Akurat

10 Pahlawan Nasional dari Tokoh Ulama dan Kiai yang Wajib Anda Tahu!

Fajar Rizky Ramadhan | 10 November 2025, 07:00 WIB
10 Pahlawan Nasional dari Tokoh Ulama dan Kiai yang Wajib Anda Tahu!

AKURAT.CO Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar para ulama dan kiai. Mereka bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga penggerak perjuangan kemerdekaan, penyebar ilmu, dan penjaga moral bangsa.

Dalam berbagai daerah, para ulama menjadi tokoh sentral yang memimpin rakyat melawan penjajahan dengan semangat jihad dan cinta tanah air.

Berikut ini sepuluh tokoh ulama dan kiai yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Mereka adalah teladan dalam keilmuan, perjuangan, dan keikhlasan.

1. KH Hasyim Asy’ari (1871–1947)

Pendiri Nahdlatul Ulama ini dikenal sebagai ulama kharismatik yang mengintegrasikan nilai agama dan nasionalisme. Ia mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk melawan penjajahan. Seruan jihadnya menjadi dasar perlawanan heroik yang kemudian melahirkan peringatan Hari Santri Nasional.

2. KH Ahmad Dahlan (1868–1923)

Pendiri Muhammadiyah ini adalah pembaru Islam yang mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan, pendidikan modern, dan kerja sosial. Melalui Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan menanamkan nilai kemajuan Islam yang rasional dan terbuka terhadap modernitas. Ia berjasa besar dalam melahirkan generasi muslim terdidik di Indonesia.

3. KH Abdul Wahid Hasyim (1914–1953)

Putra KH Hasyim Asy’ari ini adalah tokoh muda yang brilian. Sebagai Menteri Agama pertama Indonesia, beliau berperan penting dalam perumusan dasar negara dan memasukkan pendidikan agama ke dalam sistem pendidikan nasional. Visi keagamaannya yang moderat dan kebangsaannya yang kuat menjadikannya teladan bagi generasi muda Islam.

Baca Juga: Teks Doa untuk Upacara Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025

4. KH Zainul Arifin (1909–1963)

Mantan Ketua Umum Partai Masyumi sekaligus tokoh penting dalam Nahdlatul Ulama. Ia berperan dalam perjuangan diplomasi kemerdekaan serta memperjuangkan aspirasi umat Islam di parlemen. Dedikasinya sebagai pemimpin politik yang bersih dan berjiwa santri membuatnya dihormati lintas kalangan.

5. KH Noer Alie (1914–1992)

Dikenal sebagai “Singa Betawi”, KH Noer Alie adalah ulama sekaligus pejuang dari Bekasi yang memimpin laskar-laskar rakyat melawan penjajah Belanda. Ia mendirikan pesantren dan menanamkan semangat jihad yang berpadu dengan cinta tanah air. Namanya kini diabadikan menjadi nama jalan tol di wilayah Bekasi.

6. Syekh Nawawi al-Bantani (1813–1897)

Ulama besar asal Banten ini dikenal di dunia Islam internasional. Karyanya yang mencapai lebih dari seratus kitab digunakan di berbagai pesantren hingga kini. Syekh Nawawi adalah guru dari banyak ulama Nusantara dan menjadi simbol keilmuan Islam yang mendunia. Walau hidup di Makkah, cintanya kepada tanah air tidak pernah padam.

7. KH As’ad Syamsul Arifin (1897–1990)

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Ia dikenal sebagai ulama pejuang yang membantu santri dan masyarakat menghadapi penjajahan. KH As’ad juga berperan besar dalam berdirinya Nahdlatul Ulama di Jawa Timur bagian timur. Spirit perjuangannya masih hidup di pesantren hingga kini.

8. KH Ahmad Sanusi (1888–1950)

Ulama asal Sukabumi ini adalah pendiri organisasi Al-Ittihad al-Islami (AII) dan dikenal sebagai tokoh perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Ia beberapa kali dipenjara karena aktivitas politik dan dakwahnya yang dianggap mengancam kolonial. KH Ahmad Sanusi juga dikenal sebagai penulis produktif dalam bidang tafsir dan fiqih.

9. KH Idham Chalid (1921–2010)

Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah politik dan keislaman Indonesia. KH Idham Chalid pernah menjabat Ketua DPR, Wakil Perdana Menteri, dan Ketua Umum PBNU selama beberapa periode. Ia dikenal moderat, bijak, dan menjadi jembatan antara dunia pesantren dan politik nasional.

Baca Juga: Doa Saat Hujan Turun Deras dan Mengkhawatirkan

10. Syekh Yusuf al-Makassari (1626–1699)

Tokoh ulama dan pejuang asal Makassar yang berjuang melawan penjajahan Belanda di masa VOC. Setelah tertangkap, ia diasingkan ke Afrika Selatan, namun di sana pun ia tetap berdakwah dan menjadi simbol perlawanan umat Islam. Pemikirannya tentang spiritualitas, keadilan, dan kemerdekaan memberi pengaruh besar hingga kini.

Para ulama dan kiai tersebut membuktikan bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan ilmu, keteguhan iman, dan keikhlasan hati. Mereka menanamkan nilai bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman, dan menjaga kemerdekaan adalah bagian dari ibadah.

Mengenal mereka bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menghidupkan kembali semangat keulamaan yang berpadu dengan semangat kebangsaan. Di tengah tantangan zaman, keteladanan mereka mengingatkan kita bahwa menjadi pahlawan hari ini bukan hanya berperang, tetapi berjuang dengan ilmu, moral, dan cinta terhadap Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.