Akurat

Kisah Gempa Bumi di Zaman Rasulullah SAW, Berkekuatan Berapa Skala Richter?

Lufaefi | 21 Agustus 2025, 08:00 WIB
Kisah Gempa Bumi di Zaman Rasulullah SAW, Berkekuatan Berapa Skala Richter?

AKURAT.CO Setiap kali gempa bumi terjadi di berbagai wilayah Indonesia, masyarakat selalu diliputi rasa cemas. Angka magnitudo—4,9 SR, 5,2 SR, bahkan 6,0 SR—menjadi headline berita, seakan-akan seluruh hidup manusia bergantung pada angka yang ditampilkan.

Tetapi pernahkah kita bertanya: bagaimana dengan gempa bumi di masa lalu, ketika teknologi belum secanggih sekarang?

Apakah pada zaman Rasulullah SAW juga pernah terjadi gempa? Dan, kalau boleh kita bandingkan, berapa “Skala Richter” kekuatan guncangan itu?

Gempa di Masa Rasulullah SAW

Riwayat sejarah Islam menyebutkan bahwa gempa bumi pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa bumi pernah berguncang di Madinah ketika Nabi masih hidup.

Sayangnya, kala itu belum ada alat ukur seismograf, sehingga tidak mungkin menyebut kekuatannya dalam “Skala Richter”. Namun, getarannya tercatat cukup kuat hingga membuat para sahabat terkejut dan merasa takut.

Baca Juga: 5 Doa Ampuh agar Selamat dari Gempa Bumi

Dari Abu Hurairah RA, disebutkan:

"Pada masa Rasulullah SAW terjadi gempa bumi. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Rabb kalian mengingatkan kalian. Maka kembalilah kepada-Nya, bertaubatlah, dan perbanyaklah sedekah.’" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad).

Hadis ini jelas menggambarkan bahwa gempa bukan sekadar peristiwa geologis, tetapi juga momentum spiritual. Rasulullah SAW tidak menekankan pada analisis kekuatan gempa, melainkan pada pesan moral dan religius: manusia harus kembali kepada Allah.

Tidak Mengenal “Skala Richter”, Tetapi Mengenal Hikmah

Pertanyaan “berkekuatan berapa skala Richter?” sebetulnya tidak relevan bagi peristiwa 14 abad lalu. Skala Richter baru ditemukan pada abad ke-20 oleh Charles F. Richter.

Namun, yang menarik, masyarakat Muslim kala itu tidak sibuk menghitung angka magnitudo, melainkan langsung menafsirkan gempa sebagai seruan ilahi agar mereka memperbaiki diri.

Jika dibandingkan dengan zaman modern, fokus kita seringkali justru kebalikannya: masyarakat lebih sibuk menghitung kekuatan gempa ketimbang merenungi makna spiritualnya.

Padahal, Rasulullah SAW memberikan contoh: gempa adalah tanda, peringatan, sekaligus pengingat agar manusia tidak tenggelam dalam kesibukan dunia.

Gempa di Masa Sahabat

Selain di masa Rasulullah SAW, riwayat gempa juga tercatat di era para sahabat. Diriwayatkan bahwa pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, bumi pernah berguncang di Madinah. Saat itu Umar RA berkata dengan tegas kepada penduduk:

"Jika terjadi gempa bumi lagi, aku tidak akan tinggal bersama kalian di negeri ini."

Ucapan Umar mengandung pesan kuat: gempa adalah peringatan dari Allah. Jika manusia tidak mengambil pelajaran, berarti mereka menantang murka Tuhan.

Apa Pesan Moral dari Gempa di Zaman Nabi?

Musibah gempa bumi di masa Rasulullah SAW tidak pernah dijelaskan dengan ukuran ilmiah seperti saat ini. Tetapi, dari riwayat-riwayat yang ada, kita belajar beberapa hal:

  1. Gempa adalah pengingat — Bukan semata peristiwa fisik, melainkan juga peringatan dari Allah agar manusia memperbaiki amal dan akhlak.

  2. Taubat dan sedekah — Rasulullah SAW langsung mengajarkan umat untuk bertaubat, memperbanyak istighfar, dan memperbanyak sedekah.

  3. Kembali ke Allah — Gempa adalah momentum untuk menyadari bahwa manusia tidak berkuasa atas bumi yang dipijak, kecuali dengan perlindungan Allah.

  4. Jangan terjebak pada angka semata — Ukuran magnitudo memang penting secara ilmiah, tetapi lebih penting lagi adalah makna spiritual yang bisa ditarik.

Baca Juga: Gempa Hantam Bekasi, Ini Doa agar Tidak Ada Korban

Refleksi untuk Zaman Sekarang

Jika gempa zaman Rasulullah SAW terjadi hari ini, mungkin para seismolog akan mencatatnya dengan angka tertentu: 4,5 SR? 5,0 SR? Atau bahkan lebih besar? Tapi apakah angka itu yang paling penting?

Rasulullah SAW justru menekankan bahwa yang terpenting adalah respons manusia: apakah kita akan semakin lalai, atau justru semakin mendekat kepada Allah.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Kami tidak mengirimkan tanda-tanda (peristiwa) itu melainkan untuk menakut-nakuti (manusia).” (QS. Al-Isra’: 59).

Ayat ini selaras dengan pesan Rasulullah SAW. Gempa adalah tanda kekuasaan Allah yang seharusnya membuat manusia lebih takut, lebih sadar, dan lebih taat.

Jadi, pertanyaan “berkekuatan berapa skala Richter gempa di zaman Rasulullah SAW?” mungkin tidak akan pernah terjawab secara ilmiah. Tetapi yang jelas, kekuatan sesungguhnya terletak pada pesan spiritualnya. Rasulullah SAW tidak mengajarkan umat untuk sekadar mengukur, melainkan untuk mengambil pelajaran.

Musibah selalu hadir dengan hikmah. Gempa di masa Nabi maupun di masa kini sama-sama menjadi panggilan agar manusia kembali kepada Allah, memperbanyak istighfar, memperkuat solidaritas sosial, serta tidak lalai dalam mengingat akhirat.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.