Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Ketidakpastian Global

AKURAT.CO Pada Sabtu (13/4/2024), Iran meluncurkan rudal dan drone ke Israel. Kejadian ini menambah rumit kondisi global ketika konflik Rusia-Ukraina juga belum mendapatkan jalan tengah perdamaian.
Konflik antarnegara yang semakin memanas akan memberikan derita secara ekomoni dan menambah panjang daftar scaring effect pascapandemi yang dalam tahap pemulihan. Dampak secara global akan memberikan pengaruh trickle down effect terhadap ekonomi nasional.
Dalam konteks ekonomi nasional, perlu dicermati dengan baik dan dimitigasi risiko yang membawa dampak secara langsung, karena bersamaan dengan konflik politik global ini, rupiah juga terus mengalami penurunan nilai mencapai Rp16.000 per dolar.
Bahkan Menteri BUMN, Erick Thohir, memprediksi dolar akan cenderung lama bertengger di atas Rp16.000 dan menginstruksikan BUMN untuk membeli dolar.
Baca Juga: Protes Kerjasama dengan Israel, Google Pecat 28 Karyawan
Kepanikan Kementerian BUMN ini diredam oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Pak Airlangga Hartarto, yang menyatakan bahwa Indonesia masih mempunyai cadangan devisa yang cukup kuat, lebih dari USD144 miliar.
Menjaga psikologi pasar seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kondisi konflik geopolitik dan ketidakstabilan ekonomi global, menimbulkan paling tidak dua hal yang harus dimitigasi.
Pertama, terganggunya rantai pasok ekonomi, yang akan mengakibatkan kenaikan harga atas komoditas impor, termasuk bahan baku, minyak, maupun ongkos logistik.
Hal ini akan memicu kenaikan harga pokok penjualan (HPP) sehingga akan mengeskalasi inflasi. Sepanjang tahun 2023, inflasi di Indonesia masih dalam rentang kendali sesuai dengan kerangka ekonomi makro yang disusun, dan secara agregat di akhir tahun 2023 hanya di kisaran 2,6 persen.
Inflasi sepanjang tahun 2024 diproyeksikan 2,5 persen plus minus 1 persen, artinya inflasi masih bisa ditoleransi sampai dengan 3,5 persen. Kondisi kenaikan harga komoditas impor akan memberikan sentimen negatif dalam inflasi.
Baca Juga: MK Dalami 14 Amicus Curiae, Sudah Diserahkan dan Dibaca Hakim
Hal kedua, adalah kebijakan ekonomi Amerika imbas kondisi geopolitik yang ada, yaitu cenderung akan menahan tingkat suku bunga The Fed.
Sebelumnya pasar mempunyai ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan. Kebijakan moneter Bank Sentral Amerika ini menjadi patron dominan Bank Indonesia (BI) dalam membuat kebijakan moneter nasional.
Ketika tingkat suku bunga The Fed tinggi, akan terjadi potensi crowding out atau capital outflow sehingga semakin memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, tingkat suku bunga tinggi, akan mengurangi likuiditas keuangan di kegiatan perekonomian. Kondisi yang dilematis dari sisi moneter.
Selanjutnya perlu kita lihat indikator-indikator ekonomi makro Indonesia, untuk mengukur ketahanan dalam mengahadapi ketidakpastian global ini.
Paling tidak ada empat hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, tren pertumbuhan ekonomi. Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang cukup agresif pascapandemi, bahkan di atas 5 persen.
Tahun 2023 mencapai angka 5,05 persen dan diproyeksikan akan mencapai kisaran 5,2 persen secara agregat di akhir 2024. Kedua, Inflasi.
Dengan selisih ekspor-impor yang masih positif, potensi eskalasi inflasi akibat bahan baku impor, diprediksi masih akan dalam rentang daya tahan inflasi, dan sampai akhir tahun 2024 tidak melebihi 3,5 persen.
Baca Juga: Hormati Imbauan Prabowo, Gen KAMI Ikut Batal Gelar Aksi di MK
Ketiga, PDB (Produk Domestik Bruto) perkapita. Pada 2023 Indonesia mempunyai PDB sebesar Rp20.892,4 triliun (nomor 16 besar dunia) dan jumlah penduduk sekitar 280 juta orang (nomor 4 besar dunia), sehingga PDB perkapita Indonesia mencapai Rp75 juta atau setara USD4.919. Dengan PDB yang masih nomor 16, sedangkan jumlah penduduk nomor 4, maka potensi ekonominya masih sangat besar.
Keempat, keseimbangan primer keuangan negara. Kondisi neraca keuangan negara masih dalam keseimbangan primer yang positif, artinya total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran hutang, masih positif.
Hanya, yang perlu dicermati adalah, ketika pemerintah membuat proyeksi nilai tukar rupiah dalam kisaran Rp15.000, maka pembayaran hutang luar negeri akan mengalami kenaikan, ketika rupiah terus melemah dibandingkan dolar.
Selanjutnya, pemerintah perlu fokus dalam tiga hal utama untuk penguatan ekonomi dalam negeri. Yaitu: hilirisasi, orientasi ekspor dan substitusi impor, serta peningkatan kualitas investasi yang bisa lebih menyerap tenaga kerja.
Baca Juga: Prabowo Minta Aksi di MK Dibatalkan, TKN: Khawatir Gesekan dengan Massa Paslon Lain
Sebenarnya program ini sudah menjadi bagian program asta cita Prabowo Subianto yang menjadi presiden terpilih.
Dengan beberapa indikator yang ada, *ekonomi nasional masih cenderung bagus dan bertahan positif dalam ketidakpastian global,* sepanjang pemerintah konsisten mendorong program-program yang pro dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Penulis: Ajib Hamdani, Analis Ekonomi Apindo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










