Jelang Debat Capres-cawapres, Berikut Etika Melangsungkan Debat dalam Islam

AKURAT.CO Menjelang Pemilu 2024, jadwal terkait agenda debat capres-cawapres telah resmi dikeluarkan KPU dan akan dilangsungkan sebanyak lima kali dengan berbagai ketentuan di dalamnya.
Menyambut pelaksanaan debat capres, para calon diharapkan tidak hanya mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan-pertanyaan di dalamnya, melainkan turut berusaha menciptakan debat yang sehat dan damai sesuai dengan etika dalam aturan hukum maupun agama.
Debat capres sendiri dilakukan dengan tujuan mengadakan diskusi serta adu argumen untuk mendapatkan hasil atau kesimpulan terbaik terhadap suatu isu.
Maka dari itu, untuk memperkecil kemungkinan terjadinya perselisihan, penting bagi kedua sisi untuk memperhatikan etika berdebat dalam pelaksanaannya.
Baca Juga: Bawaslu Desak KPU Taati Aturan Debat Capres
Dilansir bincangsyariah.com, etika berdebat dalam Islam turut dijelaskan dalam Kitab Adab Al-Ikhtilaf fil Islam oleh Thaha Jabir Fayyad Al-Alwani, sebagai berikut:
1. Berprasangka baik kepada lawan debat
Dalam memulai sebuah debat, seorang muslim harus mengedepankan prasangka baik atau husnuzan terhadap lawannya. Dengan sikap ini, seseorang tidak akan gelap mata dengan kebenaran yang diungkapkan lawan dan tidak menyangkal atau menolak pendapat tersebut.
2. Menghargai pendapat lawan
Menghargai pendapat lawan juga termasuk ke dalam etika dalam berdebat. Dalam hal ini, seorang muslim harus mampu menghargai pendapat lawannya, selama pendapat tersebut jelas kebenaran dan dalilnya, sehingga lawan debat turut menghargai pendapat yang kita utarakan.
3. Tidak memaksakan kehendak
Dalam etika berdebat, memaksakan kehendak bukan termasuk salah satu diantaranya. Dengan sifat ini, artinya seseorang mendorong dan memaksa orang lain untuk menyetujui pendapatnya dan tidak membiarkan pendapat yang lain untuk menyela.
4. Lapang dada
Berlapang dada dalam debat merupakan bentuk beretika baik ketika menerima kritik dari lawan bicara dan menerimanya dengan penuh kebesaran hati. Meski kritik tersebut belum tentu benar, namun menerima kritik tetap penting dilakukan sebagai bahan evaluasi dalam berpendapat.
Baca Juga: Debat Capres-cawapres Bukan Forum Obral Janji
5. Menggunakan kata yang baik
Menggunakkan kata-kata yang baik kepada lawan bicara dalam suatu debat juga penting dilakukan. Meski memberikan kritik dan sanggahan, penggunaan kata yang bagus dengan penyampaian yang baik dalam debat dapat mencegah terjadinya sakit hati dan ketersinggungan.
6. Tidak berkata kasar
Menggunakkan kata kasar, cacian, sindiran, atau ejekan dalam debat dilarang dilakukan karena dianggap sebagai sikap merendahkan dan ingin menjatuhkan lawan secara verbal. Dalam etika debat, sudah sepantasnya adu argumen dilakukan secara logis dan bukan dengan perselisihan.
7. Tidak saling menjatuhkan
Perdebatan bukanlah arena untuk saling menjatuhkan antar lawan bicara atau mencari dukungan sebagai argument paling benar, melainkan sama-sama berusaha menemukan kebenaran dan menetapkan pandangan terbaik terhadap suatu isu.
8. Komitmen menjunjung kebenaran
Ketika debat selesai dilakukan, maka kedua belah pihak harus sama-sama berkomitmen untuk menjunjung tinggi hasil debat sebagai sebuah kesepakatan bersama. Hal ini dilakukan tanpa memikirkan argument siapa yang diakui kebenarannya karena hasil debat adalah milik bersama.
Berdasarkan penjelasan tersebut, etika dalam berdebat menjadi aspek penting untuk dilakukan dan diperhatikan bersama oleh setiap peserta debat untuk menghindari adanya perselisihan dan tetap menjaga perdamaian antar keduanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









