5 Banjir Besar yang Pernah Terjadi di Masa Kekhilafan Islam

AKURAT.CO Banjir besar bukanlah fenomena eksklusif zaman modern. Dalam sejarah peradaban Islam, berbagai musibah alam—termasuk banjir dahsyat—pernah terjadi dan tercatat dalam karya para sejarawan Muslim klasik. Catatan ini penting bukan hanya sebagai arsip sejarah, tetapi juga sebagai pelajaran tentang ketangguhan sosial, kepemimpinan, dan cara umat Islam memaknai musibah dalam bingkai iman.
Pada masa kekhilafan Islam, banjir sering kali berdampak besar karena menyentuh pusat-pusat peradaban, kota suci, dan wilayah pertanian strategis. Berikut lima peristiwa banjir besar yang pernah terjadi dalam sejarah Islam.
1. Banjir Besar di Madinah pada Masa Khalifah Umar bin Khattab
Salah satu banjir besar tercatat terjadi di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Hujan turun sangat lebat hingga menyebabkan banjir yang merusak rumah-rumah dan fasilitas umum. Peristiwa ini dikenal dalam sebagian riwayat sejarah sebagai tahun ujian berat bagi penduduk Madinah.
Khalifah Umar tidak hanya memimpin secara administratif, tetapi juga turun langsung membantu rakyat. Ia mengoordinasikan bantuan, memastikan distribusi makanan, dan memperkuat solidaritas sosial. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana kepemimpinan Islam menghadapi bencana dengan tanggung jawab moral dan empati sosial.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem? Ini Amalan Islam agar Selamat dari Musibah
2. Banjir Sungai Nil pada Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Sungai Nil merupakan nadi kehidupan Mesir. Namun, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tercatat banjir besar yang menyebabkan kerusakan lahan pertanian dan mengganggu kehidupan masyarakat. Dalam sejarah, fluktuasi ekstrem Sungai Nil sering membawa dampak serius, baik kekeringan maupun banjir.
Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin yang responsif dan adil. Dalam menghadapi dampak banjir, ia memerintahkan pengelolaan distribusi pangan dan bantuan negara agar rakyat tidak kelaparan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa musibah alam direspons dengan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
3. Banjir Dahsyat di Makkah yang Merusak Masjidil Haram
Sejarah mencatat beberapa kali Masjidil Haram terdampak banjir besar akibat hujan ekstrem di wilayah Makkah. Salah satu yang paling dikenal terjadi pada masa Dinasti Umayyah dan kembali berulang pada masa Abbasiyah. Air bah bahkan pernah masuk ke area Ka’bah dan merusak sebagian bangunan di sekitarnya.
Banjir ini menjadi peristiwa besar karena Makkah merupakan pusat spiritual umat Islam. Setelah banjir surut, para khalifah memerintahkan renovasi besar-besaran terhadap Masjidil Haram, sekaligus memperbaiki sistem drainase kota. Peristiwa ini menunjukkan bahwa bahkan tempat paling suci pun tidak lepas dari ujian alam.
4. Banjir Besar di Baghdad pada Masa Kekhilafan Abbasiyah
Baghdad, sebagai ibu kota Kekhilafan Abbasiyah, beberapa kali dilanda banjir besar akibat meluapnya Sungai Tigris. Salah satu banjir terparah terjadi pada abad ke-10 M, menyebabkan ribuan rumah terendam dan aktivitas ekonomi lumpuh total.
Catatan sejarawan seperti Ibn al-Jawzi menyebutkan bahwa banjir ini menimbulkan krisis sosial yang serius. Namun, negara tetap berupaya mengendalikan dampak dengan membuka gudang pangan dan membantu warga terdampak. Banjir Baghdad menjadi contoh nyata kerentanan kota besar terhadap bencana alam, bahkan pada puncak kejayaan peradaban Islam.
Baca Juga: Doa agar Selamat dari Cuaca Ekstrem, Insya Allah Manjur
5. Banjir di Andalusia pada Masa Kekuasaan Islam
Wilayah Andalusia juga mengalami banjir besar pada masa kekuasaan Islam, terutama akibat hujan ekstrem dan meluapnya sungai-sungai besar seperti Guadalquivir. Banjir ini merusak pertanian dan infrastruktur kota, yang menjadi tulang punggung ekonomi Andalusia.
Meski demikian, sistem irigasi dan tata kota yang relatif maju membantu pemulihan pascabanjir. Sejarawan mencatat bahwa pengalaman menghadapi bencana turut mendorong inovasi teknis dalam pengelolaan air di wilayah tersebut.
Kelima peristiwa ini menunjukkan bahwa umat Islam sejak masa kekhilafan telah hidup berdampingan dengan risiko bencana alam. Musibah tidak dipandang semata sebagai hukuman, tetapi sebagai ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran, kepemimpinan yang adil, dan solidaritas sosial.
Belajar dari sejarah, banjir besar di masa kekhilafan Islam mengajarkan satu hal penting: kemajuan peradaban tidak menghapus kemungkinan bencana, tetapi nilai-nilai iman, kepedulian, dan tanggung jawab kolektif mampu memperkuat daya tahan masyarakat dalam menghadapi ujian apa pun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









