Asal-Usul Penamaan Bulan Syawal, Ternyata Berkaitan dengan Unta!

AKURAT.CO Apa asal-usul penamaan bulan Syawal? Yuk, simak penjelasannya dalam artikel ini.
Ketika gema takbir berangsur reda dan Ramadan resmi berlalu, umat Islam memasuki bulan baru dalam kalender Hijriah: Syawal.
Bulan ini identik dengan kemenangan spiritual ini ternyata menyimpan kisah linguistik dan budaya yang cukup menarik.
Syawal bukan sekadar penanda waktu pasca-Ramadan, tetapi juga jejak sejarah yang menggambarkan relasi manusia Arab dengan hewan yang sangat penting dalam peradaban mereka: unta.
Secara etimologis, kata Syawwal (شَوَّال) berasal dari akar kata Arab shawwala-yushawwilu, yang memiliki arti “mengangkat” atau “meninggikan sesuatu”.
Dalam konteks budaya Arab sebelum Islam, kata ini secara spesifik merujuk pada kondisi unta betina yang mulai "menjauh" atau “mengangkat ekornya” sebagai tanda tidak ingin dikawini.
Para ahli bahasa Arab klasik seperti Al-Fayruzabadi dalam Al-Qamus al-Muhit menyebutkan bahwa bulan Syawal dinamai demikian karena bertepatan dengan masa di mana unta betina menjadi sulit dikawinkan, yang dalam istilah peternakan unta menunjukkan periode rendah produktivitas.
Baca Juga: Niat Puasa Syawal Bisa Dilakukan di Siang Hari, Ini Sejumlah Dalilnya!
Tradisi Arab pra-Islam sangat kental dengan relasi agrikultural dan pastoral. Unta bukan hanya hewan transportasi, tapi juga simbol kekayaan, kekuatan militer, hingga ketahanan hidup di padang pasir.
Maka, perubahan siklus biologis unta menjadi penanda penting dalam pengaturan waktu mereka. Para orientalis seperti Montgomery Watt dan Ignaz Goldziher dalam kajian mereka tentang masyarakat Arab pra-Islam juga menegaskan bahwa penamaan bulan-bulan Hijriah awalnya sangat erat kaitannya dengan fenomena alam dan kebiasaan lokal, sebelum kemudian mengalami Islamisasi makna.
Namun, menariknya, Islam tidak menghapus nama-nama bulan tersebut meskipun berasal dari masa Jahiliah. Justru, Islam mengisi ulang maknanya dengan nilai-nilai spiritual yang baru.
Syawal, yang dulunya bermakna “kesuraman musim kawin unta”, kini berubah menjadi “bulan pembebasan spiritual” setelah sebulan penuh menahan nafsu. Rasulullah SAW sendiri mengaitkan Syawal dengan momentum penting: anjuran untuk melanjutkan puasa enam hari di bulan ini.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadan, lalu diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim, No. 1164).
Dengan demikian, penamaan bulan Syawal adalah cermin transformasi budaya yang menarik. Dari simbol keterbatasan biologis seekor unta, menjadi simbol kelimpahan pahala dan keberlanjutan ibadah.
Ini menunjukkan bagaimana Islam tidak serta-merta menolak kebudayaan lokal, melainkan mengangkat dan mereformulasi maknanya menjadi lebih luhur dan transenden.
Baca Juga: Mengapa Menikah di Bulan Syawal Sangat Dianjurkan? Baca Alasannya Berikut Ini!
Jika ditelusuri lebih dalam, fenomena ini juga bisa dibaca dalam kacamata teori interaksi simbolik: bagaimana masyarakat memberikan makna baru pada simbol-simbol lama seiring dengan perubahan nilai dan struktur sosial.
Syawal adalah contoh konkret bagaimana sebuah masyarakat dapat mengonstruksi ulang simbol alamiah menjadi makna spiritual melalui narasi dan praktik sosial yang berulang.
Jadi, saat kita menyambut Syawal dengan baju baru dan hidangan khas, jangan lupa bahwa nama bulan ini menyimpan kisah panjang—dari padang pasir yang sunyi, rengekan unta yang enggan dikawini, hingga sebuah pesan suci tentang keberlanjutan spiritual setelah Ramadan.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










