Akurat

Apakah di Arab Saudi ada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Lufaefi | 7 September 2025, 08:00 WIB
Apakah di Arab Saudi ada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW?

AKURAT.CO Pertanyaan mengenai apakah di Arab Saudi ada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sering muncul di benak umat Islam.

Pasalnya, negara tersebut dikenal sebagai pusat dua tanah suci, Makkah dan Madinah, sekaligus tempat lahirnya Rasulullah. Secara logika, banyak orang mengira bahwa peringatan kelahiran Nabi tentu semarak di negeri asal beliau.

Namun faktanya, situasi di Arab Saudi berbeda dengan tradisi peringatan Maulid di banyak negara muslim lainnya.

Sejak berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada awal abad ke-20, pemahaman agama yang dominan di sana sangat dipengaruhi oleh manhaj Salafi-Wahhabi.

Kelompok ini berpegang teguh pada prinsip kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan penafsiran yang sangat literal, serta menolak amalan yang tidak pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dari sudut pandang ini, perayaan Maulid Nabi dianggap sebagai bid‘ah atau amalan baru dalam agama yang tidak diajarkan secara eksplisit oleh Nabi.

Hal ini berbeda dengan pandangan mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah di berbagai belahan dunia. Ulama besar seperti Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Ibn Hajar al-‘Asqalani, dan banyak tokoh sufi menilai bahwa peringatan Maulid Nabi boleh dilakukan, bahkan bisa bernilai ibadah, selama diisi dengan kegiatan positif seperti membaca shalawat, menyimak sirah Nabi, dan berbagi kebaikan.

Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H yang Islami dan Penuh Makna

Dalam konteks Arab Saudi, karena pemahaman Wahhabi menjadi doktrin resmi negara, pemerintah secara umum tidak mengadakan perayaan Maulid Nabi secara nasional maupun seremonial besar. Kalender resmi Arab Saudi pun tidak mencantumkan tanggal 12 Rabiulawal sebagai hari libur atau hari besar nasional.

Meskipun demikian, peringatan Maulid Nabi masih tetap hidup di kalangan masyarakat tertentu, khususnya komunitas muslim dari luar Arab Saudi yang tinggal di Makkah dan Madinah. Mereka biasanya memperingati secara sederhana, terbatas, dan lebih bersifat privat.

Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir muncul tanda-tanda pelonggaran. Di sebagian kota besar, mulai ada majelis-majelis shalawat atau pengajian yang secara tersirat bernuansa Maulid.

Meski tidak secara terang-terangan disebut “Maulid”, acara tersebut berisi dzikir, tausiyah, dan doa bersama untuk mengenang Rasulullah. Hal ini menunjukkan adanya dinamika dalam masyarakat Arab Saudi yang semakin beragam.

Jika dibandingkan, tradisi peringatan Maulid di negara-negara lain jauh lebih semarak. Di Mesir, misalnya, peringatan Maulid dipenuhi dengan majelis ilmu, zikir, bahkan festival rakyat.

Di Turki, acara Maulid diselenggarakan dalam bentuk pembacaan puisi dan kasidah. Di Indonesia, Maulid Nabi menjadi salah satu momen terbesar umat Islam, dengan tradisi unik seperti pembacaan Barzanji, pengajian akbar, hingga pawai obor di berbagai daerah.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di Arab Saudi secara resmi tidak ada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam bentuk yang dikenal luas di negara-negara muslim lain.

Baca Juga: Bolehkah Memperingati Maulid Nabi Melewati Tanggal 12 Rabiulawal?

Hal ini karena latar belakang ideologi keagamaan yang kuat berakar pada ajaran Wahhabi. Namun, peringatan itu tetap ada dalam skala kecil, terutama di kalangan komunitas muslim non-Saudi, sebagai ekspresi cinta kepada Rasulullah.

Maulid Nabi sendiri pada hakikatnya bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum memperbarui kecintaan, memperbanyak shalawat, dan meneladani akhlak beliau.

Maka, meski bentuk peringatannya berbeda-beda di setiap negara, substansinya tetap sama: menghidupkan kembali cahaya Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan umat Islam sepanjang zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.