Akurat

STAI Sadra Jakarta Gelar Seminar Internasional, Gaungkan Filsafat Praktis untuk Masyarakat Islam Modern

Lufaefi | 1 November 2025, 06:44 WIB
STAI Sadra Jakarta Gelar Seminar Internasional, Gaungkan Filsafat Praktis untuk Masyarakat Islam Modern

AKURAT.CO Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra Jakarta menggelar Seminar Internasional bertajuk “Pengembangan Filsafat Praktis (Hikmah Amaliyah) dalam Masyarakat Islam Modern”, pada Jumat (31/10), di Auditorium Al Mustafa, Kampus STAI Sadra, Jakarta. Kegiatan berlangsung secara hybrid dan dihadiri mahasiswa, dosen, staf, tamu undangan, serta Duta Besar Republik Islam Iran.

Seminar ini bertujuan memperdalam pemahaman mengenai nilai-nilai hikmah amaliyah atau filsafat praktis Islam dalam menghadapi tantangan globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial yang dinamis di masyarakat Islam modern.

Hadir sebagai pembicara utama Ayatullah Prof. Dr. Ali Abbasi (Rektor Universitas Internasional Al Mustafa), bersama narasumber lainnya yakni Prof. Dr. Sahiron (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI), Prof. Dr. Mulyadi Kertanegara (Guru Besar Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Ph.D (Rektor Universitas Paramadina). Seminar ini dimoderatori oleh Ammar Fauzi, Ph.D, Wakil Ketua I Bidang Akademik STAI Sadra.

Baca Juga: 10 Hal Bahaya Jika Jurusan Filsafat Dihapus di Indonesia, Nomor 5 Bikin Takut se-Indonesia!

Direktur Yayasan Hikmat Al Mustafa, Prof. Dr. Hossein Mottaghi, dalam sambutannya menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat tepat untuk menjadi pusat pengembangan hikmah amaliyah di era modern.

“Indonesia memiliki kekayaan sosial yang unik—kerukunan antar pemeluk mazhab yang beragam dengan mayoritas Sunni Syafi‘i serta tradisi tasawuf Al-Ghazali yang kuat. Masyarakat dan kalangan intelektual Indonesia memiliki kesiapan untuk berdialog mengenai ‘urf (pemahaman sosial) yang hidup dan berkembang dalam organisasi kemasyarakatan besar seperti Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Menurut Mottaghi, potensi sumber daya manusia dari Iran dan Indonesia dapat saling melengkapi dalam mengembangkan filsafat praktis Islam.

Ayatullah Prof. Dr. Ali Abbasi dalam pemaparannya menjelaskan bahwa hikmah amaliyah merupakan cabang filsafat yang tidak hanya berlandaskan teori, tetapi menekankan dimensi tindakan nyata manusia.

“Hikmah amaliyah membahas apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Nilai-nilai ini dapat tumbuh dari kearifan masyarakat, yang pada gilirannya menjadi dasar tindakan etis,” jelasnya.

Ia menambahkan, hikmah amaliyah sejati bersumber dari kesadaran keimanan dan keyakinan kepada Tuhan yang mendorong perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

“Dalam tradisi filsafat klasik, hikmah terbagi menjadi tiga ranah: akhlak, manajemen keluarga, dan politik. Semua itu menunjukkan keterkaitan erat antara ilmu teoritis dan praktik kehidupan,” ujarnya.

Prof. Abbasi juga menyoroti krisis makna kebahagiaan dalam masyarakat modern. “Hikmah amaliyah hadir untuk mengembalikan orientasi manusia terhadap makna kebahagiaan yang sejati,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Sahiron menjelaskan pentingnya kurikulum pendidikan berbasis cinta sebagai bentuk konkret penerapan hikmah amaliyah.

“Kurikulum berbasis cinta didasarkan pada kecintaan kepada Tuhan yang melahirkan cinta kepada sesama manusia dan alam semesta. Ini adalah bentuk nyata dari penerapan hikmah amaliyah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kekuatan akal spiritual perlu ditanamkan agar manusia dapat mengembangkan kehidupan yang seimbang antara rasionalitas dan spiritualitas.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Didik J. Rachbini menilai gagasan hikmah amaliyah sejalan dengan pemikiran Nurcholish Madjid.

“Universitas Paramadina merupakan eksperimen intelektual dalam menerapkan hikmah amaliyah di ranah pendidikan dan sosial. Ilmu akal dan hati harus berjalan seimbang; kitab dan hikmah menjadi satu kesatuan panduan,” katanya.

Baca Juga: Prof KH Said Aqil dan Ayatullah Prof Ali Abbasi Tegaskan Kesatuan Al-Qur’an: Tak Ada Perbedaan antara Sunni dan Syi'ah

Adapun Prof. Dr. Mulyadi Kertanegara menyoroti relevansi filsafat hikmah amaliyah terhadap kesehatan mental masyarakat modern.

“Banyak orang modern mengalami gangguan jiwa karena kehilangan panduan moral. Etika dalam hikmah amaliyah dapat berfungsi sebagai kedokteran ruhani, sebagaimana dokter menyembuhkan penyakit fisik,” paparnya.

Melalui seminar ini, STAI Sadra Jakarta berupaya mempertemukan para cendekiawan Muslim dari dalam dan luar negeri untuk merumuskan kembali makna filsafat praktis dalam konteks kekinian.

Dengan semangat kolaborasi intelektual, kampus ini berkomitmen menjadikan hikmah amaliyah sebagai pondasi etika, spiritualitas, dan rasionalitas masyarakat Islam modern.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.