Akurat

Kenapa Nabi Muhammad SAW Dirayakan Kelahirannya dan Bukan Wafatnya? Simak Penjelasannya

Fajar Rizky Ramadhan | 7 September 2025, 09:00 WIB
Kenapa Nabi Muhammad SAW Dirayakan Kelahirannya dan Bukan Wafatnya? Simak Penjelasannya

AKURAT.CO Dalam tradisi Islam, Maulid Nabi Muhammad SAW selalu diperingati dengan penuh suka cita. Setiap bulan Rabiulawal, umat Islam di berbagai penjuru dunia mengadakan pengajian, shalawatan, hingga kegiatan sosial untuk mengenang hari lahir Rasulullah.

Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi, sementara hari wafat beliau tidak dijadikan momentum peringatan besar?

Pertama, kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa monumental yang membawa perubahan besar dalam sejarah manusia. Nabi lahir di tengah masyarakat jahiliyah yang diliputi kegelapan moral, lalu hadir sebagai cahaya yang membawa risalah tauhid. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya: 107)

Ayat ini menunjukkan bahwa kelahiran dan diutusnya Nabi adalah rahmat terbesar bagi seluruh umat manusia. Karena itu, umat Islam memandang kelahiran beliau sebagai nikmat besar yang pantas disyukuri dan dirayakan.

Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H yang Islami dan Penuh Makna

Kedua, tradisi memperingati kelahiran Nabi memiliki landasan dalam Al-Qur’an dan Sunnah berupa anjuran untuk bersyukur atas nikmat Allah. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Para mufasir menafsirkan “rahmat” dalam ayat ini sebagai Nabi Muhammad SAW dan risalah yang dibawanya. Artinya, bergembira atas kelahiran Nabi merupakan bentuk syukur yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an.

Ketiga, dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW sendiri menandai hari kelahirannya dengan ibadah puasa setiap Senin. Beliau bersabda ketika ditanya tentang puasa tersebut:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

“Itu adalah hari aku dilahirkan.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi menjadikan hari kelahirannya sebagai momentum syukur kepada Allah. Dari sinilah para ulama menyimpulkan bahwa memperingati Maulid Nabi dengan berbagai amal shalih adalah sah dan berpahala.

Adapun mengenai wafatnya Nabi Muhammad SAW, para ulama sepakat bahwa peristiwa tersebut adalah musibah besar bagi umat Islam. Bahkan sahabat Anas bin Malik meriwayatkan:

يَوْمُ مَاتَ النَّبِيُّ أَظْلَمَتْ مِنْهُ الْمَدِينَةُ

“Hari ketika Nabi wafat, Madinah menjadi gelap karena duka yang mendalam.” (HR. Ahmad)

Hari wafat Nabi memang dikenang, tetapi lebih dalam nuansa kesedihan dan kehilangan, bukan dirayakan dengan perayaan syukur. Islam tidak mengenal tradisi merayakan hari wafat sebagai ritual besar, karena kematian dalam perspektif syariat bukanlah sesuatu yang dirayakan, melainkan diambil hikmahnya.

Keempat, dari sisi psikologis dan sosiologis, perayaan kelahiran Nabi menumbuhkan optimisme, semangat hidup, dan cinta kepada Rasulullah.

Sementara memperingati hari wafat cenderung menimbulkan kesedihan mendalam yang berpotensi melemahkan semangat umat. Karena itu, umat Islam lebih memilih menonjolkan kebahagiaan kelahiran beliau dibandingkan kesedihan wafatnya.

Baca Juga: Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban Umat

Dengan demikian, alasan mengapa umat Islam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan bukan wafatnya, adalah karena kelahiran beliau merupakan nikmat agung yang patut disyukuri, sesuai dengan anjuran Al-Qur’an, teladan Nabi sendiri, serta hikmah sosial yang ditimbulkannya.

Sementara wafat Nabi dipahami sebagai musibah yang dikenang dengan doa, kesabaran, dan upaya melanjutkan perjuangan beliau, bukan dengan perayaan.

Kelahiran Nabi adalah awal cahaya, sementara wafat beliau adalah ujian kesabaran. Maka umat Islam merayakan Maulid sebagai tanda cinta dan syukur, seraya terus berusaha menghidupkan ajaran beliau sepanjang zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.