Mengapa Menikah di Bulan Syawal Sangat Dianjurkan? Baca Alasannya Berikut Ini!

AKURAT.CO Bulan Syawal seringkali diidentikkan dengan suasana kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan.
Namun, lebih dari itu, Syawal juga menyimpan makna spiritual yang dalam terkait anjuran untuk melangsungkan pernikahan.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa menikah di bulan Syawal ternyata sangat dianjurkan dalam Islam. Anjuran ini bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki akar historis dan dalil syar’i yang kuat.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha di bulan Syawal dan membangun rumah tangga bersamanya juga di bulan Syawal. Hadits ini berbunyi:
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ كَانَ أَحْظَى عِندَهُ مِنِّي؟
Yang artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di bulan Syawal dan mulai hidup bersamaku juga di bulan Syawal. Maka siapakah di antara istri-istri Rasulullah yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim).
Baca Juga: Kapan Batas Waktu Puasa Syawal 2025? Simak Penjelasannya di Sini!
Menariknya, Aisyah menyampaikan ini bukan sekadar untuk menginformasikan waktu pernikahannya, melainkan sebagai bentuk kebanggaan, isyarat akan keberkahan pernikahan yang dijalani, dan sekaligus membantah mitos jahiliyah saat itu yang menganggap Syawal sebagai bulan sial untuk menikah.
Mitos ini muncul karena masyarakat Arab di masa pra-Islam memiliki kepercayaan bahwa bulan Syawal adalah waktu yang buruk untuk menikah.
Mereka menyangka bahwa pernikahan yang dilakukan di bulan ini tidak akan membawa kebahagiaan dan akan mudah berakhir dengan perceraian.
Keyakinan ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang datang untuk menghancurkan tahayul dan pemikiran irasional semacam itu.
Dengan menikahi Aisyah di bulan Syawal, Rasulullah tidak hanya meneguhkan sunnah, tetapi juga secara simbolik mendobrak kebudayaan jahiliyah yang tidak rasional.
Sikap ini selaras dengan visi Islam sebagai agama tauhid yang memurnikan keyakinan dan menjauhkan umatnya dari syirik serta tahayul.
Secara psikologis, menikah di bulan Syawal juga membawa momentum yang sangat positif.
Setelah sebulan penuh menjalani latihan ruhani di bulan Ramadhan, seseorang biasanya mencapai kondisi spiritual yang lebih matang.
Syawal menjadi momen tepat untuk memulai kehidupan baru, termasuk dalam membina rumah tangga.
Energi keimanan masih terasa hangat, suasana kebersamaan masih kental karena Idulfitri, dan relasi sosial dalam keluarga besar sedang berada dalam kondisi harmonis.
Baca Juga: Khutbah Jumat Bulan Syawal: Menjaga Spirit Ibadah Pasca Bulan Ramadhan
Ulama Syafi’iyah pun menegaskan keutamaan menikah di bulan Syawal karena mengikuti jejak Rasulullah. Dalam kitab-kitab fikih, dijelaskan bahwa tidak ada waktu yang makruh untuk menikah.
Namun, jika mengikuti momentum sunnah Nabi, maka Syawal menjadi salah satu waktu yang dianjurkan karena alasan historis dan simbolik tersebut.
Kesimpulannya, menikah di bulan Syawal bukan sekadar soal waktu yang "bagus" menurut tradisi, tapi ia adalah bentuk pengamalan sunnah, penegasan rasionalitas Islam, serta momen spiritual yang sarat makna.
Maka, bagi mereka yang merencanakan pernikahan, bulan Syawal bukan hanya indah karena suasana lebaran, tetapi juga diberkahi karena mengikuti jejak Sang Nabi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









