini menjawab persoalan yang kerap dihadapi UMKM, yakni bukan hanya keterbatasan modal, melainkan juga keterbatasan akses pasar. Puncaknya berlangsung pada 29 September 2026 melalui UMKM BERDAYA Awards 2026, yang menampilkan 10 peserta Top 10 dan tiga penghargaan utama.

Presiden Direktur Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, menegaskan bahwa pemberdayaan penyandang disabilitas perlu berangkat dari pengakuan terhadap kapasitas dan kesempatan yang setara.

"Kami percaya bahwa disabilitas bukanlah batas bagi seseorang untuk berkarya dan berdaya dalam membangun usaha yang dijalankannya. Setiap individu memiliki potensi dan kapabilitas yang dapat berkembang ketika mendapatkan ruang dan kesempatan yang setara," ujar Maximiliaan melalui catatan tertulis di situs resmi Asuransi Astra, dikutip Sabtu, 31 Oktober 2026.

Ia menjelaskan bahwa program ini tidak hanya memberi pembekalan, tetapi juga menghadirkan pengalaman dan akses yang membantu pelaku usaha disabilitas mengembangkan bisnisnya. Menurutnya, inklusivitas bukan sekadar memberi kesempatan berpartisipasi, melainkan memastikan setiap individu punya ruang untuk menunjukkan kemampuan dan menciptakan pencapaiannya sendiri.

Kisah Dewijaya Care

Pernyataan itu menemukan wujudnya pada Dewijaya Care, usaha yang diinisiasi Dewi Winarti Roro Shanti melalui merek True Body Care. Usaha ini mengembangkan produk perawatan tubuh berbahan alami, termasuk sabun dan losion. Dewi mengakui bahwa mengikuti UMKM BERDAYA membantu meningkatkan kepercayaan dirinya sebagai pelaku usaha.

"UMKM BERDAYA membuat saya semakin percaya diri dan yakin bahwa apa yang saya lakukan saat ini sudah berada di jalur yang tepat dan masih dapat dikembangkan lebih baik lagi," ujarnya.

Pada UMKM BERDAYA Awards 2026 yang digelar 29 September 2026, Dewijaya Care meraih penghargaan UMKM BERDAYA of the Year. Dua penghargaan utama lainnya diberikan kepada Stafi Food untuk kategori Most Inspirational Business Journey dan Karina The Kitchen untuk kategori Most Innovative Product.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan dan perkembangan usaha selama pembinaan, dan menunjukkan bahwa dukungan yang tepat dapat membantu pelaku usaha disabilitas mengembangkan produk, memperkuat keyakinan, serta memperoleh akses terhadap pengetahuan dan jaringan.

Namun, penghargaan bukan garis akhir. Keberlanjutan usaha tetap ditentukan oleh kemampuan menjaga kualitas, memperoleh pelanggan, mengelola biaya, dan mempertahankan arus kas. Karena itu pula, angka-angka keterlibatan penyandang disabilitas dalam program Asuransi Astra perlu dibaca sebagai capaian program per tahun.

Angka 20 (2023), 60 (2025), dan 50 (2026) tidak boleh dijumlahkan menjadi 130 UMKM disabilitas yang berbeda, karena belum ada data yang memastikan tidak ada peserta yang mengikuti program lebih dari satu tahun.

Di sinilah pentingnya ekosistem usaha yang inklusif. Pelatihan akan lebih berarti jika diikuti akses pasar. Pendampingan akan lebih kuat jika disertai kesempatan memperoleh pembiayaan. Dan pengakuan terhadap kemampuan penyandang disabilitas perlu diterjemahkan menjadi peluang ekonomi yang nyata.

Perlindungan dan Ketenangan sebagai Bagian dari Pemberdayaan

Ekosistem yang tangguh juga membutuhkan perlindungan, dan di sinilah posisi Asuransi Astra berbeda dari lembaga sosial atau organisasi pendamping UMKM pada umumnya. Selain mendukung pengembangan kapasitas usaha, perusahaan memiliki kompetensi pada pengelolaan risiko dan perlindungan keuangan.

Dimensi ini relevan karena usaha kecil biasanya memiliki cadangan keuangan terbatas. Kerusakan aset, kecelakaan, atau risiko lain dapat mengganggu kelangsungan usaha dan keuangan keluarga yang menggantungkan hidup pada bisnis tersebut. Melalui produk asuransi mikro seperti Garda Me Micro, perusahaan memperkenalkan perlindungan bagi masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan akses terhadap layanan asuransi.

Dalam sejumlah program pemberdayaan, produk ini juga diperkenalkan kepada penerima manfaat. Pada 2023, misalnya, 198 UMKM di Malang dan Palangka Raya memperoleh perlindungan Garda Me Micro. Angka itu menunjukkan jumlah penerima perlindungan, bukan jumlah UMKM binaan.

Keberhasilan asuransi mikro pun tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau polis yang diterbitkan. Yang lebih menentukan adalah keterjangkauan premi, pemahaman terhadap manfaat dan pengecualian, kemudahan pengajuan klaim, serta seberapa jauh pembayaran klaim membantu pemegang polis menghadapi risiko.

Dengan cara pandang itu, ketenangan yang menjadi bagian dari identitas Asuransi Astra memiliki makna yang lebih luas: bukan hanya rasa aman ketika memiliki perlindungan, tetapi juga kemampuan menjaga usaha dan penghidupan ketika menghadapi ketidakpastian.

Pemberdayaan yang Terhubung dengan Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan

Kemandirian ekonomi tidak berdiri sendiri. Usaha yang berkembang membutuhkan masyarakat yang sehat, pendidikan yang memadai, lingkungan yang mendukung, dan kemampuan mengelola keuangan. Itulah sebabnya empat pilar kontribusi sosial Asuransi Astra saling terkait dalam pelaksanaannya, dan kontribusi perusahaan tidak hanya diarahkan pada bantuan langsung, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat dan lingkungan tempat mereka beraktivitas ekonomi.

Jejak Program Sosial dari Tahun ke Tahun

Jejak itu dapat dilihat dari program-program sebelumnya. Pada 2017, perusahaan menjalankan #BerkahSenyum yang menjangkau lebih dari 5.000 warga lanjut usia di 68 panti wreda di 23 kota. Setahun kemudian, #PijarIlmu mendukung pendirian 50 perpustakaan dan sudut baca di 24 kota. Pada 2019, dukungan mengalir ke lembaga pendidikan di Sumba, termasuk Yayasan Hati Nurani Sumba di Watu Kawula.

Pada 2020, #MaskerTemanTuli dan dukungan pendidikan bagi SLB B Sana Dharma menjadi respons terhadap kebutuhan kelompok rentan. Pada 2021, kegiatan mencakup #AksiMudaIndonesia dan #IndonesiaLangitBiru, sementara Kampung Berseri Astra menghubungkan kegiatan lingkungan dengan aktivitas produktif warga.

Pendidikan dan Literasi Keuangan

Di bidang pendidikan, literasi keuangan menjadi program yang terus dikembangkan. Pada 2023, kegiatan literasi menjangkau 4.981 peserta di 25 sekolah vokasi dan delapan perguruan tinggi, di samping beasiswa, bantuan fasilitas sekolah, dan pengembangan pusat pembelajaran. Pada 2025, program LENTERA menjangkau 13.215 peserta secara keseluruhan, dengan 7.179 di antaranya mengikuti kegiatan tatap muka, dan perusahaan melaporkan pemberian 296 beasiswa. Angka-angka ini menggambarkan keluasan jangkauan, sedangkan dampak jangka panjangnya baru terlihat dari perkembangan pendidikan dan kesempatan kerja para penerima.

Pada Oktober 2026, LENTERA kembali menjangkau 60 pekerja migran Indonesia di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bekasi, dengan materi literasi keuangan dan pengenalan Garda Me Micro. Kegiatan ini relevan karena pekerja migran perlu mengelola pendapatan, menyiapkan keuangan setelah kembali ke tanah air, dan memahami perlindungan terhadap risiko.

Kesehatan: Posyandu, Stunting, dan Air Bersih

Di bidang kesehatan, perusahaan mendukung revitalisasi posyandu, pembinaan kader, dan intervensi pencegahan stunting. Pada 2024, laporan perusahaan mencatat dukungan terhadap 17 posyandu, 51 kader, dan 175 balita, termasuk intervensi kepada 140 balita dalam penanganan stunting. Program ACTing dilaporkan telah menjangkau 2.619 penerima manfaat secara kumulatif hingga 2025. Angka kumulatif ini tidak sama dengan jumlah anak yang mengalami stunting, karena cakupan penerima manfaatnya lebih luas.

