Akurat

Asal-usul Kitab Diba’i Menjadi Budaya Nusantara dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Fajar Rizky Ramadhan | 26 Agustus 2025, 08:00 WIB
Asal-usul Kitab Diba’i Menjadi Budaya Nusantara dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

AKURAT.CO Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Nusantara hampir tidak bisa dilepaskan dari tradisi pembacaan kitab Maulid Diba’i.

Teks karya ulama besar asal Yaman ini sudah begitu mengakar dalam masyarakat muslim Indonesia, dibacakan dalam berbagai kesempatan keagamaan, terutama pada bulan Rabi’ul Awal.

Namun, bagaimana asal-usul kitab Diba’i bisa sampai ke Nusantara dan menjadi bagian dari budaya perayaan Maulid?

Asal-usul Kitab Diba’i

Kitab Maulid Diba’i disusun oleh al-Imam Abdurrahman bin Ali ad-Diba’i (w. 944 H/1537 M), seorang ulama ahli hadis yang berasal dari Yaman.

Beliau dikenal sebagai tokoh berilmu luas dan sangat mencintai Rasulullah SAW. Dalam karyanya ini, Imam ad-Diba’i mengisahkan kelahiran Nabi, silsilah keluarganya, serta berbagai peristiwa penting yang menggambarkan keutamaan dan kemuliaan beliau. Kitab ini juga sarat dengan doa, shalawat, dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Libur Panjang September 2025, Ada Libur Maulid Nabi Muhammad SAW

Secara tekstual, Maulid Diba’i termasuk dalam genre sastra religius Islam yang berkembang di dunia Arab pada abad pertengahan. Gaya bahasanya puitis, mudah dilagukan, dan kaya makna spiritual.

Karena itu, kitab ini cepat menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara, melalui jalur perdagangan, dakwah, dan mobilitas ulama.

Masuknya ke Nusantara

Tradisi membaca Maulid Diba’i diyakini dibawa oleh para ulama Yaman dan Hadramaut yang berdakwah ke Nusantara sejak abad ke-16.

Jejak hubungan antara Yaman dan Nusantara sangat kuat, terlihat dari komunitas Arab-Hadrami yang bermukim di pesisir Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Melalui jaringan ulama dan tarekat, kitab Diba’i menjadi salah satu media dakwah yang efektif, karena selain berisi ilmu agama, ia juga dikemas dalam bentuk bacaan yang menyentuh hati.

Seiring berjalannya waktu, kitab ini menyatu dengan tradisi lokal. Di Jawa, misalnya, pembacaan Diba’i sering diiringi dengan gamelan, tahlilan, dan kenduri.

Di Sulawesi, tradisi ini dilaksanakan dalam acara barzanji dengan lantunan khas Bugis-Makassar. Di daerah lain, Diba’i dipadukan dengan hadrah dan rebana, menciptakan harmoni antara syair Arab dan seni musik lokal.

Dari Teks Menjadi Budaya

Proses ini menunjukkan bahwa Maulid Diba’i bukan sekadar teks bacaan, tetapi juga menjadi budaya yang hidup. Syariatnya terjaga melalui kandungan doa dan shalawat, sementara ekspresi budayanya hadir dalam bentuk seni, musik, dan tradisi sosial masyarakat. Dengan demikian, kitab Diba’i mengalami transformasi dari teks keagamaan Arab menjadi budaya Islam Nusantara yang khas.

Fungsi sosial Maulid Diba’i di Nusantara pun tidak hanya sebatas ritual. Ia menjadi ruang silaturahmi, wadah dakwah, bahkan identitas kolektif umat Islam Indonesia. Tradisi ini juga meneguhkan watak Islam Nusantara yang damai, penuh cinta, dan menghargai warisan budaya.

Baca Juga: Kalender Hijriyah Bulan Agustus-September 2025

 

Kesimpulannya, asal-usul kitab Maulid Diba’i yang bermula di Yaman lalu menyebar hingga Nusantara menunjukkan betapa Islam dapat berdialog dengan budaya setempat.

Di tangan masyarakat muslim Indonesia, kitab ini bukan hanya dibaca, tetapi juga dihidupkan dalam bentuk tradisi perayaan Maulid yang meriah dan penuh makna.

Dengan demikian, Maulid Diba’i di Nusantara bukan sekadar peninggalan literatur klasik, melainkan warisan peradaban yang memadukan syariat dan budaya. Ia menjadi bukti bahwa Islam dapat menyapa manusia melalui seni, sastra, dan tradisi yang menyatukan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.