Dihantam Tarif AS, Ekonomi Jerman Kian Gonjang-Ganjing

AKURAT.CO Ekonomi Jerman kembali dihantui bayang-bayang resesi, kali ini bukan hanya karena faktor domestik, tetapi juga tekanan global yang makin meningkat.
Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Kamis (10/4) oleh lima lembaga riset ekonomi utama Jerman, pertumbuhan ekonomi negara tersebut diproyeksikan hanya mencapai 0,1% pada tahun 2025. Angka ini jauh turun dari estimasi sebelumnya yang berada di 0,8%.
Penurunan tajam ini banyak dikaitkan dengan kebijakan proteksionis Amerika Serikat, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang kembali memberlakukan tarif 25% untuk mobil impor, termasuk dari Jerman.
Baca Juga: Santai Hadapi Tarif 32% AS, Krakatau Steel Fokus Ekspansi dan Efisiensi
Dikutip dari laman Xinhua, tarif tersebut mulai berlaku pada 3 April 2025 dan secara langsung menyasar industri otomotif Jerman, yang selama ini menjadi andalan ekspor negara itu.
Sebagai informasi, pada 2024, Jerman mengekspor sekitar 3,4 juta kendaraan baru, dengan 13,1% di antaranya dikirim ke pasar AS.
Maka, ketika AS memperketat masuknya mobil impor, dampaknya langsung terasa di sektor manufaktur Jerman, terutama perusahaan-perusahaan otomotif besar seperti Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa konsekuensi dari tarif ini dapat memangkas PDB Jerman sebesar 0,1% tidak hanya pada 2025, tapi juga berlanjut hingga 2026.
Apalagi, tarif tambahan dari AS yang belum masuk dalam perhitungan saat ini diprediksi bisa memperparah keterlambatan pemulihan ekonomi Jerman.
Kondisi ini memperjelas bahwa ekonomi Jerman tak lagi kebal terhadap gejolak global. Ketergantungan pada ekspor, khususnya ke AS, membuatnya rentan terhadap kebijakan unilateral seperti tarif perdagangan.
Baca Juga: RI Ajak ASEAN Lakukan Negosiasi Bareng Hadapi Tarif Impor AS
Para ekonom memperingatkan bahwa meski upaya diplomasi dagang sedang ditempuh, efek riilnya terhadap pertumbuhan akan lambat terlihat.
Lembaga riset pun menyarankan agar pemerintah Jerman menyesuaikan kebijakan industrinya ke arah yang lebih tangguh terhadap tekanan eksternal, seperti diversifikasi pasar ekspor dan memperkuat rantai pasok domestik.
Sebab, jika tidak ditanggapi dengan cepat dan serius, bukan tidak mungkin tekanan eksternal ini berubah menjadi krisis jangka panjang bagi ekonomi terbesar di Eropa ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










