BitMine Staking ETH Jumbo, Target Kuasai 5 Persen Suplai Ethereum

AKURAT.CO BitMine, perusahaan pemegang Ethereum (ETH) korporasi terbesar di dunia, mulai mengubah strategi pengelolaan aset kriptonya. Perusahaan tersebut dilaporkan telah melakukan staking sebagian dari treasury ETH miliknya yang bernilai jumbo, menandai langkah baru dalam optimalisasi neraca keuangan berbasis aset digital.
Berdasarkan laporan analis on-chain Ember CN, dikutip Minggu (28/12/2025) BitMine menyetor sekitar 74.880 ETH ke dalam kontrak staking Ethereum. Dengan harga pasar saat ini, nilai setoran tersebut diperkirakan mencapai sekitar USD219 juta.
Jumlah ETH yang di-staking itu memang masih tergolong kecil dibandingkan total kepemilikan BitMine. Saat ini, perusahaan tersebut memegang sekitar 4,07 juta ETH dengan nilai hampir USD12 miliar, menjadikannya entitas korporasi dengan kepemilikan Ethereum terbesar secara global.
Baca Juga: Didorong Upgrade Jaringan, Proyeksi Harga ETH Melambung di 2026
Meski porsinya terbatas, langkah ini dinilai signifikan karena mencerminkan perubahan pendekatan BitMine terhadap pengelolaan treasury. Jika sebelumnya ETH lebih banyak diperlakukan sebagai aset pasif, kini mulai diarahkan menjadi sumber pendapatan aktif melalui mekanisme staking di jaringan Ethereum.
Secara teoritis, apabila BitMine melakukan staking atas seluruh kepemilikan ETH-nya dengan estimasi imbal hasil tahunan (annual percentage yield/APY) sekitar 3,12%, perusahaan berpotensi memperoleh sekitar 126.800 ETH per tahun.
Dengan valuasi saat ini, potensi pendapatan tersebut setara sekitar USD371 juta per tahun.
Model bisnis seperti ini berpotensi menjadikan BitMine sebagai public crypto vehicle yang menghasilkan yield dan terhubung langsung dengan consensus layer Ethereum. Artinya, valuasi perusahaan tidak semata-mata bergantung pada fluktuasi harga ETH, tetapi juga pada arus pendapatan dari aktivitas validasi jaringan.
Baca Juga: Efek Halloween di Pasar Kripto, AAVE dan ETH Konsisten Cuan Tiap Tahun
Namun, strategi staking ETH juga membawa risiko finansial dan operasional tersendiri. Berbeda dengan Bitcoin yang dapat disimpan di cold storage dan relatif mudah dilikuidasi, Ether yang di-staking terikat oleh aturan protokol terkait penarikan dana.
Validator yang ingin keluar dari jaringan Ethereum harus melewati antrean keluar (exit queue). Dalam kondisi pasar yang sangat volatil, mekanisme ini berpotensi menunda akses terhadap likuiditas, sehingga meningkatkan eksposur perusahaan terhadap risiko pergerakan harga.
Jika terjadi krisis likuiditas atau tekanan pasar mendadak, keterikatan dana dalam staking dapat membuat perusahaan sulit melakukan penyesuaian cepat. Risiko ini menjadi pembeda utama antara sekadar memegang ETH sebagai aset cadangan dan menggunakannya sebagai modal produktif di jaringan blockchain.
Meski demikian, BitMine tetap menargetkan strategi jangka panjang yang agresif. Perusahaan menyatakan ambisinya untuk mengakumulasi dan melakukan staking hingga 5% dari total suplai Ethereum secara keseluruhan.
Untuk mendukung rencana tersebut, BitMine tengah mengembangkan platform staking internal bernama Made in America Validator Network (MAVAN). Platform ini dijadwalkan meluncur pada awal 2026 dan diklaim akan menyediakan infrastruktur staking yang aman dan berstandar tinggi.
Ketua BitMine, Thomas Lee, menyatakan perusahaan terus mencatatkan kemajuan dalam pengembangan MAVAN. Ia menegaskan platform tersebut ditargetkan menjadi solusi staking “best-in-class” yang akan memperkuat posisi BitMine di ekosistem Ethereum.
Di sisi lain, rencana ini juga menuai kritik dari sejumlah pihak. Konsolidasi kepemilikan ETH dalam jumlah besar di bawah satu kerangka validator berbasis Amerika Serikat dinilai berpotensi meningkatkan risiko sentralisasi jaringan.
Saat ini, BitMine diperkirakan mengendalikan sekitar 3,36% dari total suplai ETH. Dengan skala tersebut, MAVAN dinilai berpotensi menghadapi tekanan regulasi, termasuk kepatuhan terhadap sanksi dari US Office of Foreign Assets Control (OFAC), yang pada akhirnya bisa berdampak pada netralitas proses validasi transaksi di jaringan Ethereum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










