Cisadane Sawit Raya Bukukan Laba Rp213,36 Miliar di 2024, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Hefriday | 23 Maret 2025, 21:53 WIB

AKURAT.CO PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) mencetak sejarah baru dengan membukukan laba bersih tertinggi sepanjang masa.
Tahun 2024 menjadi momentum penting bagi perusahaan, dengan keuntungan mencapai Rp213,36 miliar, melonjak 46% dibandingkan Rp152,06 miliar pada tahun sebelumnya.
Keberhasilan ini tak lepas dari strategi ekspansi dan efisiensi operasional yang diterapkan secara ketat.
Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis CSRA, Seman Sendjaja, mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi titik krusial bagi pertumbuhan bisnis perusahaan.
Salah satu langkah strategis yang tengah ditempuh adalah pembangunan pabrik kelapa sawit (PMKS) ketiga di Banyuasin, Sumatera Selatan.
"Kami terus fokus pada peningkatan kapasitas produksi dan pengembangan fasilitas, termasuk pembangunan pabrik kelapa sawit (PMKS) ketiga di Banyuasin yang akan mulai beroperasi pada semester kedua 2025. PMKS ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan penjualan dan efisiensi operasional," jelas Seman dalam keterangannya, Minggu (23/3/2025).
Pabrik ini dijadwalkan mulai beroperasi pada semester kedua tahun 2025 dan diharapkan berkontribusi besar terhadap peningkatan produksi serta efisiensi perusahaan.
Dari sisi pendapatan, CSRA mencatat angka Rp1,07 triliun, naik 21,8% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp875,51 miliar.
Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan volume penjualan minyak sawit mentah (CPO) serta harga jual yang lebih baik di pasar global. Tak hanya itu, laba kotor juga mengalami kenaikan sebesar 21,1% menjadi Rp483,86 miliar dari Rp399,58 miliar pada tahun lalu.
Keberhasilan ini juga ditopang oleh efisiensi biaya produksi dan manajemen operasional yang lebih ketat. Marjin laba bersih perusahaan kini mencapai 20,1%, meningkat signifikan dibandingkan 16,7% pada tahun lalu.
Hal ini menunjukkan bahwa CSRA semakin mampu mengelola biaya produksi dengan efektif, sehingga profitabilitasnya makin solid.
Dari sisi neraca keuangan, total aset perusahaan kini mencapai Rp2,25 triliun, meningkat 22,2% dibandingkan Rp1,84 triliun pada akhir 2023. Seiring dengan ekspansi bisnis yang agresif, liabilitas perusahaan juga meningkat menjadi Rp952,72 miliar dari Rp727,69 miliar sebelumnya.
Sementara itu, ekuitas perusahaan tumbuh menjadi Rp1,29 triliun, mengukuhkan posisi keuangan yang lebih kuat.
Meski rasio utang bersih terhadap ekuitas (net gearing ratio) naik sedikit menjadi 0,73x dari sebelumnya 0,65x, struktur modal CSRA tetap dalam kondisi sehat.
Menurut Seman, kondisi ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menarik investor baru serta mengoptimalkan biaya pendanaan di masa depan.
Dengan prospek harga CPO yang diperkirakan naik 7,2% pada tahun 2025 dan produksi nasional yang terus meningkat pasca-El Nino, CSRA tak mau ketinggalan dalam memanfaatkan peluang ini.
Perusahaan telah menyiapkan anggaran belanja modal (Capex) sebesar Rp100 miliar untuk tahun 2025.
Dari jumlah tersebut, 50% akan dialokasikan untuk penyelesaian pembangunan PMKS di Banyuasin, sementara sisanya digunakan untuk ganti rugi tanam tumbuh (GRTT) dan pengembangan lahan baru di Sumatera Selatan.
Selain ekspansi bisnis, CSRA juga memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan melalui program kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kearifan lokal (HEEL).
Tahun ini, perusahaan berhasil memperoleh sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk kebun PT SSG dan PT ABI di Sumatera Selatan.
Tak hanya itu, CSRA juga meraih penghargaan kategori Silver dalam Transparansi Emisi dan Penurunan Emisi Korporasi 2024.
"Kami terus meninjau peluang akuisisi lahan baru agar operasional perusahaan semakin efisien dan terintegrasi dengan baik," tukas Seman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










