Akurat

Benang Kusut Akademi Crypto Milik Timothy Ronald

M. Rahman | 17 Januari 2026, 18:53 WIB
Benang Kusut Akademi Crypto Milik Timothy Ronald

AKURAT.CO Nama finfluencer sekaligus pemilik Akademi Crypto, Timothy Ronald kembali viral usai korban investasi kripto Manta yang selalu direkomendasikannya bersuara.

Adalah Said, Gen Z usia belasan tahun dan Younger, Gen Z Usia dua puluhan tahun yang berani bersuara dan akhirnya membuat laporan polisi atau LP ke Polda atas dugaan penipuan oleh Akademi Crypto milik Timothy Ronald bersama rekannya, Kalimasada.

Said dan Younger hanyalah segelintir Gen Z yang kebetulan menjadi korban investasi kripto Manta dengan kerugian masing-masing Rp300 juta dan Rp3 miliar. Bak fenomena gunung es, masih banyak member Akademi Crypto lainnya yang jumlahnya ribuan dengan biaya keanggotaan Rp300 miliar ini turut mengalami kerugian.

"Rp3 miliar itu saya wirausaha. Keluarga dan istri saya awalnya enggak tahu saya investasi di Manta. Tapi dengan adanya kejadian ini, istri saya marah dan jadi enggak percaya lagi sama saya sampai sekarang. Saya sudah mengaku salah ke istri, sempat digoblokin sampai sakit. Saya kan baru married, sampai rencana mau punya anak dipending," cerita Younger dalam sebuah podcast.

Baca Juga: OJK Jelaskan Sebab Transaksi Kripto Melandai Meski Jumlah Investor Bertambah

"Ada juga member yang disuruh buy and hold terus. Sampai dia pinjol bahkan dicari-cari debt collector. Pas komplain ke Timothy Ronald, eh dia malah ke Polda Metro Jaya kirim foto selfie sambil mengirim pesan ancaman 'sampai berjumpa cil'," timpal Said.

Seperti diketahui, buy and hold adalah strategi membeli sebuah aset kripto dan menyimpannya dalam jangka panjang tanpa sering melakukan transaksi jual beli, dengan harapan nilainya naik di masa depan. Manta sendiri merupakan salah satu kripto yang paling digembar-gemborkan Akademi Crypto, selain Render dan GMT.

Modus Akademi Crypto Milik Timothy Ronald

Lantas, apa modus yang digunakan Akademi Crypto untuk menjerat para Gen Z yang menjadi calon korbannya? Berikut Akurat.co rangkum berdasarkan penuturan Said dan Younger dalam podcast tersebut.

Keanggotaan Seumur Hidup dengan Iming-iming Benefit

Diceritakan Younger dan Said, mereka mengikuti lifetime membership seharga Rp50 juta, dengan berbagai benefit yang dijanjikan termasuk 1 on 1 meeting dengan Timothy Ronald, margin call atau coaching mingguan bersama para pembimbing yang Akademi Crypto klaim sebagai professor dan sebagianya.

 

"Tapi enggak pernah ketemu langsung (baik online maupun offline) dengan Timoty Ronald. Terus pas kami tanya klaim profesor dari luar negeri dan kami minta kasih lihat sertitifikat (lisensi)nya malah dikatain 'anak anjing lo', jadi ada intimidasi," ujar Said.

Ancaman itu, kata Said, berlanjut di DM atau pesan langsung dan komentar di Medsos maupun pesan WA oleh para buzzer ataupun clipper Akademi Crypto. "Ngapain all in, fomo, pantesan rungkad," cerita Said.

 

Strategi Buy and Hold Manta dengan Janji-janji Surga

Younger mengaku secara portofolio atau akumulasi PNL, ia tak pernah untung dari berinvestasi di Manta. Manta memang pernah ATH ke level USD4,08 pada 12 Maret 2024 namun setelahnya terjun bebas bahkan menyentuh USD0,07.

Younger berinvestasi di Manta ketika harganya di level USD3,3 namun tak sempat profit taking karena arahan Akademi Crypto adalah hold and buy. Kala itu, para pembimbing atau pelatihnya selalu mengajarkan bahwa altcoin akan segera terbang 18.000% dalam waktu dekat, termasuk Manta yang juga akan terbang 300-500%.

