Akurat

Awal Puasa 2026 Berpotensi Beda, Ini Perkiraan 1 Ramadan Versi Pemerintah, BRIN, Muhammadiyah dan NU

Lufaefi | 14 Februari 2026, 15:26 WIB
Awal Puasa 2026 Berpotensi Beda, Ini Perkiraan 1 Ramadan Versi Pemerintah, BRIN, Muhammadiyah dan NU

AKURAT.CO Informasi mengenai perkiraan awal Ramadan 1447 Hijriah atau puasa 2026 mulai banyak dicari masyarakat. Sejumlah lembaga dan organisasi Islam telah merilis prediksi masing-masing, meski pemerintah belum menetapkan secara resmi melalui sidang isbat.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia, awal Ramadan diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Data astronomi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konjungsi dan posisi hilal menjadi faktor penentu.

“Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima' adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi,” tulis BMKG dalam laporannya.

Baca Juga: Gratis Sepanjang Tahun, Ini Cara Ikut Kelas Al-Qur’an di Masjid Nabawi

Menurut BMKG, pada 17 Februari 2026 ketinggian hilal di Indonesia masih berada di bawah horizon, berkisar antara -2,41° di Jayapura hingga -0,93° di Tua Pejat. Sementara pada 18 Februari 2026, ketinggian hilal sudah positif, antara 7,62° di Merauke hingga 10,03° di Sabang, dan elongasi telah memenuhi kriteria visibilitas.

Indonesia mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni imkanur rukyat terpenuhi jika hilal mencapai ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Prediksi serupa juga disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Koordinator Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, memperkirakan awal Ramadan berpotensi ditetapkan pada 19 Februari 2026.

“Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan 'hilal lokal' dan 'hilal global',” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada 17 Februari saat magrib, posisi hilal masih di bawah ufuk sehingga tidak mungkin dirukyat.

“Kementerian Agama dan sebagian besar ormas Islam menggunakan kriteria 'hilal lokal'... Jadi, awal Ramadan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026,” jelasnya.

Namun, jika menggunakan pendekatan hilal global, awal Ramadan bisa berbeda.

“Muhammadiyah menggunakan 'hilal global', yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun dan konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru, maka besoknya masuk awal bulan... maka awal Ramadan ditetapkan 18 Februari 2026,” urai Thomas.

Baca Juga: Muhammadiyah Tegaskan Merokok Haram dan Membatalkan Puasa Ramadan

Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H melalui Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025. Berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada Rabu, 18 Februari 2026.

Adapun Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini belum mengumumkan keputusan resmi dan biasanya menunggu hasil rukyatul hilal pada akhir Syaban. Meski demikian, mengacu pada prediksi kalender internal NU, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dengan adanya perbedaan metode hisab dan rukyat, potensi perbedaan awal puasa tetap terbuka. Keputusan resmi pemerintah akan diumumkan melalui sidang isbat menjelang akhir bulan Syaban 1447 Hijriah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi