Bitcoin Turun Tajam: Ini Penyebab Utama dan Proyeksi Pasar Kripto Menjelang 2026

AKURAT.CO Bitcoin kembali mengalami tekanan besar pada perdagangan Jumat, 21 November 2025. Harga aset kripto terbesar di dunia itu sempat jatuh hingga menyentuh US$86.325,81, level yang belum pernah terlihat dalam lebih dari enam bulan terakhir, sebelum sedikit pulih ke kisaran US$86.990,11. Penurunan tajam ini memicu kekhawatiran baru di kalangan investor, terutama terkait arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Koreksi mendalam tersebut muncul setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Pasar yang sebelumnya berharap The Federal Reserve (The Fed) segera memangkas suku bunga pada Desember, kini kembali ragu. Situasi global ini kemudian merembet ke pasar aset digital, termasuk Indonesia.
Data Ketenagakerjaan AS Pengaruhi Ekspektasi The Fed
Ekspektasi pasar berubah drastis setelah ekonomi AS dikabarkan menambah 119.000 tenaga kerja pada September, jauh lebih baik dibanding proyeksi 50.000. Lonjakan data tenaga kerja membuat pasar menilai The Fed mungkin belum cukup yakin untuk melonggarkan kebijakan moneter.
CME FedWatch mencatat peluang pemangkasan suku bunga pada Desember hanya sekitar 40 persen — angka yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Karena suku bunga sangat berpengaruh pada aset berisiko seperti kripto, wajar jika Bitcoin langsung terseret turun.
Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Volume Turun, Pengguna Justru Bertambah
Fluktuasi global ini tidak hanya memengaruhi pasar internasional, tetapi juga membawa dampak ke Indonesia. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan bahwa dinamika global ikut membentuk pola transaksi di pasar domestik. Namun, menariknya, ia menilai kondisi di Indonesia lebih tangguh.
“Volatilitas yang terjadi di pasar global memang memengaruhi aktivitas perdagangan di Indonesia. Namun, menariknya adalah meskipun nilai transaksi turun, jumlah pengguna kripto di Indonesia terus meningkat. Ini menunjukkan kepercayaan dan minat masyarakat terhadap aset digital tetap terjaga, bahkan ketika pasar sedang cooling down," ujar Calvin melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, Jumat, 21 November 2025.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat pernyataan tersebut. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025:
-
Nilai transaksi kripto mencapai Rp409,56 triliun, turun sekitar 13,77 persen dibanding periode yang sama pada 2024.
-
Jumlah pengguna kripto justru naik menjadi 18,61 juta pada September 2025, tumbuh 3,05 persen hanya dalam sebulan.
-
Rata-rata pertumbuhan investor kripto Indonesia konsisten di atas 3 persen setiap bulan.
Tren ini menunjukkan investor domestik tidak meninggalkan pasar, tetapi lebih berhati-hati dalam menambah portofolio baru. Pasar kripto Indonesia tetap punya fondasi kuat meski tekanan global sedang meningkat.
Apakah Pasar Kripto Berada dalam Fase Bearish?
Menurut Calvin, kondisi saat ini lebih menyerupai fase pendinginan, bukan pembalikan tren besar. Ia menegaskan bahwa indikator fundamental seperti aktivitas on-chain, tingkat adopsi, dan geliat pengembang masih stabil.
Calvin menambahkan, “Saat ini kita belum melihat konfirmasi bahwa pasar memasuki fase bearish struktural. Banyak indikator on-chain, adopsi pengguna, dan aktivitas pengembang masih stabil. Kondisinya lebih menggambarkan pendinginan pasar daripada pembalikan tren besar.”
Dengan kata lain, sentimen negatif yang terjadi sekarang belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kripto memasuki siklus turun jangka panjang.
Peran Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Pasar Domestik
Kebijakan dan kesiapan regulasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor lokal. Pemerintah disebut memiliki kontribusi besar melalui:
-
Regulasi perpajakan aset digital
-
Rencana pengembangan bursa aset kripto tambahan
-
Edukasi masyarakat terkait aset digital
Langkah-langkah ini membantu menciptakan ekosistem yang lebih matang dan aman, sehingga investor merasa lebih terlindungi meski pasar global sedang bergejolak.
Proyeksi Pasar Kripto Menjelang 2026
Menjelang akhir 2025, pasar diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi. Sikap “wait and see” akan mendominasi karena pelaku pasar global masih menantikan kepastian dari berbagai faktor makro.
Beberapa faktor penentu arah pasar beberapa kuartal ke depan termasuk:
-
Kebijakan suku bunga The Fed
-
Kondisi geopolitik global
-
Aliran likuiditas internasional
-
Pergerakan modal institusional
Jika kondisi global membaik, potensi penguatan bisa terjadi pada 2026. Penurunan suku bunga, meningkatnya minat risiko investor, hingga masuknya likuiditas baru berpotensi menjadi katalis pemulihan. Selain itu, siklus empat tahunan pasca-halving yang secara historis kerap mendorong kenaikan harga kripto dapat memberi sentimen positif tambahan.
