Insiden Flash Crash Bitcoin di Binance Ungkap Tingginya Risiko Pasangan Trading Likuiditas Tipis
Hefriday | 27 Desember 2025, 12:02 WIB

AKURAT.CO Insiden anjloknya harga Bitcoin secara mendadak terjadi pada pasangan trading BTC/USD1 di bursa kripto Binance. Dalam peristiwa yang berlangsung sangat singkat tersebut, harga Bitcoin sempat merosot hingga ke level USD24.000 sebelum kembali pulih ke kisaran normal di atas USD87.000.
Dikutip berdasarkan data pasar Binance, Sabtu (27/12/2025) flash crash ini hanya terjadi selama beberapa detik dan tidak memengaruhi harga Bitcoin pada pasangan utama seperti BTC/USDT.
Dikutip dari beberapa sumber, Sabtu (27/12/2025) sejumlah pengamat menilai waktu kejadian turut berperan. Insiden ini terjadi bertepatan dengan periode libur Natal, saat volume perdagangan cenderung menurun signifikan. Dalam kondisi likuiditas tipis, transaksi berukuran besar dapat memicu pergerakan harga ekstrem dalam waktu singkat.
Pendiri Alphractal, Joao Wedson, menjelaskan bahwa fenomena serupa kerap muncul ketika pasar berada dalam fase bearish. Pada fase tersebut, arus modal yang masuk ke pasar cenderung melemah, sehingga meningkatkan potensi dislokasi harga pada pasangan tertentu.
“Likuiditas rendah pada beberapa pasangan trading di berbagai exchange telah menyebabkan volatilitas tajam. Hal ini memicu dislokasi harga sementara dan masalah arbitrase. Kondisi seperti ini lebih umum terjadi saat pasar berada dalam fase bearish,” ujar Joao Wedson.
Penjelasan lain datang dari komunitas investor yang mengaitkan insiden ini dengan program promosi USD1 di Binance. Bursa tersebut sebelumnya meluncurkan penawaran imbal hasil hingga 20% untuk simpanan USD1 dengan batas maksimal USD50.000 per pengguna.
Akun pemantau pasar WuBlockchain melaporkan lonjakan signifikan pasokan USD1 setelah promosi tersebut diluncurkan. Dalam hitungan jam, suplai USD1 meningkat lebih dari 45,6 juta token, dengan total kapitalisasi pasar menembus USD2,79 miliar. Arus masuk modal yang mendadak bahkan sempat mendorong harga USD1 naik sekitar 0,2%.
Investor kripto dengan akun X, bernama Punk menjelaskan bahwa banyak pelaku pasar mencoba memanfaatkan peluang arbitrase. Sebagian investor meminjam USD1 lalu menjualnya secara bertahap di pasar spot, sementara yang lain memilih melepasnya melalui pasangan BTC/USD1 yang likuiditasnya relatif tipis.
Kondisi tersebut membuat pasar tidak mampu menyerap tekanan jual secara optimal. Akibatnya, harga BTC/USD1 runtuh seketika sebelum akhirnya kembali ke level wajar. “Ini hanyalah fluktuasi kecil di tengah pasar yang lesu. Kejadian serupa masih bisa muncul ke depannya,” ujar Punk.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan apakah flash crash serupa dapat terjadi pada pasangan utama seperti BTC/USDT. Sejumlah analis menilai kemungkinan tersebut sangat kecil mengingat likuiditas BTC/USDT jauh lebih besar.
Analis kripto Maartunn mengutip data dari Kaiko yang menunjukkan bahwa market depth 1% Bitcoin di Binance terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan pada puncak Oktober 2025, kedalaman pasar tersebut sempat melampaui USD600 juta, lebih tinggi dibandingkan periode sebelum krisis 2022.
Dengan volume perdagangan spot harian rata-rata mendekati US$20 miliar dan akumulasi transaksi ratusan miliar dolar, pasangan BTC/USDT dinilai memiliki daya tahan kuat terhadap guncangan sesaat.
Meski demikian, kejadian ini langsung menyedot perhatian pelaku pasar karena menunjukkan risiko yang melekat pada pasangan trading dengan likuiditas rendah, khususnya yang baru diluncurkan.
Grafik pergerakan harga menunjukkan adanya wick tajam pada pasangan BTC/USD1. Namun, anomali tersebut tidak memicu likuidasi besar maupun kerusakan sistem perdagangan. Harga kembali stabil tanpa dampak lanjutan terhadap pasar kripto secara keseluruhan.
