Akurat

Jurusan Filsafat: Perlukah Dihapus dari Perguruan Tinggi?

Fajar Rizky Ramadhan | 23 Juli 2025, 14:55 WIB
Jurusan Filsafat: Perlukah Dihapus dari Perguruan Tinggi?

AKURAT.CO Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang kian berorientasi pada kebutuhan pasar kerja dan kemajuan teknologi, muncul kembali pertanyaan lama yang kerap mengundang perdebatan: apakah jurusan filsafat masih relevan? Bahkan lebih jauh, apakah jurusan ini sebaiknya dihapuskan dari perguruan tinggi?

Pertanyaan ini bukan sekadar retoris, tetapi merefleksikan kegelisahan sebagian kalangan terhadap keberadaan disiplin ilmu yang dianggap tidak menghasilkan keterampilan praktis secara langsung.

Filsafat, sebagai bidang kajian yang telah ada sejak peradaban kuno, berangkat dari dorongan mendasar manusia untuk memahami hakikat eksistensi, kebenaran, dan moralitas.

Di dalam universitas, jurusan filsafat mengembangkan tradisi berpikir kritis, argumentatif, dan reflektif. Meskipun tidak menghasilkan produk material, kontribusinya dalam membentuk kerangka berpikir rasional, analitis, dan etis telah diakui sepanjang sejarah intelektual dunia.

Baca Juga: Wacana Penghapusan Jurusan Filsafat, Pengamat Buka Suara!

Namun demikian, dalam konteks pendidikan modern yang menekankan efisiensi dan output yang terukur, jurusan filsafat sering kali dianggap kurang memberikan keuntungan ekonomis secara langsung.

Lulusan filsafat tidak selalu memiliki jalur karier yang jelas seperti halnya lulusan teknik, kedokteran, atau akuntansi. Dalam sistem pendidikan yang semakin diarahkan oleh logika pasar, keberadaan program studi yang tidak menghasilkan keterampilan teknis langsung dipertanyakan.

Meski begitu, argumen untuk menghapus jurusan filsafat dari perguruan tinggi perlu ditinjau secara lebih hati-hati. Pertama, filsafat memainkan peran penting dalam membentuk landasan etik dalam berbagai bidang ilmu.

Bioetika dalam kedokteran, etika bisnis, dan filsafat hukum hanyalah beberapa contoh di mana filsafat memberikan kontribusi mendalam. Tanpa kerangka etik yang kokoh, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat melahirkan dampak negatif yang merugikan masyarakat.

Kedua, filsafat melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills) seperti analisis, sintesis, dan evaluasi. Keterampilan-keterampilan ini semakin dicari dalam dunia kerja yang kompleks dan cepat berubah.

Banyak pemimpin perusahaan global dan tokoh-tokoh besar dalam dunia teknologi justru memiliki latar belakang pendidikan filsafat atau humaniora karena pendekatan berpikir kritis yang ditanamkan oleh disiplin ini.

Ketiga, universitas bukan semata-mata institusi pencetak tenaga kerja. Ia juga merupakan tempat pembentukan karakter, pengembangan pengetahuan, dan pencarian makna.

Menghapus jurusan filsafat berarti memangkas salah satu fungsi paling esensial dari pendidikan tinggi, yaitu menggali dan mengembangkan pemahaman tentang nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Baca Juga: Cara Mengendalikan Hawa Nafsu di Era Digital menurut Islam

Di Indonesia sendiri, jurusan filsafat memiliki posisi unik dalam lanskap pendidikan tinggi. Selain menjadi pusat kajian etika dan budaya, jurusan ini juga turut berperan dalam membentuk diskursus publik yang sehat.

Mahasiswa filsafat dilatih untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga untuk bertanya dan meragukan. Dalam iklim demokrasi yang sehat, keberanian untuk berpikir kritis dan terbuka terhadap berbagai pandangan adalah kunci untuk membangun masyarakat yang adil dan rasional.

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, menghapus jurusan filsafat dari perguruan tinggi bukanlah solusi yang bijak.

Yang justru perlu dilakukan adalah merumuskan kembali cara pengajaran filsafat agar lebih kontekstual, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan terintegrasi dengan disiplin ilmu lainnya.

Kolaborasi antara filsafat dengan bidang ilmu terapan seperti teknologi, hukum, dan bisnis dapat membuka ruang baru bagi relevansi filsafat di era modern.

Filsafat mungkin tidak menjanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi dalam waktu singkat, tetapi ia memberikan fondasi intelektual dan moral yang tahan lama. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh tantangan, keberadaan filsafat justru menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.