Akurat

Telegram Tak Lagi Menarik, Penjahat Siber Mulai Berpindah Platform

Petrus C. Vianney | 15 Desember 2025, 19:35 WIB
Telegram Tak Lagi Menarik, Penjahat Siber Mulai Berpindah Platform

AKURAT.CO Aplikasi perpesanan modern seperti WhatsApp, Telegram dan Signal kerap dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal. Platform ini sering digunakan karena kemudahan akses dan jangkauan penggunanya yang luas.

Kaspersky Digital Footprint Intelligence memantau lebih dari 800 kanal Telegram milik penjahat siber yang diblokir sepanjang 2021-2024. Hasilnya menunjukkan aktivitas ilegal masih ada, tetapi semakin sulit dijalankan secara berkelanjutan.

Telegram sebelumnya dianggap menarik karena kerangka bot dan fitur otomatisasi yang tersedia. Fitur ini membuat operasional ilegal dapat berjalan cepat dan minim campur tangan manusia.

Satu bot dapat menangani permintaan, memproses pembayaran kripto, hingga mengirim data curian atau layanan serangan siber. Aktivitas tersebut bahkan bisa dilakukan ke ratusan pembeli setiap hari.

Selain itu, Telegram menyediakan penyimpanan file tanpa batas waktu. Fitur ini menghilangkan kebutuhan pelaku akan layanan hosting eksternal untuk data curian berukuran besar.

Namun, otomatisasi ini lebih cocok untuk transaksi bernilai rendah dengan volume tinggi. Contohnya penjualan data bocor, kartu perbankan, atau layanan hosting malware.

Untuk transaksi bernilai tinggi yang membutuhkan kepercayaan, pelaku cenderung menghindari Telegram. Perdagangan kerentanan zero-day masih banyak terjadi di forum dark web yang berbasis reputasi.

Peneliti Kaspersky menemukan dua tren utama dalam aktivitas ilegal di Telegram. Umur 'shadow channel' meningkat, sementara tingkat pemblokiran juga melonjak signifikan.

Sejak Oktober 2024, jumlah penghapusan kanal per bulan terus meningkat hingga 2025. Tekanan ini mendorong komunitas bawah tanah seperti BFRepo dan Angel Drainer berpindah ke platform lain.

"Para pelaku kejahatan siber menganggap Telegram sebagai alat yang nyaman untuk berbagai aktivitas berbahaya, tetapi keseimbangan risiko dan manfaatnya jelas bergeser," ujar Vladislav Belousov selaku Analis Jejak Digital Kaspersky, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (15/12/2025).

Untuk meminimalkan risiko, Kaspersky menyarankan:

1. Melaporkan kanal dan bot ilegal
Pengguna dan organisasi disarankan melaporkan kanal serta bot yang terbukti digunakan untuk aktivitas ilegal guna mempercepat moderasi berbasis komunitas.

2. Menggunakan intelijen ancaman lintas web
Pemanfaatan sumber intelijen ancaman dari web surface, deep web dan dark web membantu mendeteksi aktivitas ilegal terbaru sejak dini.

3. Memantau pergeseran aktivitas ilegal
Organisasi perlu memantau perubahan pola dan platform yang digunakan penjahat siber untuk mengantisipasi kemunculan aktivitas berbahaya di layanan lain.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.