Kriteria Memilih Pemimpin yang Baik Menurut Nabi

AKURAT.CO Mendekati pemilihan umum, perdebatan tentang kepemimpinan kembali mencuat di tengah masyarakat.
Menjadi seorang pemimpin bukanlah tugas yang ringan, karena bertanggung jawab besar atas arah dan kebijakan, terutama saat memimpin sebuah negara dengan jumlah penduduk yang besar, bukan hal yang sepele.
Baca Juga: Gubernur BI Lantik 28 Pemimpin Baru di Kantor Pusat dan Perwakilan
Lantas, bagaimana kriteria mencari sosok pemimpin yang baik menurut Nabi? Berikut penjelasannya!
Dikutip dari NU Online, setidaknya terdapat beberapa kriteria memilih pemimpin yang baik menurut Nabi.
Tidak rakus dan tamak
Keinginan berlebihan dan nafsu yang tidak terkendali merupakan karakter negatif yang seharusnya tidak melekat pada jiwa seorang pemimpin.
Keinginan berlebihan dan kerakusan bisa membawa pada perilaku yang tidak jujur saat menjalankan kepemimpinan, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa pemimpin yang tidak jujur tidak akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah.
Terkait hal tersebut, al-Wallawi dalam Dzahirah al-‘Uqba menjelaskan:
ومعنى الْحَدِيث: أن منْ طلب الإمارة، فأُعطيها تُركت إعانته عليها، منْ أجل حرصه. (وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا) أي أعانك الله تعالى، وألهمك الحقّ، حَتَّى تسعد فِي الدنيا والآخرة.
Artinya: “Makna hadis tersebut adalah siapa pun yang meminta kepemimpinan dan dikabulkan, maka Allah akan menghilangkan pertolongan karena kerakusannya. Adapun lafaz hadis [Dan jika kamu diberikan kepemimpinan tanpa diminta, maka kamu akan mendapatkan pertolongan], maksudnya adalah Allah SWT akan menolongmu dan mengilhamimu dengan kebenaran, sehingga kamu dapat bahagia di dunia dan akhirat.” (Muhammad ibn ‘Ali al-Wallawi, Dazhirah al-‘Uqba fi syarh Sunan al-Nasa’i al-Mujtaba, Dar al-Mi’raj al-Dauliyah, juz 39, halaman 235).
Memiliki sifat amanah dan bertanggung jawab
Sifat amanah dan tanggung jawab menjadi landasan esensial yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin.
Kedua sifat ini memiliki dampak yang besar terhadap keputusan yang diambilnya, cara ia memandang dirinya dalam menangani masalah yang menjadi tanggung jawabnya, serta kemampuannya memerhatikan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ
الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Dari ‘Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah setiap dari kalian adalah seorang pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin orang banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, budak juga seorang pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”
Ahli di bidangnya
Seorang pemimpin harus memiliki keahlian yang mumpuni, terutama dalam merangkai tata kelola negara yang akan membawa stabilitas bagi negara dan rakyatnya di beragam sektor seperti keamanan, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.
Memberikan kepercayaan kepada mereka yang tidak berkeahlian dalam bidangnya dapat menjadi pertanda keruntuhan dan ketidakstabilan yang merugikan. Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظَرْ السَّاعَةَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Artinya: “Apabila sifat Amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat.” Orang itu bertanya, “Bagaimana hilangnya amanah itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari).
Dicintai dan mencintai rakyatnya
Seorang pemimpin ideal juga dicintai oleh rakyatnya dan memiliki kasih sayang yang tulus terhadap mereka.
Kedekatan emosional dan kepedulian yang tulus terhadap kebutuhan, harapan, serta kesejahteraan rakyat menjadi landasan utama dalam kepemimpinannya. Sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
خِيارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ ويُحِبُّونَكُمْ، ويُصَلُّونَ علَيْكُم وتُصَلُّونَ عليهم، وشِرارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ويُبْغِضُونَكُمْ، وتَلْعَنُونَهُمْ ويَلْعَنُونَكُمْ
Artinya: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Hadis riwayat Imam Muslim).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









