Akurat

Buntut Tarif Trump, JP Morgan Makin Yakin dengan Kemungkinan Resesi Global

Hefriday | 5 April 2025, 17:51 WIB
Buntut Tarif Trump, JP Morgan Makin Yakin dengan Kemungkinan Resesi Global

AKURAT.CO Pekan ini bisa dibilang salah satu minggu paling menegangkan dalam sejarah ekonomi global. Bahkan, para analis bilang mungkin ini momen terpenting dalam beberapa dekade terakhir. 

Semua dimulai dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor ke level tertinggi dalam lebih dari 100 tahun.
 
Tak lama setelah itu, China membalas dengan tarif tambahan sebesar 34% untuk semua barang asal AS. Boom! Dunia resmi masuk ke babak baru perang dagang global.
 
Dikutip dari Reuters, Sabtu (5/4/2025), langkah saling serang ini langsung bikin pasar saham dunia rontok dan memperbesar peluang resesi global.
 
Bahkan, JP Morgan menyebut langkah tarif Trump ini sebagai kenaikan pajak terbesar di AS sejak 1968.
 
 
Mereka memperkirakan resesi global sekarang lebih mungkin terjadi daripada tidak, dan memperbesar proyeksi atas kemungkinan resesi global, dari semula 40% menjadi 60%.
 
Sementara itu Nasdaq ambruk lebih dari 20% dari posisi tertingginya di bulan Desember, artinya secara teknikal sudah masuk wilayah bear market. 
 
Indeks S&P 500 juga tidak luput dari badai, turun 6% hanya dalam dua hari dan menguapkan sekitar USD5 triliun nilai kapitalisasi pasar. Gila, ini bukan penurunan biasa.
 
Sementara itu, harapan bahwa Ketua Federal Reserve Jerome Powell bakal jadi penyelamat pun pupus.
 
Alih-alih memberi sinyal pemangkasan suku bunga, Powell justru menyampaikan kekhawatiran tentang risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
 
“Wait and see” katanya, tapi pasar jelas tidak sabar dan makin panik.
 
Keputusan Powell bikin investor makin was-was. Banyak pelaku pasar sekarang yakin pemangkasan suku bunga sebanyak empat kali bisa terjadi tahun ini, dimulai sejak bulan Juni. 
 
Bahkan beberapa analis memprediksi, kalau pasar terus anjlok, bukan mustahil The Fed bakal ambil langkah darurat sebelum pertemuan resmi mereka di bulan Mei.
 
Yang membuat situasi ini makin mencekam, krisis kali ini bukan karena bencana alam atau pandemi seperti tahun 2020, tapi disebabkan langsung oleh kebijakan yang disusun secara sadar oleh pemerintahan Trump.
 
Banyak pihak menyayangkan keputusan ini, karena konsekuensinya sudah bisa ditebak sejak awal dan tetap saja dijalankan.
 
Sejak Trump menjabat Januari lalu, total nilai pasar saham AS yang lenyap hampir menyentuh USD8 triliun.
 
Barclays memperkirakan inflasi AS bisa menembus 4% tahun ini, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal akhir justru bisa minus. Kombinasi maut untuk menuju resesi.
 
Efek domino ini juga menjalar ke seluruh dunia. Ekonom Citi memperkirakan pertumbuhan zona euro akan terpangkas sampai satu poin persentase, membuat kawasan itu nyaris masuk resesi. 
 
China juga terancam, dengan pertumbuhan yang diprediksi turun di bawah 5%.
 
Sementara itu, harga minyak ikut terseret turun lebih dari 6% dalam dua hari, dengan Brent crude menyentuh titik terendah dalam empat tahun terakhir di kisaran USD 62 per barel.
 
Tanda-tanda kepanikan juga terlihat dari pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Swiss dua tahun sempat jatuh ke bawah nol persen. 
 
Meskipun ini Swiss adalah negara yang dikenal dengan suku bunga super rendah, tetap saja ini sinyal bahwa investor lebih memilih menyimpan uang mereka di aset super aman daripada ambil risiko.
 
Akhir pekan ini mungkin pasar tutup, tapi para pengambil kebijakan dipastikan tetap sibuk.
 
Komunikasi antara negara-negara besar diprediksi berlangsung intens, karena upaya meredakan ketegangan dagang dan mencari solusi moneter menjadi sangat mendesak.
 
Dan ya, hari Senin nanti kemungkinan akan jadi hari roller coaster lain bagi pasar dunia.
 
Indeks saham dari AS, Eropa, Jepang, hingga ETF teknologi seperti Roundhill ‘Magnificent Seven’ semuanya mencatat pekan terburuk sejak pandemi 2020.
 
Bahkan indeks semikonduktor Philadelphia ambles hingga 40% dari rekor tertingginya di bulan Juli. 
 
Sementara itu, indeks ketakutan Wall Street alias VIX kembali melonjak ke level tertingginya dalam lima tahun terakhir.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa