Akurat

Pasar Kripto Mulai Menghijau Tapi Bitcoin Gagal Tembus Level Psikologis USD90.000

Hefriday | 20 Desember 2025, 16:27 WIB
Pasar Kripto Mulai Menghijau Tapi Bitcoin Gagal Tembus Level Psikologis USD90.000

AKURAT.CO Pasar kripto mencatat penguatan pada perdagangan Sabtu (20/12/2025), meskipun pergerakan harga Bitcoin (BTC) masih tertahan di bawah level psikologis USD90.000. 

Kenaikan ini terjadi di tengah sikap hati-hati investor global yang dibayangi perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya minat terhadap aset aman.
 
Dikutip berdasarkan data CoinMarketCap, Sabtu (20/12/2025), kapitalisasi pasar kripto global naik 1,86% menjadi USD2,98 triliun. Bitcoin tercatat menguat 1,39% ke level USD88.186 per koin atau setara Rp1,47 miliar dengan asumsi kurs Rp16.697 per USD.
 
Selain Bitcoin, mayoritas aset kripto utama juga bergerak di zona hijau. Ethereum (ETH) naik 2,02 persen ke USD2.980, Binance Coin (BNB) menguat 1,96% menjadi USD856, sementara Solana (SOL) melonjak 3,33% ke USD126.
 
Penguatan signifikan juga terjadi pada aset kripto berbasis komunitas. Dogecoin (DOGE) tercatat naik 3,81% ke USD0,13, sedangkan XRP menguat 2,91% ke level USD1,89 per koin. 
 
 
Pergerakan positif ini mencerminkan masih adanya minat investor terhadap pasar kripto, meski sentimen global belum sepenuhnya pulih. Namun demikian, menurut laporan CoinTelegraph, pergerakan harga Bitcoin kembali tersendat di kisaran USD90.000. 
 
Investor global cenderung bersikap defensif menyusul melemahnya data ketenagakerjaan AS serta perlambatan pertumbuhan ekonomi, sehingga mendorong peralihan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.
 
Dalam sebulan terakhir, Bitcoin tercatat berulang kali gagal bertahan di atas level USD92.000. Kondisi tersebut memicu beragam spekulasi di pasar, meski pelaku industri menilai tekanan harga lebih dipengaruhi faktor makroekonomi ketimbang isu manipulasi atau sentimen negatif dari sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
 
Arah pergerakan Bitcoin juga terlihat kontras dengan pasar saham AS. Indeks S&P 500 saat ini hanya berjarak sekitar 1,3% dari rekor tertingginya, sementara Bitcoin masih terkoreksi sekitar 30% dari puncaknya di level USD126.200 yang tercapai pada Oktober lalu.
 
Perbedaan arah ini mencerminkan meningkatnya sikap risk-off investor global di tengah ketidakpastian ekonomi. Dalam kondisi tersebut, emas kembali menguat dan dipilih sebagai aset lindung nilai utama, menggeser peran Bitcoin yang selama ini kerap disebut sebagai “emas digital”.
 
Tekanan terhadap pasar kripto turut diperkuat oleh kebijakan moneter bank sentral AS. Sepanjang 2025, The Federal Reserve (The Fed) masih melanjutkan pengurangan neraca atau balance sheet reduction, yang berdampak pada menyusutnya likuiditas di pasar keuangan global.
 
Meski pada Desember mulai muncul sinyal pelonggaran seiring melemahnya pasar tenaga kerja dan konsumsi AS, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin bank sentral akan segera mengambil langkah pelonggaran agresif. Ketidakpastian ini membuat aset berisiko, termasuk kripto, tetap berada dalam tekanan.
 
Di sisi lain, sejumlah perusahaan ritel besar AS melaporkan pelemahan kinerja. Target memangkas proyeksi laba kuartal IV, Macy’s memperingatkan tekanan margin akibat inflasi, sementara Nike mencatat penurunan penjualan kuartalan yang membuat sahamnya merosot tajam. Melemahnya belanja konsumen ini turut memperburuk sentimen pasar.
 
Ekspektasi pemangkasan suku bunga AS juga semakin menurun. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan FOMC akhir Januari hanya sebesar 22%, turun dari pekan sebelumnya. 
 
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,15%, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap aset aman.
 
Tekanan global tak hanya datang dari AS. Melemahnya permintaan obligasi pemerintah Jepang turut meningkatkan risiko penularan ke pasar global. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun menembus 2%, level tertinggi sejak 1999, di tengah kontraksi ekonomi Jepang sebesar 2,3% secara tahunan pada kuartal III.
 
Dengan ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi dan melemahnya data tenaga kerja AS, ruang penguatan Bitcoin dinilai masih terbatas. Meski korelasi dengan pasar tradisional mulai menurun, aset kripto terbesar dunia tersebut masih sulit melepaskan diri dari tekanan sentimen makro dalam waktu dekat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa