MUI Tegaskan Hanya Pesantren Pendidikan Warisan Nabi Muhammad SAW

AKURAT.CO Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan Islam yang diwarisi langsung dari Nabi Muhammad SAW. Hal itu disampaikan Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis, dalam Tabligh Akbar di Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau, Senin (27/10/2025).
“Pesantren adalah sistem pendidikan Islam warisan Nabi Muhammad SAW,” ujar KH Cholil Nafis yang juga Rais Syuriah PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok.
Ia menjelaskan, sejak masa awal dakwah Islam, Rasulullah sudah memiliki majelis taklim sebagai wadah pembinaan umat. “Nabi Muhammad sebelum hijrah sudah punya majelis taklim bernama Darul Arqom. Ada 40 orang saat itu yang dididik oleh Rasulullah.
Baca Juga: Cak Imin Geram Banyak Video AI Jelekkan Pesantren: Fitnah Tak Akan Mempan
Setelah hijrah ke Madinah, terbentuklah Ahlus Suffah — orang-orang yang tinggal di serambi Masjid Nabawi untuk belajar langsung dari Nabi. Inilah cikal bakal sistem pesantren,” jelasnya.
Menurut KH Cholil, tradisi pesantren di Indonesia merupakan hasil perpaduan dua corak dakwah Islam, yakni dari para wali yang datang melalui Gujarat dan para ulama yang belajar di Timur Tengah.
“Republik ini dibentuk oleh para santri. Itu bukan klaim kosong. Sejak awal, Islam disebarkan oleh para wali dan ulama yang kembali dari Timur Tengah. Pesantren berdiri dengan empat rukun: ada kiai, santri, masjid, dan pengajian. Kalau tidak ada kiai, tidak bisa disebut pesantren,” tegasnya.
Ia juga menyinggung peran besar ulama nusantara yang menimba ilmu di Makkah dan Madinah pada abad ke-19.
“Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Khatib Al-Minangkabawi, dan Syekh Mahfudz termasuk ulama besar yang belajar di Timur Tengah dan menjadi wajah baru Islam Indonesia. Mereka tidak dihitung dari banyaknya pengikut, tetapi dari karya ilmiah dan perjuangan mereka,” ungkap KH Cholil.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa membela tanah air merupakan bagian dari ajaran Islam.
“Kata Kyai Syamsul Arifin, air yang kita pakai untuk wudu dan tanah tempat kita sujud harus kita bela. Artinya, membela tanah air sama dengan membela salat yang merupakan rukun Islam. Itulah corak Islam Ahlussunnah waljamaah yang kita pegang,” katanya.
Sementara itu, Imam Besar sekaligus Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau, Ustadz H. Zul Ikromi Lc MA PhD, menyampaikan apresiasi atas kehadiran KH Cholil Nafis di Riau.
Baca Juga: Hari Sumpah Pemuda, Ini 10 Pahlawan Muda Nasional dari Kalangan Ulama
“Beliau datang membawa berkah dan semangat dakwah di tengah masyarakat. Pembahasan tentang pesantren sangat relevan karena masih dalam suasana Hari Santri. KH Cholil adalah ulama yang konsisten memperjuangkan pesantren dan kebenaran di ruang publik,” ujar Zul Ikromi.
Ia menambahkan, Masjid Raya An-Nur akan terus menjadi pusat kajian Islam di Riau. “Masjid ini unik, karena jamaahnya ada di alam nyata dan juga alam maya. Kajian-kajian kita ditonton oleh ratusan orang dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah, An-Nur termasuk masjid yang dikenal aktif menggelar tabligh akbar dan kajian rutin berbasis kitab,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










