Pemicu Bitcoin Terperosok ke Level Terendah dalam 6 Bulan

AKURAT.CO Harga Bitcoin kembali tergelincir tajam dan menembus level terendah enam bulan pada perdagangan Selasa (18/11/2025) waktu Asia. Aset kripto terbesar itu jatuh ke posisi USD91.278, menembus area support krusial yang sebelumnya banyak dijadikan patokan pelaku pasar.
Ethereum turut tertekan dan melemah di bawah USD3.000, mengonfirmasi tekanan jual yang meluas di pasar kripto. Penurunan tersebut berlangsung sejalan dengan kinerja pasar keuangan global yang juga mengalami pelemahan terdalam dalam satu bulan terakhir.
Dikutip dari beberapa sumber, Selasa (18/11/2025) data perdagangan menunjukkan Bitcoin anjlok 3,21% pada 17 November, memperlebar koreksi menjadi 27% sejak mencapai rekor tertinggi (all-time high/ATH) pada Oktober lalu. Ethereum mencatat pelemahan lebih dalam yaitu 4,22% ke posisi USD2.978.
Baca Juga: Pasar Kripto Masih Tertekan, Bitcoin Anjlok ke USD90.000 dan SOON Terjun 34 Persen
Aksi jual tidak hanya menimpa dua aset terbesar. Sejumlah altcoin utama mencatatkan koreksi signifikan dalam sepekan terakhir. Solana amblas 22,51%, XRP melemah 16,73%, dan Cardano turun 22,12% dalam tujuh hari terakhir.
Tekanan serupa terjadi di pasar saham global. Indeks S&P 500 merosot 61,70 poin ke level 6.672,41. Nasdaq juga jatuh 192,51 poin ke posisi 22.708,07. Keduanya ditutup di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, situasi yang terakhir kali terjadi pada 2007 untuk S&P dan 1995 untuk Nasdaq.
Dow Jones Industrial Average bahkan sempat turun lebih dari 550 poin menjelang rilis laporan keuangan Nvidia. Analis menilai pergerakan itu sebagai sinyal bearish jangka pendek dengan fokus investor beralih ke sektor kesehatan dan energi.
Pemicu Pelemahan Bitcoin
Tak dipungkiri, sentimen penghindaran risiko (risk-off) yang meluas di pasar keuangan global dan memudarnya harapan penurunan suku bunga AS oleh Federal Reserve turut memperlemah harga bitcoin.
Selain itu, derasnyaa rus jual di pasar ETF Bitcoin spot dan sinyal death cross (ketika rata-rata pergerakan 50 hari jatuh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari), telah memicu kekhawatiran lebih lanjut dan mendorong sentimen pasar ke zona extreme fear
Salah satu peristiwa teknikal penting terjadi ketika Bitcoin menutup gap pada kontrak berjangka CME di kisaran USD92.000. Gap tersebut terbuka sejak April 2025 akibat perbedaan jam operasional antara bursa berjangka dan bursa spot.
Trader kripto DaanCryptoTrades mengonfirmasi penutupan gap tersebut. Meski menilai risiko teknikal telah berkurang, ia mengingatkan bahwa lemahnya permintaan bisa kembali mendorong penurunan lebih dalam. Struktur teknikal Bitcoin hingga kini disebut masih rapuh.
Pelaku pasar kini berada dalam fase kritis. Dengan gap yang sudah tertutup, fokus berikutnya tertuju pada volatilitas dan likuiditas dalam beberapa sesi mendatang untuk melihat apakah tekanan jual melandai atau justru menguat.
Dari sisi makroekonomi, tekanan meningkat setelah Empire State Manufacturing Index mencatat kenaikan ke level 18,7 atau naik delapan poin dari bulan sebelumnya. Data ekonomi yang kuat ini menurunkan probabilitas pemangkasan suku bunga The Federal Reserve pada Desember.
Platform prediksi Polymarket mencatat 55% probabilitas The Fed tidak akan memangkas suku bunga, sementara data CME Group menunjukkan peluang 60% bahwa kebijakan moneter tetap ditahan.
Riset 10X Research melaporkan aktivitas pembeli baru stagnan sejak 10 Oktober. Nada kebijakan Fed yang lebih hawkish menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko likuidasi di pasar.
Indikator sentimen industri juga menuju titik terendah baru. Volume transaksi opsi put tercatat melampaui call dalam 24 jam terakhir, berbeda dari pola normal di mana call biasanya mendominasi. Pergeseran ini menandakan trader banyak yang memasang posisi antisipatif terhadap potensi penurunan lanjutan.
Data on-chain dari Glassnode dan Bitfinex menunjukkan kerugian terealisasi (realized loss) mulai menurun, indikasi bahwa investor jangka pendek memasuki fase kapitulasi. Secara historis, fase ini kerap muncul sebelum pasar membentuk titik bawah (bottom). Namun, pemulihan jangka panjang tetap membutuhkan akumulasi dari investor jangka panjang.
Analis kripto Benjamin Cowen memperkirakan Bitcoin dapat menguji exponential moving average 200 minggu di rentang USD60.000–USD70.000. Meski begitu, ia menilai pasar masih berpotensi mencatat relief rally jangka pendek.
Prediksi bearish bermunculan dari sejumlah trader, termasuk Roman Trading yang menyebut USD76.000 sebagai area support berikutnya. Ia menilai struktur teknikal Bitcoin mengalami kerusakan sehingga membuka risiko penurunan lebih dalam.
Dalam waktu dekat, Bitcoin akan diuji apakah mampu bertahan di atas level USD90.000. Arah pasar disebut sangat bergantung pada data ekonomi AS, kebijakan bank sentral, hingga arus masuk dana institusional.
Untuk saat ini, volatilitas tinggi dan ketidakpastian masih membayangi pasar. Baik kubu bullish maupun bearish masih menunggu sinyal baru untuk menentukan fase pergerakan berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










