Apakah Ada Ucapan Kebangkitan Yesus Kristus yang Tidak Bertentangan dengan Islam?

AKURAT.CO Pertanyaan ini menjadi relevan tiap kali umat Kristiani merayakan Paskah. Banyak Muslim bertanya-tanya: apakah mungkin menyampaikan ucapan kebangkitan Yesus Kristus tanpa melanggar prinsip akidah Islam?
Di satu sisi, ada keinginan untuk menunjukkan sikap ramah dan saling menghormati. Tapi di sisi lain, umat Islam tidak bisa mengabaikan bahwa kebangkitan Yesus dalam teologi Kristen adalah simbol dari keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan yang bangkit dari kematian. Termasuk soal menyampaikan ucapan kebangkitan Yesus Kristus.
Sebagian Muslim mungkin merasa cukup dengan mengucapkan ucapan kebangkitan Yesus Kristus dalam bentuk yang netral, seperti “semoga damai menyertai hari suci Anda.” Tapi apakah netralitas itu mungkin dalam konteks perayaan yang teologis?
Kebangkitan Yesus bukan hanya peristiwa sejarah menurut agama Kristen, tapi merupakan fondasi keyakinan bahwa Yesus adalah Juru Selamat. Maka, memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus secara langsung bisa ditafsirkan sebagai pengakuan terhadap doktrin yang bertentangan dengan konsep tauhid.
Baca Juga: Ucapan Kebangkitan Yesus Kristus yang Tidak Bertentangan dengan Akidah Umat Islam, Memang Ada?
Islam sendiri telah menetapkan posisi teologis terhadap Nabi Isa. Dalam surah an-Nisā’ ayat 157-158, Allah menegaskan bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan diangkat kepada-Nya. Ayat itu berbunyi:
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا ٱلْمَسِيحَ عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ ۖ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ
... بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيْهِ
Artinya: “Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, melainkan yang mereka bunuh itu diserupakan dengan Isa bagi mereka ... tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.”
Dari sini jelas bahwa kepercayaan terhadap kebangkitan Yesus sebagaimana diyakini oleh umat Kristiani tidak sejalan dengan narasi Al-Qur’an.
Maka jika ada ucapan kebangkitan Yesus Kristus yang ingin tetap sopan namun tidak menabrak prinsip Islam, bentuknya bukanlah ucapan teologis, melainkan sapaan sosial seperti “selamat merayakan hari suci” tanpa menyebut aspek kebangkitannya. Bahkan itu pun sebagian ulama masih membatasi, dengan alasan penghindaran dari tasyabbuh (menyerupai).
Namun demikian, penting untuk membedakan antara sikap menghormati dan menyetujui. Islam tidak melarang umatnya untuk bersikap adil dan santun kepada non-Muslim. Dalam surah al-Mumtahanah ayat 8 ditegaskan:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Baca Juga: Apakah Muslim Boleh Memberi Ucapan Kebangkitan Yesus Kristus? Begini Menurut Islam
Jadi, jika seorang Muslim ingin tetap menunjukkan keramahan dalam konteks Paskah, bentuknya harus berupa penghormatan yang tidak bermakna afirmasi teologis.
Ucapan seperti “semoga damai dan kebaikan menyertaimu di hari raya ini” bisa menjadi alternatif, sejauh tidak menyentuh aspek kebangkitan yang dimaknai sebagai ketuhanan. Ini adalah titik tengah antara menjaga akidah dan menjunjung toleransi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