Kegiatan kesehatan lain mencakup kolaborasi dengan Lovepink untuk edukasi dan pemeriksaan kesehatan bagi perempuan, serta penyediaan akses air bersih. Pada 2025, program air bersih dilaporkan menjangkau 406 rumah tangga di Bekasi, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.

Lingkungan: Mangrove, Bank Sampah, dan Ekonomi Sirkular

Di bidang lingkungan, agenda keberlanjutan perusahaan mencakup penanaman mangrove dan pohon produktif, pengembangan bank sampah, dan konservasi terumbu karang. Laporan 2024 mencatat penanaman 10.000 mangrove, 3.350 pohon buah produktif, dan 1.000 terumbu karang. Pada 2025, perusahaan melaporkan kolaborasi dengan 21 bank sampah di 20 kota, daur ulang 2,97 ton seragam bekas, dan klaim pengurangan emisi sebesar 74,5 ton CO2.

Kegiatan ini punya kaitan dengan penghidupan masyarakat. Pengelolaan sampah dapat membuka peluang ekonomi sirkular, sementara pohon produktif berpotensi menjadi sumber pendapatan jangka panjang. Manfaat ekonomi dan ekologisnya perlu diukur secara terpisah agar tidak berhenti sebagai angka kegiatan.

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Jumlah Penerima Manfaat

Jika semua jejak itu dirangkai, terlihat pergeseran dari kegiatan bantuan dan donasi menuju pendekatan yang lebih beragam: penguatan kapasitas, literasi keuangan, pendampingan usaha, akses pasar, dan perlindungan risiko. Data terbaru memperlihatkan tiga pergeseran yang saling berkaitan.

Pertama, skala pembinaan berkembang, dari 216 UMKM binaan pada 2022 hingga akumulasi resmi 626 UMKM pada akhir 2024, disusul 85 UMKM pada 2025 dan 120 peserta pada 2026. Kedua, pembinaan mulai diarahkan pada aspek komersial.

Program 2026 tidak berhenti pada pelatihan, tetapi mempertemukan produk peserta dengan calon konsumen melalui showcase, bazar, dan penyerapan produk untuk kebutuhan internal perusahaan. Ketiga, pendekatan bagi perempuan dan penyandang disabilitas berbeda: untuk UMKM perempuan, penekanannya pada kompetensi, mentalitas pengusaha, dan standar industri QCD; untuk UMKM disabilitas, pada pembukuan, digitalisasi, pemasaran, pitching, inkubasi, dan akses pasar.

Meski demikian, keberhasilan pemberdayaan tidak semestinya dinilai dari banyaknya program, besarnya dana, atau jumlah orang yang terlibat. Ukuran yang lebih substantif adalah apakah usaha penerima manfaat mampu bertahan, apakah pendapatan meningkat secara berkelanjutan, apakah perempuan memperoleh ruang lebih besar dalam keputusan ekonomi, dan apakah penyandang disabilitas benar-benar mendapat kesempatan yang setara dalam ekosistem bisnis.

Pelatihan literasi keuangan, pemasaran digital, maupun keterampilan vokasional adalah langkah awal. Dampak yang lebih mendasar baru tampak ketika peserta mampu menerapkan pengetahuan itu, memperoleh pendapatan yang lebih stabil, dan memiliki kendali lebih besar atas keputusan ekonominya.

Karena itu, keterbukaan terhadap evaluasi menjadi bagian penting dari tanggung jawab sosial perusahaan. Indikator yang perlu diketahui publik antara lain pertumbuhan omzet peserta sebelum dan sesudah pembinaan, jumlah tenaga kerja yang berhasil diserap, peningkatan aset dan kapasitas produksi, jumlah UMKM yang memperoleh legalitas usaha, jumlah UMKM yang berhasil memperoleh pembiayaan, nilai transaksi produk peserta melalui akses pasar perusahaan, persentase UMKM yang tetap beroperasi setelah program selesai, serta pengalaman penerima manfaat dalam mengajukan klaim asuransi.

Dalam publikasi terbuka yang tersedia, belum ditemukan total dana yang dialokasikan untuk pembinaan UMKM sejak program dimulai, maupun informasi mengenai sistem pemantauan jangka panjang bagi peserta setelah pendampingan berakhir. Data semacam ini akan membantu publik menilai efektivitas program secara lebih utuh.

