Skandal Kuota Haji, KPK Ingatkan Bos Travel yang Mangkir Bisa Dipanggil Paksa

AKURAT.CO Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memeriksa sejumlah saksi dari asosiasi dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) atau biro travel haji, terkait kasus dugaan korupsi dalam penyelenggaraan kuota haji khusus di Kementerian Agama (Kemenag).
Saksi yang dipanggil di antaranya Firman M Nur (Ketua Umum Amphuri), Asrul Aziz Taba (Ketua Umum Kesthuri), M. Firman Taufik (Ketua Umum Himpuh), Syam Resfisdi (Ketua Umum Sapuhi), H. Amaluddin (Komisaris PT Ebad Al Rahman Wisata/Direktur PT Diva Mabruro), Lutfhi Abdul Jabbar (Sekjen Mutiara Haji), serta Moh. Farid Aljawi (Direktur Utama PT Tursina Tours).
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyebut para saksi dimintai keterangan terkait mekanisme pembayaran haji khusus oleh PIHK melalui sistem USER yang dikelola asosiasi. Dalam pemeriksaan tersebut, penyidik juga menemukan indikasi penyalahgunaan kuota petugas haji.
Baca Juga: Kapan Tersangka Kasus Kuota Haji Ditetapkan? Ini Jawaban KPK
"Penyidik mendalami mekanisme pembayaran oleh PIHK serta penggunaan kuota petugas haji yang diduga disalahgunakan," ujar Budi, Kamis (2/10/2025).
Dari tujuh saksi, dua di antaranya tidak hadir, yakni Asrul Aziz Taba dan Moh. Farid Aljawi. KPK pun mengingatkan agar seluruh pihak bersikap kooperatif.
"KPK memiliki kewenangan melakukan upaya paksa, termasuk pencegahan ke luar negeri bagi pihak-pihak yang dibutuhkan keterangannya," tegasnya.
Pemeriksaan ini menjadi bagian dari upaya KPK menelusuri aliran dana dan praktik penyalahgunaan kuota haji khusus. Sejak 9 Agustus 2025, perkara ini telah masuk tahap penyidikan dengan sangkaan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Tipikor juncto Pasal 55 KUHP.
Sejauh ini, penyidik sudah memanggil sejumlah saksi penting, termasuk Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Hilman Latief serta mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Penggeledahan dilakukan di kantor Kemenag, rumah pribadi pejabat, kantor agen travel, hingga kediaman eks Menag.
Baca Juga: KPK Buka Peluang TPPU di Kasus Kuota Haji: Kalau Uang Sudah Dialihkan, Kita TPPU-kan
Dari rangkaian operasi tersebut, KPK menyita uang tunai Rp26,3 miliar, empat mobil, lima bidang tanah dan bangunan, serta dua rumah mewah di Jakarta Selatan senilai Rp6,5 miliar.
Skandal ini bermula dari pembagian kuota haji tambahan sebanyak 20.000 orang pada 2024. Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2019, tambahan kuota seharusnya 92 persen untuk haji reguler dan 8 persen untuk haji khusus. Namun, melalui SK Menag Nomor 130 Tahun 2024, pembagian justru diubah menjadi 50:50 persen.
Akibat kebijakan tersebut, sekitar 8.400 kuota haji reguler (42 persen) dialihkan menjadi haji khusus. KPK menduga kuat ada persengkongkolan antara pejabat Kemenag dan agen travel, yang disertai aliran dana ilegal.
Berdasarkan perhitungan sementara, kerugian negara akibat praktik ini ditaksir mencapai lebih dari Rp1 triliun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








