Merasa Gaji UMR Indonesia Terlalu Rendah dan Tidak Cukup? Ini 5 Faktor Utamanya

AKURAT.CO Upah Minimum Regional (UMR) di Indonesia kerap jadi sorotan—terutama di kalangan anak muda yang baru masuk dunia kerja, dan seringkali dirasa tidak cukup. Bayangkan saja, upah minimum DKI Jakarta tahun 2025 sebesar Rp5,39 juta. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa untuk hidup sejahtera di Jakarta, dibutuhkan pengeluaran sebesar Rp14 juta-Rp16 juta setiap bulannya.
Apa Itu UMR dan Kenapa Penting Dibahas?
UMR adalah batas minimum upah yang wajib dibayar perusahaan kepada pekerja. Fungsinya? Untuk menjamin standar hidup layak. Tapi realitanya, banyak pekerja—terutama generasi muda—merasa UMR yang berlaku belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar harian.
Berdasarkan data dan riset terkini, berikut ini adalah sederet faktor utama yang bikin UMR di Indonesia sulit naik signifikan.
1. Pasar Kerja Padat, Daya Tawar Pekerja Melemah
Struktur pasar kerja di Indonesia tergolong dualistik—jumlah angkatan kerja terus naik, tapi lapangan kerja formal tidak bertambah seimbang. Akibatnya?
Terjadi kelebihan pasokan tenaga kerja, sehingga banyak orang rela menerima upah rendah demi mendapat pekerjaan.
Menurut International Labour Organization (ILO), kondisi ini membuat pengusaha punya daya tawar lebih tinggi dalam menetapkan upah.
Ditambah lagi, mayoritas angkatan kerja justru terserap di sektor informal—tempat di mana aturan UMR sering tidak berlaku optimal menurut studi dari Politeknik Statistika.
2. Mayoritas Bekerja di Sektor Informal, Produktivitas Rendah
Fakta penting lainnya: sekitar 60%–70% pekerja di Indonesia bekerja secara informal—seperti freelance, buruh harian, atau usaha mikro.
Di sektor ini, produktivitas cenderung rendah, fasilitas kerja minim, dan regulasi UMR jarang diterapkan. Ini berdampak langsung ke:
-
Rata-rata upah nasional menjadi lebih rendah
-
Tekanan terhadap kenaikan UMR sektor formal pun ikut melemah
Riset dari DPR dan STIS mengungkapkan bahwa produktivitas sektor informal masih jauh tertinggal dibanding sektor formal.
3. Produktivitas SDM Masih Rendah Secara Umum
Kalau dibandingkan secara regional, produktivitas tenaga kerja Indonesia tertinggal jauh. Berdasarkan data dari Asian Productivity Organization (APO):
Indonesia hanya menempati peringkat ke-11 dari 20 negara anggota APO pada 2019.
Rendahnya investasi di bidang pendidikan dan pelatihan, khususnya di daerah, membuat keterampilan tenaga kerja terbatas. Hasilnya? Perusahaan cenderung menetapkan upah minimum karena menyesuaikan dengan quality of skill yang ada menurut hasil riset di ResearchGate dan DPR.
Baca Juga: UMR Tertinggi di Indonesia 2025, Apakah Ada Daerahmu?
Baca Juga: Termasuk UMP, Pelaku Usaha Jarang Dilibatkan Pemerintah dalam Penetapan Kebijakan
4. Formula UMR yang Tidak Memberi Ruang Kenaikan Besar
Sistem penghitungan UMR diatur lewat PP 36/2021, yang rumusnya kira-kira seperti ini:
UMRₙ = UMRₜ + [UMRₜ × (Inflasiₜ + ΔPDBₜ)]
Dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang cenderung moderat, kenaikan UMR per tahun rata-rata hanya 5%–8%. Ini artinya, sulit bagi upah minimum untuk mengalami lompatan signifikan.
Menurut Mekari Talenta dan JDIH BPK, formula ini menjaga stabilitas ekonomi, tapi efeknya terasa lambat bagi para pekerja.
5. Lemahnya Pengawasan, Pelanggaran UMR Masih Marak
Walau sanksi bagi perusahaan yang tidak patuh UMR sudah diatur dalam hukum, pelaksanaannya masih jauh dari maksimal.
Banyak pelanggaran tidak ditindak karena kurangnya jumlah pengawas ketenagakerjaan dan rendahnya pelaporan.
Data dari Ombudsman menunjukkan bahwa pengawasan yang lemah membuat perusahaan nakal terus beroperasi tanpa tekanan nyata.
Kesimpulan: UMR Rendah Bukan Sekadar Angka
Rendahnya UMR di Indonesia adalah hasil dari banyak faktor: mulai dari struktur pasar kerja, dominasi sektor informal, rendahnya produktivitas SDM, formula regulasi, hingga lemahnya pengawasan.
Bagi kamu yang sedang memulai karier atau aktif mengikuti isu ketenagakerjaan, memahami akar persoalan ini penting—agar bisa ikut menyuarakan perubahan, atau setidaknya mengambil langkah cerdas dalam merencanakan karier dan penghasilan.
Kalau kamu tertarik dengan perkembangan isu UMR dan ketenagakerjaan, pantau terus update selanjutnya di Akurat.co!
Bagikan artikel ini kalau menurutmu penting dibaca orang lain.
Baca Juga: Apa Itu UMK dan UMR? Inilah Artinya, Kepanjangan beserta Perbedaan Keduanya yang Akurat
Baca Juga: Update Gaji Pensiunan PNS Juli 2025, Ada Kenaikan?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









