AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 28 poin (0,17%) ke level Rp16.735,5 pada perdagangan Kamis (20/11/2025) usai ditekan sejumlah sentimen eksternal dan internal.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan dari sisi eksternal, meningkatnya skeptisisme di antara para pejabat Federal Reserve (Fed) tentang pemangkasan suku bunga berikutnya pada bulan Desember mengaburkan prospek kebijakan moneter.
"Karena para pejabat masih terpecah antara risiko inflasi yang masih ada dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja, para pedagang mengurangi ekspektasi untuk pelonggaran lebih lanjut," ujarnya.
Dalam rilis notulen rapat FOMC pada bulan Oktober terungkap bahwa sebagian besar peserta menilai penurunan suku bunga lebih lanjut kemungkinan akan tepat seiring waktu, tetapi beberapa mengindikasikan bahwa mereka tidak memandang penurunan suku bunga pada bulan Desember sebagai hal yang tepat.
Baca Juga: Rupiah ke Level Rp16.700 an, Gubernur BI: Masih Sejalan dengan Negara Mitra Dagang dan Regional
Sebagian besar peserta rapat mencatat bahwa penurunan suku bunga lebih lanjut dapat menambah risiko inflasi yang lebih tinggi menjadi berlarut-larut atau dapat disalahartikan sebagai kurangnya komitmen terhadap target inflasi 2%.
"Banyak peserta berpendapat bahwa berdasarkan pandangan mereka, mempertahankan suku bunga tidak berubah selama sisa tahun ini adalah langkah yang tepat," imbuhnya.
Hari ini fokus pasar adalah pada laporan ketenagakerjaan bulan September yang tertunda, yang dapat memberikan wawasan tentang kesehatan pasar tenaga kerja AS dan memberikan lebih banyak petunjuk tentang arah suku bunga AS.
Para ekonom memperkirakan jumlah tenaga kerja akan naik sekitar 50 ribu, naik dari kenaikan 22 ribu yang tercatat pada bulan Agustus. Angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat dengan cepat mengubah ekspektasi pasar untuk pelonggaran suku bunga lebih lanjut.
Secara terpisah, laporan minggu ini mengindikasikan bahwa para pejabat AS dan Rusia telah menggodok proposal baru yang bertujuan untuk mengakhiri konflik di Ukraina.
Laporan Reuters pada hari Rabu menyebutkan bahwa AS telah memberi tahu Presiden Volodymyr Zelenskiy bahwa Ukraina harus menerima rancangan garis besar perdamaian AS yang mengharuskan Kyiv menyerahkan wilayah dan beberapa persenjataan.
Dari sisi internal, Bank Indonesia memperkirakan transaksi berjalan pada 2025 akan berada dalam kisaran surflus 0,1% hingga defisit atau current account deficit (CAD) 0,7% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Proyeksi tersebut mencerminkan fundamental eksternal Indonesia yang dinilai tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan
- 10Indonesia dan Mesir Tegaskan Solusi Dua Negara Kunci Perdamaian Palestina







