Isu Jurusan Filsafat Akan Dihapus, Tahukah Ada Filsafat Islam?

AKURAT.CO Belakangan ini, muncul perbincangan hangat mengenai kemungkinan dihapusnya jurusan filsafat dari beberapa institusi pendidikan tinggi.
Wacana ini mengundang beragam respons—ada yang menyambutnya dengan setuju, namun tak sedikit pula yang mempertanyakannya dengan nada prihatin.
Di tengah arus kontroversi itu, mungkin masih banyak yang belum mengetahui bahwa dalam dunia filsafat, terdapat satu cabang yang sangat kaya dan punya akar panjang di dunia Islam: filsafat Islam.
Filsafat kerap dipandang sebagai bidang yang abstrak, jauh dari kehidupan nyata, dan tidak memberikan keterampilan praktis yang langsung terlihat manfaatnya. Namun anggapan ini sebenarnya kurang tepat.
Filsafat, termasuk filsafat Islam, bukan hanya tentang berpikir tanpa arah atau mendebat hal-hal yang tak terlihat. Ia adalah latihan intelektual, yang mengasah logika, membentuk cara pandang kritis, dan mendorong manusia memahami hakikat hidup dan kebenaran.
Baca Juga: Jurusan Filsafat Hendak Dihapus, Ini Urgensi Filsafat dalam Islam
Filsafat Islam sendiri lahir dari tradisi intelektual umat Muslim yang mencoba menyelami ajaran agama dengan pendekatan rasional dan sistematis.
Tokoh-tokoh seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, hingga Ibn Rushd merupakan nama-nama besar yang telah menyumbangkan pemikiran penting dalam sejarah filsafat dunia.
Mereka menggabungkan ajaran Islam dengan gagasan-gagasan dari filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles, kemudian menafsirkannya kembali sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dari sinilah muncul dialog panjang antara iman dan akal, antara wahyu dan nalar.
Salah satu hal yang menarik dari filsafat Islam adalah bagaimana ia tidak hanya berbicara tentang konsep-konsep metafisik, tetapi juga menyentuh soal etika, politik, pendidikan, hingga kedokteran dan logika.
Dalam tradisi ini, ilmu bukan hanya alat mencari kerja, tapi juga jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Berpikir menjadi bagian dari ibadah. Merenung adalah bentuk lain dari syukur.
Jika jurusan filsafat benar-benar dihapus, bisa jadi bukan hanya diskusi filsafat Barat yang akan kehilangan tempat, tetapi juga warisan besar pemikiran Islam yang selama ini menjadi bagian dari sejarah keilmuan kita.
Hilangnya ruang akademik untuk mendalami filsafat bisa memutus rantai pemikiran kritis yang selama ini memperkaya tradisi intelektual di Indonesia, termasuk dalam konteks keislaman.
Baca Juga: Jurusan Filsafat: Perlukah Dihapus dari Perguruan Tinggi?
Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan besar seperti menghapus jurusan filsafat, ada baiknya kita bertanya lebih dalam: apakah benar filsafat tidak lagi relevan, atau justru kita yang belum cukup memahami perannya?
Sebab jika kita ingin membangun masyarakat yang berpikir jernih, adil, dan beradab, kita tidak bisa meminggirkan filsafat begitu saja—apalagi jika ia juga bagian dari warisan pemikiran Islam itu sendiri.
Pada akhirnya, filsafat bukan hanya untuk mereka yang ingin menjadi akademisi, tetapi untuk siapa saja yang ingin memahami hidup dengan lebih bijak. Dan dalam perjalanan itu, filsafat Islam memberi kita satu arah: berpikir, agar semakin mengenal Tuhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