Menjaga Kepercayaan melalui Keberlanjutan

Bagi Asuransi Astra, pekerjaan mengukur dampak itu adalah kesempatan untuk memperkuat makna kontribusi sosial yang telah dibangun. Sebab, ketenangan yang berkelanjutan tidak hanya lahir dari perlindungan terhadap risiko, tetapi juga dari kemampuan seseorang untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Kembali ke awal, Siti yang berusaha mengembangkan katering, perempuan yang mengolah hasil pertanian dan tenun menjadi produk bernilai ekonomi, peserta Bunda BISA yang memperkuat pemahaman finansial, serta Dewi yang membangun usaha perawatan tubuh adalah gambaran dari beragam jalan menuju kemandirian.

Para peserta Beauty Class for Disabilities pun memiliki kesempatan mengubah keterampilan menjadi jasa profesional dan sumber penghasilan. Mereka bukan sekadar penerima program, melainkan pelaku ekonomi yang punya kemampuan, keputusan, dan cita-cita sendiri.

Bagi penerima manfaat, dukungan semacam ini berpotensi menghadirkan lebih dari sekadar tambahan modal atau keterampilan baru. Akses terhadap pengetahuan, jaringan, dan kesempatan pasar dapat menjadi fondasi usaha yang lebih tangguh. Bagi perekonomian, semakin banyak usaha kecil yang bertahan dan berkembang berarti semakin luas peluang penciptaan lapangan kerja dan pemerataan kegiatan ekonomi.

Asuransi Astra tidak ingin berjalan sendiri dalam memberikan peace of mind. Perusahaan mengajak pelanggan, mitra, dan masyarakat untuk turut memberikan manfaat positif bagi lingkungan sekitar. Ajakan itu mengandung pesan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak dapat diselesaikan oleh satu perusahaan. Dibutuhkan kerja sama dunia usaha, pemerintah, lembaga pendamping, komunitas, dan masyarakat agar kesempatan ekonomi tumbuh lebih merata.

Pada akhirnya, tujuh dekade perjalanan sebuah perusahaan bukan hanya tentang berapa lama institusi itu bertahan, tetapi tentang seberapa jauh keberadaannya memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh. Ketika UMKM memiliki kapasitas lebih kuat, perempuan memperoleh akses ekonomi lebih luas, dan penyandang disabilitas mendapat kesempatan setara untuk berwirausaha, pemberdayaan sosial dapat menjadi bagian dari fondasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Sebab, kepercayaan tidak dibangun hanya melalui janji perlindungan. Ia tumbuh ketika komitmen diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dirasakan, sementara ketenangan menemukan maknanya ketika masyarakat memiliki kemampuan untuk menjaga masa depan mereka sendiri.

Melihat perjalanan tujuh dekade Asuransi Astra yang berupaya untuk menjaga kepercayaan dan memberikan ketenangan, pernyataan penerima penghargaan Nobel Perdamaian tahun 2026 Muhammad Yunus pun menjadi kembali relevan:

“Untuk membangun perdamaian yang kokoh, kita harus membuka kesempatan agar setiap orang dapat menjalani kehidupan yang layak.”

Baca Juga: Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026

Baca Juga: Industri Asuransi Umum Tertekan, Ini Strategi Asuransi Astra Tetap Tumbuh

FAQ

1. Apa saja kontribusi sosial Asuransi Astra selama tujuh dekade?

Asuransi Astra menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial melalui empat pilar utama, yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. Programnya mencakup pemberdayaan UMKM, literasi keuangan, pengembangan keterampilan perempuan dan penyandang disabilitas, serta dukungan terhadap komunitas lokal.

2. Bagaimana Asuransi Astra membantu mengembangkan UMKM di Indonesia?

Asuransi Astra mendukung UMKM melalui bantuan permodalan, pelatihan, literasi keuangan, pendampingan bisnis, dan pengembangan pemasaran digital. Perusahaan juga berkolaborasi dengan lembaga seperti Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan Kementerian Sosial untuk memperluas jangkauan pemberdayaan.

3. Apa itu program PENA yang melibatkan Asuransi Astra?

PENA merupakan singkatan dari Pahlawan Ekonomi Nusantara, program pemberdayaan yang menghubungkan bantuan sosial dengan penguatan kemampuan ekonomi masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Kementerian Sosial, Asuransi Astra mendukung pelaku UMKM melalui bantuan usaha dan pengembangan keterampilan agar penerima manfaat memiliki peluang meningkatkan kemandirian ekonomi.

