Akurat

Akhir Tahun Banyak Terjadi Bencana Gempa Bumi, Ini Solusi Al-Qur’an Atasi Musibah

Lufaefi | 30 Desember 2025, 07:30 WIB
Akhir Tahun Banyak Terjadi Bencana Gempa Bumi, Ini Solusi Al-Qur’an Atasi Musibah

AKURAT.CO Fenomena meningkatnya kejadian gempa bumi di berbagai wilayah menjelang akhir tahun kerap menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat. Getaran yang datang tiba-tiba, korban jiwa, serta kerusakan infrastruktur memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana seharusnya manusia memaknai musibah menurut perspektif Al-Qur’an, dan solusi apa yang ditawarkan wahyu ilahi dalam menghadapi bencana?

Al-Qur’an memandang musibah bukan sekadar peristiwa alam yang netral, melainkan bagian dari sunnatullah yang sarat dengan pesan moral dan spiritual. Musibah dapat berfungsi sebagai ujian, peringatan, bahkan bentuk kasih sayang Allah agar manusia kembali kepada jalan yang benar.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menegaskan bahwa musibah merupakan bagian dari ujian kehidupan. Solusi pertama yang ditawarkan Al-Qur’an adalah kesabaran aktif, yakni kesabaran yang disertai kesadaran, refleksi diri, dan ikhtiar memperbaiki keadaan, bukan sikap pasif atau putus asa.

Selain sebagai ujian, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa sebagian musibah dapat terjadi akibat ulah manusia sendiri, terutama ketika keseimbangan alam dan moral diabaikan.

Baca Juga: Doa dan Amalan saat Mendengar Gempa Bumi, agar Selamat dan Dijauhkan dari Marabahaya

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini memberi solusi fundamental berupa taubat kolektif dan koreksi perilaku. Kerusakan lingkungan, eksploitasi alam yang berlebihan, serta pengabaian nilai keadilan sosial berkontribusi memperparah dampak bencana. Al-Qur’an mendorong manusia untuk kembali menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam sebagai amanah dari Allah.

Solusi berikutnya adalah memperkuat spiritualitas dan ketergantungan kepada Allah melalui doa dan dzikir. Dalam kondisi genting seperti gempa bumi, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah, karena hanya Dia yang memiliki kekuasaan mutlak atas alam semesta.

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Ucapan ini bukan sekadar kalimat lisan, melainkan pernyataan teologis yang menenangkan jiwa. Ia menegaskan bahwa kehidupan berada dalam kendali Allah dan setiap peristiwa memiliki hikmah, meskipun tidak selalu dapat dipahami secara instan.

Al-Qur’an juga menawarkan solusi sosial dalam menghadapi musibah, yakni memperkuat solidaritas dan kepedulian antar sesama. Bencana tidak boleh melahirkan individualisme, tetapi harus mempererat ukhuwah dan gotong royong.

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini relevan dalam konteks penanganan bencana, mulai dari evakuasi korban, bantuan kemanusiaan, hingga pemulihan pascabencana. Solidaritas sosial merupakan bagian dari solusi Qur’ani yang menegaskan bahwa iman tidak hanya bersifat personal, tetapi juga berdimensi sosial.

Baca Juga: Gus Yahya Ralat Pergantian Posisi Gus Ipul dari Sekjend PBNU

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak memandang gempa bumi semata sebagai tragedi, melainkan sebagai momentum refleksi dan transformasi.

Solusi yang ditawarkan mencakup kesabaran, taubat, perbaikan moral dan ekologis, penguatan spiritual, serta solidaritas kemanusiaan.

Melalui pendekatan ini, musibah tidak hanya dihadapi dengan rasa takut, tetapi juga dengan kesadaran, harapan, dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.