Akurat

Harga Emas Antam Logam Mulia Terus Melonjak, Ini Kisah Sahabat Abdurrahman bin Auf yang Punya Banyak Harta Kekayaan Emas

Lufaefi | 20 April 2025, 08:30 WIB
Harga Emas Antam Logam Mulia Terus Melonjak, Ini Kisah Sahabat Abdurrahman bin Auf yang Punya Banyak Harta Kekayaan Emas

AKURAT.CO Kenaikan harga emas Antam logam mulia dalam beberapa bulan terakhir memicu gelombang kekhawatiran sekaligus euforia di kalangan masyarakat.

Di saat sebagian orang merutuki inflasi dan ketidakstabilan ekonomi global, sebagian lainnya melihat lonjakan ini sebagai momentum emas—secara harfiah dan metaforis—untuk menata ulang portofolio investasi mereka.

Fenomena naiknya harga emas bukan sekadar reaksi pasar terhadap krisis, melainkan cerminan dari karakter logam mulia itu sendiri: langka, tahan inflasi, dan dipercaya sebagai penyimpan nilai lintas generasi.

Menurut teori moneter klasik dan analisis perilaku pasar, emas seringkali menjadi safe haven asset, terutama ketika nilai mata uang dan pasar saham melemah.

Namun, di balik gejolak pasar modern ini, tersimpan satu kisah klasik yang mengajarkan kita tentang bagaimana emas dan kekayaan tidak hanya diuji melalui nilai tukar, tetapi juga melalui nilai kebermanfaatannya: kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahman bin Auf.

Baca Juga: Apakah Ada Ucapan Kebangkitan Yesus Kristus yang Tidak Bertentangan dengan Islam?

Abdurrahmanbin Auf: Konglomerat Madinah yang Dermawan

Dalam kajian sejarah Islam, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai salah satu dari Asyrah al-Mubasyyarin bil Jannah, sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Namun, keistimewaannya bukan hanya karena jaminan tersebut.

Ia juga dikenal sebagai entrepreneur ulung dengan kekayaan yang luar biasa, bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa ia memiliki emas sebesar satu gunung yang harus diangkat dengan tenaga besar saat pembagian warisannya.

Kisahnya menantang logika kapitalisme modern: bagaimana bisa seseorang menjadi sangat kaya, namun tetap rendah hati dan dermawan secara radikal?

Modal Nol, Miliarder Syariah

Abdurrahman bin Auf memulai perjalanannya di Madinah nyaris tanpa harta. Ketika hijrah dari Mekkah, ia meninggalkan seluruh hartanya. Setibanya di Madinah, ia tidak merengek kepada Rasulullah atau meminta bagian dari harta rampasan. Yang ia minta hanya satu: “Tunjukkan aku di mana pasar berada.”

Ungkapan itu menjadi simbol dari etos kerja dan self-reliance dalam Islam. Dalam waktu singkat, ia sukses berdagang, bertransaksi dengan jujur, dan mengakumulasi kekayaan dalam jumlah besar.

Studi sosiologis terhadap perilaku ekonomi masyarakat Arab pra-Islam menunjukkan bahwa pasar saat itu adalah arena terbuka dengan minim regulasi, dan keberhasilan sangat bergantung pada reputasi serta kredibilitas pelaku usahanya.

Dengan prinsip dagang yang jujur, tidak menimbun, dan tidak curang dalam takaran, Abdurrahman bin Auf menjadi pengusaha yang dicintai pasar. Kekayaannya terus bertumbuh, dan salah satu indikator kekayaannya yang paling sering disebut dalam riwayat adalah jumlah emas yang ia miliki.

Emas dan Surga: Simbol Ujian, Bukan Kesenangan

Berbeda dari narasi kekayaan dalam sistem kapitalistik modern yang cenderung berpusat pada akumulasi dan ekspansi kekuasaan, Abdurrahman bin Auf menjadikan kekayaannya sebagai medium kebermanfaatan. Dalam satu peristiwa, ia menyumbangkan 700 ekor unta yang penuh muatan makanan, pakaian, dan perbekalan untuk jihad fi sabilillah.

Bahkan, ketika ia wafat, para ahli warisnya kesulitan membagi harta warisan karena jumlahnya terlalu besar. Dalam hadits disebutkan, "Saking banyaknya harta warisan Abdurrahman bin Auf, sepotong emas miliknya bisa mematahkan kapak pembagi warisan." (HR. Ahmad dan at-Thabarani, dengan sanad hasan)

Baca Juga: Harga Emas Antam Logam Mulia Terus Naik, Ini Sejarah Naiknya Harga Emas di Masa Kekhalifahan Islam

Pelajaran dari Pasar dan Emas

Jika kita kaitkan kisah ini dengan realitas hari ini—saat harga emas logam mulia Antam terus meroket—maka ada dua pelajaran utama. Pertama, emas tetaplah instrumen keuangan yang bernilai dan sah digunakan sebagai aset. Namun yang lebih penting adalah bagaimana aset tersebut digunakan.

Kedua, dalam perspektif Islam, kekayaan bukan untuk dibanggakan, tapi untuk diuji. Naiknya harga emas hari ini bisa jadi ujian bagi pemiliknya: apakah akan ditimbun atau didistribusikan untuk kebermanfaatan?

Emas dalam Cermin Spiritualitas

Kita hidup di zaman ketika harga emas bisa naik karena ketegangan geopolitik atau penurunan suku bunga acuan. Tapi dalam kaca mata iman, logam mulia itu punya nilai lebih dari sekadar angka per gram-nya.

Ia adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya: apakah kita sekadar kolektor kekayaan, atau pewaris nilai-nilai sahabat seperti Abdurrahman bin Auf?

Dan jika hari ini kita dihadapkan pada rezeki lebih, mungkin pertanyaannya bukan “mau beli berapa gram emas?”, tapi “apa yang bisa kita lakukan dengan emas itu agar hidup lebih bermakna, untuk dunia dan akhirat?”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.