Namun, jika tekanan makro berlanjut, pasar bisa bergerak sideways lebih lama, bahkan membuka ruang bearish yang lebih berkepanjangan.
Calvin menutup dengan pesan yang tetap optimis, “Investor perlu tetap waspada, melakukan analisis, dan memahami risiko. Namun, kita melihat bahwa minat masyarakat Indonesia terus tumbuh, yang menjadi sinyal positif bahwa ekosistem kripto di Indonesia semakin matang dan siap berkembang dalam jangka panjang.”
Kesimpulan
Penurunan tajam Bitcoin baru-baru ini bukan hanya soal volatilitas pasar, tetapi juga dipicu oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Meskipun pasar global tertekan, Indonesia menunjukkan daya tahan yang cukup baik dengan jumlah investor yang terus meningkat.
Pergerakan kripto hingga 2026 sangat bergantung pada kondisi makro global, sentimen risiko, dan kebijakan regulator. Walau demikian, pondasi ekosistem digital di Indonesia semakin kuat, memberi harapan bahwa industri ini dapat tumbuh lebih matang dalam jangka panjang.
Kalau kamu ingin terus mengikuti perkembangan terbaru soal pasar kripto, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Investor Kripto Terjebak di Zona Extreme Fear 8 Hari Beruntun, Bitcoin Alami Koreksi Terdalam
Baca Juga: Pemicu Bitcoin Terperosok ke Level Terendah dalam 6 Bulan
FAQ
1. Kenapa harga Bitcoin turun tajam pada November 2025?
Penurunan Bitcoin terjadi karena rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut membuat pasar ragu bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada akhir tahun, sehingga mendorong investor keluar dari aset berisiko seperti kripto.
2. Apa hubungan data ketenagakerjaan AS dengan harga Bitcoin?
Data tenaga kerja yang kuat menandakan ekonomi yang “panas”. The Fed cenderung menahan atau menaikkan suku bunga dalam kondisi seperti ini. Suku bunga tinggi membuat aset berisiko kurang menarik sehingga harga Bitcoin tertekan.
3. Bagaimana dampaknya ke pasar kripto Indonesia?
Pasar Indonesia ikut terdampak dari sisi volume transaksi yang menurun. Namun jumlah pengguna dan investor kripto justru terus bertambah, menunjukkan minat masyarakat tetap kuat meski pasar global sedang tidak stabil.
4. Berapa nilai transaksi kripto di Indonesia sepanjang 2025?
Menurut OJK, nilai transaksi kripto di Indonesia mencapai Rp409,56 triliun dari Januari hingga Oktober 2025. Angka ini menurun sekitar 13,77 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
5. Benarkah jumlah investor kripto Indonesia meningkat?
Ya. Jumlah pengguna kripto naik menjadi 18,61 juta pada September 2025, tumbuh 3,05 persen hanya dalam sebulan. Rata-rata pertumbuhan investor konsisten di atas 3 persen setiap bulan.
6. Apakah pasar kripto saat ini sudah masuk fase bearish?
Menurut CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, belum ada tanda kuat bahwa pasar memasuki bearish struktural. Kondisi saat ini lebih menggambarkan fase cooling down atau konsolidasi, bukan pembalikan tren jangka panjang.
7. Faktor apa saja yang memengaruhi arah pasar kripto ke depan?
Beberapa faktor utama meliputi kebijakan suku bunga The Fed, stabilitas geopolitik global, aliran likuiditas internasional, dan masuknya modal institusional. Semua faktor ini sangat menentukan arah harga Bitcoin dan aset digital lainnya.
8. Bagaimana peran pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar kripto Indonesia?
Pemerintah berperan melalui regulasi perpajakan, persiapan bursa kripto tambahan, dan edukasi publik. Langkah ini memperkuat ekosistem aset digital secara keseluruhan.
9. Apakah 2026 berpotensi membawa pemulihan harga kripto?
Potensi pemulihan tetap ada, terutama jika suku bunga mulai turun, minat risiko investor pulih, dan likuiditas baru masuk pasar. Selain itu, siklus pasca-halving historisnya sering memberikan dorongan positif.
10. Apa yang sebaiknya dilakukan investor di tengah kondisi pasar yang tidak pasti?
Investor disarankan tetap berhati-hati, melakukan analisis mandiri, dan memahami risiko. Pergerakan harga yang fluktuatif perlu dihadapi dengan strategi yang matang dan pemantauan rutin terhadap kondisi makro global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