Grafik pergerakan harga menunjukkan adanya wick tajam pada pasangan BTC/USD1. Namun, anomali tersebut tidak memicu likuidasi besar maupun kerusakan sistem perdagangan. Harga kembali stabil tanpa dampak lanjutan terhadap pasar kripto secara keseluruhan.
Baca Juga: Trump Beri Grasi ke CZ, Eks CEO Binance
USD1 sendiri merupakan stablecoin baru yang diterbitkan oleh World Liberty Financial, sebuah proyek yang disebut mendapat dukungan dari keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kehadiran stablecoin baru ini membuat pasangan BTC/USD1 relatif belum memiliki kedalaman pasar yang memadai dibandingkan pasangan mayor.
USD1 sendiri merupakan stablecoin baru yang diterbitkan oleh World Liberty Financial, sebuah proyek yang disebut mendapat dukungan dari keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kehadiran stablecoin baru ini membuat pasangan BTC/USD1 relatif belum memiliki kedalaman pasar yang memadai dibandingkan pasangan mayor.
Dikutip dari beberapa sumber, Sabtu (27/12/2025) sejumlah pengamat menilai waktu kejadian turut berperan. Insiden ini terjadi bertepatan dengan periode libur Natal, saat volume perdagangan cenderung menurun signifikan. Dalam kondisi likuiditas tipis, transaksi berukuran besar dapat memicu pergerakan harga ekstrem dalam waktu singkat.
Pendiri Alphractal, Joao Wedson, menjelaskan bahwa fenomena serupa kerap muncul ketika pasar berada dalam fase bearish. Pada fase tersebut, arus modal yang masuk ke pasar cenderung melemah, sehingga meningkatkan potensi dislokasi harga pada pasangan tertentu.
“Likuiditas rendah pada beberapa pasangan trading di berbagai exchange telah menyebabkan volatilitas tajam. Hal ini memicu dislokasi harga sementara dan masalah arbitrase. Kondisi seperti ini lebih umum terjadi saat pasar berada dalam fase bearish,” ujar Joao Wedson.
Penjelasan lain datang dari komunitas investor yang mengaitkan insiden ini dengan program promosi USD1 di Binance. Bursa tersebut sebelumnya meluncurkan penawaran imbal hasil hingga 20% untuk simpanan USD1 dengan batas maksimal USD50.000 per pengguna.
Akun pemantau pasar WuBlockchain melaporkan lonjakan signifikan pasokan USD1 setelah promosi tersebut diluncurkan. Dalam hitungan jam, suplai USD1 meningkat lebih dari 45,6 juta token, dengan total kapitalisasi pasar menembus USD2,79 miliar. Arus masuk modal yang mendadak bahkan sempat mendorong harga USD1 naik sekitar 0,2%.
Investor kripto dengan akun X, bernama Punk menjelaskan bahwa banyak pelaku pasar mencoba memanfaatkan peluang arbitrase. Sebagian investor meminjam USD1 lalu menjualnya secara bertahap di pasar spot, sementara yang lain memilih melepasnya melalui pasangan BTC/USD1 yang likuiditasnya relatif tipis.
Kondisi tersebut membuat pasar tidak mampu menyerap tekanan jual secara optimal. Akibatnya, harga BTC/USD1 runtuh seketika sebelum akhirnya kembali ke level wajar. “Ini hanyalah fluktuasi kecil di tengah pasar yang lesu. Kejadian serupa masih bisa muncul ke depannya,” ujar Punk.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan apakah flash crash serupa dapat terjadi pada pasangan utama seperti BTC/USDT. Sejumlah analis menilai kemungkinan tersebut sangat kecil mengingat likuiditas BTC/USDT jauh lebih besar.
Analis kripto Maartunn mengutip data dari Kaiko yang menunjukkan bahwa market depth 1% Bitcoin di Binance terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan pada puncak Oktober 2025, kedalaman pasar tersebut sempat melampaui USD600 juta, lebih tinggi dibandingkan periode sebelum krisis 2022.
Dengan volume perdagangan spot harian rata-rata mendekati US$20 miliar dan akumulasi transaksi ratusan miliar dolar, pasangan BTC/USDT dinilai memiliki daya tahan kuat terhadap guncangan sesaat.
Kendati demikian, insiden BTC/USD1 menjadi pengingat penting bagi trader untuk selalu memperhatikan likuiditas pasangan trading guna menghindari slippage ekstrem dan potensi kerugian tak terduga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








