Jurusan Filsafat Hendak Dihapus, Ini Urgensi Filsafat dalam Islam

AKURAT.CO Belakangan ini, wacana penghapusan jurusan filsafat dari dunia pendidikan tinggi kembali mengemuka. Sebagian pihak menilai bahwa filsafat dianggap tidak relevan, bahkan dianggap dapat menimbulkan keraguan dalam beragama.
Namun, sebelum mengambil langkah ekstrem seperti penghapusan, ada baiknya meninjau kembali bagaimana posisi filsafat, khususnya dalam tradisi Islam.
Filsafat bukan barang asing dalam peradaban Islam. Sejak abad ke-8 hingga ke-12 Masehi, dunia Islam justru mengalami masa keemasan intelektual—dikenal dengan masa Islamic Golden Age.
Para filsuf Muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rushd tidak hanya mempelajari filsafat Yunani, tapi juga mengembangkan pendekatan rasional dalam memahami wahyu dan realitas.
Baca Juga: Jurusan Filsafat: Perlukah Dihapus dari Perguruan Tinggi?
Urgensi filsafat dalam Islam terletak pada kemampuannya untuk memperdalam pemahaman terhadap nilai-nilai keimanan dan memberikan kerangka berpikir kritis yang sistematis.
Misalnya, dalam ilmu kalam (teologi Islam), pendekatan rasional digunakan untuk menjelaskan dan mempertahankan akidah Islam.
Bahkan Imam Al-Ghazali—yang dikenal kritis terhadap filsafat—tetap mengakui pentingnya logika sebagai alat berpikir yang sah, dan ia menulis kitab Mi‘yār al-‘Ilm untuk membahas logika Aristotelian.
Islam juga menghargai akal sebagai anugerah Tuhan. Dalam Al-Qur’an, tidak sedikit ayat yang mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran dari ciptaan Allah. Ini sejatinya adalah sikap filosofis.
Maka, ketika filsafat dihapus dari dunia akademik, sesungguhnya bukan hanya sebuah disiplin ilmu yang hilang, melainkan juga cara berpikir kritis, reflektif, dan rasional yang menjadi bagian dari khazanah Islam sendiri.
Penghapusan jurusan filsafat justru bisa mempersempit ruang dialog antara ilmu, iman, dan kemanusiaan. Padahal, di tengah kompleksitas zaman modern, pendekatan filosofis sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan etika, teknologi, dan pluralisme dalam masyarakat.
Baca Juga: Wacana Penghapusan Jurusan Filsafat, Pengamat Buka Suara!
Filsafat dalam Islam bukanlah ancaman, melainkan warisan dan kebutuhan. Oleh karena itu, alih-alih menghapus, yang perlu dilakukan adalah membimbing arah pengajaran filsafat agar selaras dengan nilai-nilai keislaman, sebagaimana yang telah dilakukan para ulama dan cendekiawan Muslim di masa lalu.
Menghapus filsafat berarti menutup pintu bagi warisan besar pemikiran Islam sendiri. Sebuah keputusan yang sebaiknya ditinjau kembali dengan akal sehat dan pandangan jauh ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 5Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