4. Bagaimana Asuransi Astra mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan?

Asuransi Astra mendukung perempuan melalui pengembangan kelompok usaha, pelatihan UMKM, literasi keuangan, dan kampanye #PerempuanBermakna. Bentuk dukungannya mencakup pelatihan pengelolaan keuangan, pemasaran digital, pengembangan produk, serta pendampingan agar perempuan dapat meningkatkan kapasitas usaha.

5. Apa tujuan kampanye #PerempuanBermakna dari Asuransi Astra?

Kampanye #PerempuanBermakna bertujuan mengapresiasi kontribusi perempuan sekaligus mendorong terbukanya akses terhadap pengetahuan, kesempatan, dan pemberdayaan. Sejak diperkenalkan pada 2023, kampanye ini menghadirkan berbagai kegiatan, termasuk aktivasi publik, literasi keuangan, dan dukungan terhadap UMKM perempuan.

6. Apa bentuk dukungan Asuransi Astra terhadap perajin perempuan di Sumba?

Pada 2022, Asuransi Astra memberikan dukungan kepada 70 anggota kelompok Tenun Ikat Karaja berupa alat tenun dan benang kapas. Mereka juga memperoleh pembekalan mengenai pengelolaan keuangan dan risiko usaha untuk membantu mengembangkan kegiatan ekonomi sekaligus menjaga keterampilan tenun tradisional.

7. Bagaimana Asuransi Astra membantu penyandang disabilitas agar mandiri secara ekonomi?

Asuransi Astra menghadirkan pelatihan kewirausahaan, pendampingan UMKM, pengembangan keterampilan jasa, pemasaran digital, dan dukungan permodalan. Program seperti Limit Breaker, Beauty Class for Disabilities, dan UMKM BERDAYA dirancang untuk memperluas kemampuan serta kesempatan usaha bagi penyandang disabilitas.

8. Apa itu program UMKM BERDAYA dari Asuransi Astra?

UMKM BERDAYA merupakan singkatan dari Bersama Asuransi Astra Tingkatkan Daya Saing Usaha. Program 2026 ini melibatkan YDBA dan Enably untuk mendampingi 50 UMKM penyandang disabilitas di Jabodetabek melalui pelatihan pencatatan keuangan, pemasaran digital, penguatan nilai produk, inkubasi, serta kesempatan mengikuti showcase dan bazar.

9. Apa itu program Beauty Class for Disabilities?

Beauty Class for Disabilities merupakan kegiatan pelatihan tata rias bagi penyandang disabilitas yang diselenggarakan Asuransi Astra bersama Includia. Peserta mendapatkan materi teknik dasar makeup, pengenalan alat rias, kebersihan peralatan, etika profesional, serta pemasaran digital untuk membuka peluang usaha di sektor jasa kecantikan.

10. Apa hubungan pendidikan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam program Asuransi Astra?

Pendidikan menjadi fondasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat agar mampu memanfaatkan peluang ekonomi. Salah satu contohnya adalah English Goes to Kampung di Sumba, yang memberikan ruang belajar bahasa Inggris berbasis komunitas untuk memperluas wawasan dan kemampuan peserta.

11. Apa saja empat pilar CSR Asuransi Astra?

Empat pilar CSR Asuransi Astra meliputi:

  • Pendidikan: mendukung akses belajar dan peningkatan keterampilan masyarakat.

  • Kesehatan: berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.

  • Lingkungan: mendorong kepedulian dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

  • Kewirausahaan: memperkuat kemampuan ekonomi melalui pemberdayaan UMKM dan komunitas.

12. Mengapa pemberdayaan UMKM perlu disertai literasi keuangan?

Literasi keuangan membantu pelaku UMKM memahami pemasukan, pengeluaran, modal, biaya produksi, dan keuntungan. Dengan pencatatan yang lebih tertib, pelaku usaha dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi keuangan sebenarnya, mengendalikan risiko, dan merencanakan pengembangan bisnis.

13. Bagaimana cara mengukur keberhasilan program pemberdayaan masyarakat?

Keberhasilan program pemberdayaan dapat dilihat dari perubahan nyata setelah kegiatan berlangsung. Indikatornya antara lain peningkatan pendapatan, keberlanjutan usaha, perluasan pasar, kemampuan mengelola keuangan, peningkatan keterampilan, serta terbukanya kesempatan kerja yang lebih setara.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.