Akurat

Sejarah Islam: Demo Besar di Baghdad karena Menghina Sahabat Nabi, Pelaku Dibekingi Polisi

Lufaefi | 31 Agustus 2025, 08:00 WIB
Sejarah Islam: Demo Besar di Baghdad karena Menghina Sahabat Nabi, Pelaku Dibekingi Polisi

AKURAT.CO Sejarah Islam tidak hanya dipenuhi dengan kisah kejayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga catatan tentang dinamika sosial yang mengguncang masyarakat.

Salah satu peristiwa yang jarang disinggung namun penting dicatat adalah demonstrasi besar yang terjadi di Baghdad pada abad keempat Hijriah.

Peristiwa ini direkam oleh sejarawan terkenal Ibnu al-Jauzi dalam karyanya Al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam (jilid 16, halaman 139).

Aksi massa ini dipicu oleh penghinaan terhadap sahabat Nabi Muhammad SAW. Sosok yang melakukan penghinaan tersebut dikenal di kalangan masyarakat, tetapi ironisnya justru mendapat perlindungan dari seorang kepala polisi.

Ketidakadilan ini membakar amarah masyarakat Baghdad. Mereka menilai, jika hukum tidak ditegakkan terhadap orang yang menghina sahabat Nabi, maka hal itu akan menjadi preseden buruk bagi kehormatan Islam dan menimbulkan perpecahan di tengah umat.

Maka, turunlah massa dalam jumlah besar ke jalan-jalan Baghdad. Mereka melakukan protes keras, menuntut agar pelaku penghinaan segera ditangkap dan diadili.

Baca Juga: Doa untuk Negeri agar Dijauhkan dari Perpecahan dan Kekacauan

Demonstrasi ini berlangsung dengan intensitas tinggi, hingga menjadi salah satu catatan besar tentang gelombang protes rakyat dalam sejarah Islam klasik.

Dari peristiwa ini, ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik. Pertama, penghormatan terhadap sahabat Nabi adalah prinsip yang dijaga dengan serius oleh umat Islam sejak generasi awal.

Sahabat Nabi adalah generasi yang langsung menerima bimbingan Rasulullah, sehingga penghinaan kepada mereka dianggap sebagai serangan terhadap fondasi umat.

Kedua, peristiwa ini menunjukkan bahwa masyarakat Muslim sejak dulu memiliki kesadaran sosial dan keberanian untuk melawan ketidakadilan, terutama ketika aparat justru melindungi pihak yang bersalah.

Namun, peristiwa ini juga menyimpan pesan agar perjuangan menegakkan kebenaran tidak berujung pada tindakan yang justru merugikan masyarakat luas. Islam menegaskan bahwa menolak kezaliman adalah kewajiban, tetapi harus dilakukan dengan tetap menjaga prinsip keadilan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu. (QS. An-Nisa: 135)

Ayat ini menekankan pentingnya keadilan dalam segala kondisi, bahkan ketika melibatkan pihak berkuasa. Masyarakat Baghdad pada abad ke-4 H mencontohkan keberanian itu dengan menolak perlindungan aparat terhadap pelaku penghinaan sahabat.

Baca Juga: Demonstrasi di Zaman Rasulullah SAW, Ini Etika dan Aturannya dalam Islam

Sejarah demo besar di Baghdad ini menjadi pengingat bahwa suara rakyat tidak bisa dipadamkan ketika menyangkut kehormatan agama dan prinsip keadilan.

Ia juga mengajarkan bahwa setiap generasi Muslim memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga martabat agama dari pelecehan, sekaligus mengawal agar hukum ditegakkan dengan jujur tanpa pandang bulu.

Dengan cara inilah, peradaban Islam dapat terus berdiri kokoh di atas nilai keadilan dan kebenaran.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.