Belajar dari Rasulullah SAW saat Musibah Datang; Tetap Tegar dan Menguatkan Doa

AKURAT.CO Musibah merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Datangnya bisa dalam berbagai bentuk, mulai dari bencana alam, kehilangan harta, hingga peristiwa yang mengguncang rasa aman.
Dalam situasi seperti ini, Islam tidak mengajarkan kepanikan apalagi keputusasaan. Sebaliknya, Islam menawarkan teladan ketegaran dan kekuatan spiritual yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.
Sepanjang kehidupan beliau, Rasulullah SAW menghadapi berbagai musibah berat. Mulai dari wafatnya orang-orang tercinta, tekanan sosial, ancaman fisik, hingga situasi genting yang menguji keimanan. Namun, satu hal yang konsisten tampak dari sikap beliau adalah ketenangan, kesabaran, dan keteguhan dalam memperkuat doa kepada Allah SWT.
Ketika menghadapi musibah atau keadaan yang tidak diinginkan, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk segera mengembalikan hati kepada Allah dengan doa dan pengakuan akan ketetapan-Nya. Doa yang dianjurkan ketika tertimpa musibah adalah sebagai berikut:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.”
(HR. Muslim)
Baca Juga: Doa agar Selamat dari Cuaca Ekstrem, Insya Allah Manjur
Doa ini bukan sekadar ungkapan kesedihan, tetapi pernyataan iman yang sangat dalam. Seorang muslim diajak untuk menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kesadaran ini menjadi fondasi ketegaran saat menghadapi ujian hidup.
Selain menguatkan doa, Rasulullah SAW juga mencontohkan pentingnya menjaga lisan dan hati ketika musibah datang. Beliau melarang sikap berlebihan dalam kesedihan yang dapat menjerumuskan pada keluhan terhadap takdir. Sebaliknya, beliau mendorong umatnya untuk bersabar dan berharap pahala dari Allah.
Dalam situasi yang menakutkan atau penuh ketidakpastian, Rasulullah SAW juga memperbanyak doa perlindungan, di antaranya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan manusia.”
(HR. Bukhari)
Doa ini menunjukkan bahwa musibah tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk meminta perlindungan secara menyeluruh, agar tetap kuat secara mental, spiritual, dan sosial.
Ketegaran Rasulullah SAW saat musibah datang bukan berarti menafikan rasa sedih. Beliau menangis ketika kehilangan, merasa berat ketika diuji, namun tidak pernah kehilangan harapan kepada Allah. Inilah keseimbangan iman yang patut diteladani: mengakui rasa manusiawi, tetapi tidak larut dalam keputusasaan.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem? Ini Amalan Islam agar Selamat dari Musibah
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tekanan dan ketidakpastian, teladan Rasulullah SAW ini menjadi sangat relevan. Musibah apa pun yang datang seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat hubungan dengan Allah, memperbanyak doa, dan menumbuhkan kesabaran.
Pada akhirnya, belajar dari Rasulullah SAW saat musibah datang mengajarkan satu pesan utama: ketegaran lahir dari keyakinan, dan kekuatan batin tumbuh dari doa. Dengan hati yang terhubung kepada Allah SWT, seorang muslim akan mampu melewati musibah dengan sikap yang lebih tenang, dewasa, dan penuh harap. Insya Allah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









