Wacana Penghapusan Jurusan Filsafat, Pengamat Buka Suara!

AKURAT.CO Isu mengenai usulan penghapusan jurusan filsafat kembali mencuat dan ramai dibahas di media sosial. Narasi ini muncul dari pandangan yang menganggap ilmu filsafat tidak bersifat praktis atau aplikatif, sehingga dinilai tak relevan dengan kebutuhan industri masa kini.
Beberapa pihak bahkan menyebut jurusan ini seharusnya dihapus karena dianggap hanya berkutat pada teori dan sejarah pemikiran para tokoh besar.
Salah satu tokoh yang mengangkat wacana ini adalah influencer sekaligus pengamat pendidikan, Ferry Irwandi. Pandangannya memicu perdebatan di ruang publik, termasuk dari kalangan akademisi dan para dosen filsafat di perguruan tinggi di Indonesia.
Pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas, menanggapi isu ini dengan menekankan pentingnya ilmu filsafat dalam membentuk pola pikir masyarakat. Ia mengakui bahwa keberadaan fakultas filsafat memang kerap dipertanyakan sejak lama, namun ia menilai bahwa jurusan ini tetap memiliki peran yang sangat penting.
Baca Juga: Cara Mengendalikan Hawa Nafsu di Era Digital menurut Islam
“Filsafat memang tidak mengajarkan cara membuat roti,” ujar Darmaningtyas saat dimintai keterangan oleh media, Senin (21/7/2025). Ia menambahkan, “Tapi berpikir secara filsafat itu sangat diperlukan. Sikap kritis hanya bisa dibangun dari pandangan-pandangan yang diajarkan oleh filsafat.”
Menurutnya, usulan penghapusan jurusan filsafat mencerminkan cara berpikir yang terlalu pragmatis, di mana pendidikan tinggi hanya dilihat sebagai sarana untuk mendapatkan pekerjaan teknis. Padahal, lanjutnya, filsafat justru mengajarkan cara berpikir yang luas, kritis, dan fleksibel.
Ia juga mencontohkan bahwa lulusan filsafat banyak yang mampu menempati posisi strategis di berbagai bidang, termasuk di pemerintahan dan dunia usaha. “Itu bukti bahwa lulusan filsafat bisa fleksibel ditempatkan di mana saja,” katanya.
Baca Juga: 20 Universitas Islam Terbaik Dunia Versi UniRank 2025, Ada dari Indonesia?
Lebih jauh, Darmaningtyas menilai bahwa filsafat kerap dianggap mengganggu pihak-pihak yang ingin mempertahankan stabilitas status quo. “Karena filsafat selalu mempertanyakan hakikat dari sesuatu. Ketika orang diajak berpikir tentang hakikat, mereka bisa mumet, lalu karena mumet itu, mereka menganggap filsafat tidak berguna,” tutupnya.
Meskipun menghadapi kritik, banyak pihak yang tetap mendukung keberadaan jurusan filsafat. Selama masih ada peminat dan mahasiswa yang ingin mempelajari ilmu ini, jurusan filsafat diyakini akan tetap relevan dan layak dipertahankan dalam dunia pendidikan tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 5Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