"Saya teriming-imingi 300-500 persen itu. Kami juga enggak bisa cut loss karena diancam. Ada waktu di Senayan mereka bilang ketahuan cut loss manta kami hajar di tempat," kenang Younger.

Younger juga meyakini, pihak-pihak Akademi Crypto mengambil keuntungan dari permainan harga. "Saya rasa dia untung karena di kripto kan prinsipnya supply demand. Saat harga Manta masih USD3 semua org beli, sudah ATH di USD4 dia jual, profit taking. Ini lah yang kami enggak terima, setiap dia profit taking kami enggak dikasih tahu," tutur Younger.

Jual Personal Branding Raja Kripto

Di komunitas aset digital, Timothy Ronald dikenal luas dan sering dijuluki sebagai raja kripto Indonesia. Ia aktif sebagai influencer, edukator, dan trader kripto, serta dikenal gemar menampilkan gaya hidup mewah atau flexing di media sosial.

Sebagai figur yang lekat dengan gelar raja kripto, Timothy juga kerap menampilkan kekayaan pribadinya seperti koleksi mobil mewah McLaren Senna. Total aset kripto Timothy Ronald disebut melampaui angka Rp1 triliun dan mayoritas dari total aset kripto tersebut didominasi oleh Bitcoin (BTC) dan aset digital fundamental lainnya.

Namun di balik semua pencapaiannya, calon investor jarang meragukan aspek legalitas atau lisensi dari seorang Timothy Ronald. Seolah-olah, semua kekayaannya tersebut mengafirmasi keahliannya sebagai finfluencer.

"Saya percaya dengan personal brandingnya sebagai raja kripto," aku Younger.

Dengan membawa berbagai penyesalannya, Younger dan Said pun melaporkan Timothy ke Polda dengan harapan tidak akan ada lagi Gen Z yang menjadi korban seperti dirinya di kemudian hari.

Tanggapan Pakar Kripto

Pendiri & CEO Astronacci International, Dr. Gema Goeyardi, yang juga hadir dalam podcast tersebut turut menyesalkan beberapa hal yang dilakukan Akademi Crypto, termasuk mentor yang tidak mendisiplinkan asumsi liar akan cuan oleh para member dan kurangnya etika ketika membernya mendapat musibah.

"Ada etika atau moral kita sebagai financial advisor itu dilarang mengatakan kata pasti. Kemudian kalau ada yang tidak terdeliver dari sisi layanan, tidak tercapai apa yang dijanjikan ke member, kalau saya akan minta maaf dan kasih tahu ke mereka bahwa ini ada trouble, solusinya begini, begitu. Tidak terdeliver itu karena mereka dapat windfall, dapat klien banyak tapi tidak dikelola secara professional karena mungkin tujuan awalnya mengeruk sebanyak–banyaknya," papar Gema.

Gema juga menyayangkan klaim profesor oleh Akademi Crypto dengan begitu gampangnya, padahal itu hanya diberikan kepada mereka yang telah menempuh gelar S3 atau Doktor oleh pihak Universitas.

"Profesor itu ada jenjangnya, asisten profesor, associate professor baru professor. Ini membius masyarakat oh profesor ini guru gue. Semua orang kalau coba-coba ngaku-ngaku diri l0 profesor, gue kejar pasti karena gue dapetin asisten profesor aja enggak mudah. Selama ini saya diam, tapi when you fake it, im gonna take you hard," tukas Gema.

Hal lain yang disesalkan Gema adalah kurangnya kesadaran investor akan pentingnya lisensi. Meski tak menjanjikan keuntungan, namun sertifikat menjanjikan tidak akan ada mens rea (niat jahat) untuk menjerumuskan orang. 

"Pas mereka bilang CFE (certified fraud examiner) kerja sama gue, sorry to say CFE yang senior-senior itu sakit hati lho. Dalam jokes nya itu, banyak yang sakit hati karena CFE itu bukan barang untuk Anda bercandain. Mereka untuk fundamental, kalua itu dibuat jokes itu enggak elok, enggak etis," ujar Gema.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa