Hari Santri Nasional 2025, Siapa Saja yang Disebut Santri? Ini Jawaban Islam

AKURAT.CO Setiap 22 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional — sebuah momentum penuh makna yang tak hanya dimiliki oleh mereka yang tinggal di pondok pesantren, tapi juga oleh siapa pun yang mewarisi semangat keilmuan, ketulusan, dan pengabdian yang diajarkan para ulama.
Tahun 2025 ini, Kementerian Agama mengangkat tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia”, menegaskan bahwa santri adalah bagian penting dari perjalanan bangsa yang menjembatani nilai-nilai agama dan kemajuan zaman.
Namun di tengah euforia peringatan, muncul satu pertanyaan menarik: siapa sebenarnya yang disebut santri? Apakah gelar “santri” hanya milik mereka yang menimba ilmu di pesantren, ataukah istilah ini juga mencakup siapa saja yang berakhlak baik, meneladani nilai-nilai keislaman, dan mencintai ilmu pengetahuan?
Santri dalam Perspektif Klasik: Murid yang Menyucikan Ilmu dengan Akhlak
Secara historis, istilah “santri” berasal dari kata shastri dalam bahasa Sanskerta yang berarti “orang yang mempelajari kitab suci”. Dalam konteks Islam di Nusantara, istilah ini berkembang menjadi sebutan bagi mereka yang menuntut ilmu agama di pesantren, di bawah bimbingan seorang kiai. Santri bukan hanya belajar membaca kitab kuning atau memahami fiqih, tetapi juga belajar disiplin, tawadhu’, dan akhlak sosial.
Dalam pandangan para ulama pesantren, santri adalah sosok yang ngalap berkah (mencari keberkahan), bukan hanya ngalap ilmu (mencari pengetahuan). Karena itu, pesantren tidak sekadar institusi pendidikan, tetapi juga ruang penyucian jiwa.
KH Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menegaskan, “Ilmu tidak akan bermanfaat kecuali bagi orang yang menghormati guru dan menjaga adab dalam belajar.” Maka menjadi santri berarti menjadi pribadi yang memuliakan ilmu dan menjaganya dengan akhlak.
Santri dalam Pandangan Islam: Siapa Pun yang Menjadi Pencinta Ilmu
Dalam pandangan Islam yang universal, batasan “santri” tidak berhenti di tembok pesantren. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Hadis ini tidak menyebutkan bahwa penuntut ilmu harus berada di pesantren atau lembaga formal. Siapa pun yang dengan niat tulus mencari ilmu — baik ilmu agama maupun ilmu dunia — dengan semangat memperbaiki diri dan menebar manfaat bagi sesama, pada hakikatnya adalah santri dalam makna ruhaniah.
Dengan demikian, santri bukan hanya mereka yang bersarung dan berpeci, tetapi juga mereka yang menjadikan ilmu dan akhlak sebagai gaya hidup. Santri bisa jadi seorang mahasiswa, pekerja kantoran, pengusaha, jurnalis, guru, atau ibu rumah tangga — selama hatinya terikat dengan nilai-nilai keilmuan dan keteladanan moral.
Santri Non-Pesantren: Jiwa Santri yang Hidup di Tengah Masyarakat
Fenomena menarik dewasa ini adalah munculnya “santri kultural” — istilah yang merujuk pada mereka yang tidak pernah mondok di pesantren, tetapi menjunjung tinggi adab, kesederhanaan, dan cinta ilmu sebagaimana santri pada umumnya.
Dalam pandangan Islam, yang membedakan bukanlah di mana seseorang belajar, tetapi bagaimana seseorang menempatkan ilmunya dalam kehidupan. Seseorang bisa tidak mengaji di pesantren, namun tetap menjaga shalat lima waktu, menghormati orang tua, rendah hati terhadap guru, tidak sombong dengan ilmunya, serta menebar manfaat bagi orang lain.
Itulah santri dalam makna spiritual — pribadi yang menundukkan ego, mengutamakan adab, dan menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan alat kesombongan.
KH Ahmad Siddiq pernah mengatakan, “Santri sejati bukan ditandai dengan sarung dan sorban, tapi dengan hati yang tunduk kepada Allah dan cinta kepada sesama.” Maka di Hari Santri Nasional, kita patut menghargai siapa pun yang memiliki semangat keilmuan dan pengabdian, meskipun tidak pernah tinggal di pesantren.
Santri dan Akhlak: Fondasi Peradaban Islam
Dalam Islam, akhlak adalah ukuran utama dari kualitas seorang hamba. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Artinya, setiap orang yang berusaha memperbaiki akhlaknya sejatinya sedang menempuh jalan yang sama dengan para santri: jalan penyucian diri menuju ridha Allah.
Santri yang sesungguhnya bukan hanya pandai berdebat soal dalil, tetapi juga santun dalam berbicara, sabar dalam menghadapi perbedaan, dan bijak dalam bersikap. Maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa siapa pun yang berakhlak mulia — jujur, amanah, berilmu, dan rendah hati — berhak disebut santri dalam arti substantif.
Hari Santri: Momentum Meneguhkan Identitas Spiritual Bangsa
Peringatan Hari Santri Nasional bukan hanya milik kalangan pesantren, tetapi milik seluruh umat Islam Indonesia yang menjadikan nilai keilmuan dan akhlak sebagai arah hidup. Di tengah derasnya arus digital dan individualisme, semangat kesantrian perlu ditumbuhkan kembali — bukan sekadar sebagai atribut, melainkan sebagai karakter bangsa.
Santri modern hari ini tidak lagi hanya berada di pesantren. Mereka ada di kampus, di ruang redaksi, di dunia bisnis, hingga di ruang publik digital. Mereka menulis, berdialog, dan berkontribusi dengan cara yang berbeda, tetapi tetap membawa ruh kesantrian: menebar ilmu, menjaga moral, dan menebarkan kedamaian.
Menjadi Santri di Era Digital
Menjadi santri di era modern berarti menjaga adab di ruang digital sebagaimana santri menjaga adab di hadapan kiai. Artinya, berhati-hati dalam berbicara di media sosial, tidak menyebarkan hoaks, tidak menghina sesama, serta menebar pesan kebaikan dan literasi positif.
Inilah tantangan baru bagi generasi santri masa kini — menjadi penjaga akhlak di dunia maya. Sebab, tantangan umat hari ini bukan lagi pada minimnya pengetahuan, tetapi pada kurangnya adab dalam menggunakan pengetahuan.
Baca Juga: Wali Santri Tuntut Pertanggungjawaban Pihak Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
Semua Bisa Jadi Santri
Jadi, siapa yang disebut santri menurut Islam? Jawabannya sederhana: setiap orang yang menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas, menghormati gurunya, berakhlak baik, dan berjuang untuk kemaslahatan umat — dialah santri sejati.
Santri bukan sekadar status sosial, tapi identitas spiritual. Ia tidak diukur dari seberapa lama mondok, tetapi dari seberapa dalam ia memaknai ilmunya.
Maka di Hari Santri Nasional 2025 ini, mari kita rayakan bukan hanya dengan upacara dan lomba, tapi dengan meneguhkan niat menjadi pribadi berilmu dan berakhlak. Karena sesungguhnya, Indonesia akan kuat bila seluruh rakyatnya berjiwa santri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









