Sejarah Musim Kemarau di Zaman Rasulullah SAW, Sampai Mengancam Kehidupan

AKURAT.CO Pada masa Rasulullah SAW, masyarakat Arab sangat bergantung pada sumber daya alam yang terbatas. Sehingga pernah mengalami kemarau besar.
Tanah yang tandus dan sistem pertanian yang sederhana membuat kehidupan mereka sangat bergantung pada hujan.
Ketika musim kemarau panjang melanda, dampaknya bukan hanya pada ekonomi tetapi juga pada kehidupan sosial dan keagamaan.
Salah satu peristiwa kemarau yang paling terkenal terjadi pada tahun ke-9 Hijriyah, ketika Madinah dan sekitarnya mengalami kekeringan yang parah, menyebabkan kelaparan meluas di kalangan kaum Muslimin.
Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa pada tahun ke-9 Hijriyah, Madinah mengalami kemarau berkepanjangan yang mengakibatkan kekurangan makanan dan air.
Sungai-sungai kecil mengering, sumur-sumur mengalami penyusutan air, dan padang rumput menghilang, menyebabkan hewan ternak mati kelaparan.
Kondisi ini diperburuk oleh bertambahnya jumlah penduduk Muslim di Madinah, termasuk para muhajirin dari Makkah yang telah meninggalkan harta benda mereka demi hijrah.
Baca Juga: Distribusi Bantuan Pangan Non Tunai di Masa Sahabat Nabi Muhammad SAW
Ibnu Sa’ad dalam Tabaqat al-Kubra mencatat bahwa pada saat itu, banyak kaum Muslimin yang mengalami kesulitan mendapatkan makanan.
Bahkan beberapa sahabat sampai harus mengganjal perut mereka dengan batu untuk menahan rasa lapar.
Tradisi ini juga dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis bahwa beliau pernah memperlihatkan dua batu yang diikat di perutnya karena menahan lapar.
Ketika situasi semakin sulit, Rasulullah SAW mengajak kaum Muslimin untuk melakukan istisqa’, yaitu shalat dan doa bersama meminta hujan kepada Allah.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW keluar ke tanah lapang bersama para sahabat, mengenakan pakaian sederhana, lalu berdoa dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memohon pertolongan Allah.
Dalam riwayat lain yang dicatat oleh Abu Daud dan Tirmidzi, diceritakan bahwa tidak lama setelah doa tersebut, langit mulai mendung dan hujan turun dengan derasnya.
Bahkan, hujan tersebut terus berlanjut selama beberapa hari hingga masyarakat Madinah meminta Rasulullah SAW untuk berdoa agar hujan dihentikan karena banjir mulai melanda.
Kekeringan dan kelaparan ini tidak hanya menguji kesabaran kaum Muslimin tetapi juga memperlihatkan solidaritas dan sistem distribusi yang diterapkan Rasulullah SAW.
Baitul Mal, yang kala itu masih dalam tahap awal, digunakan untuk membantu masyarakat miskin dengan mendistribusikan sisa makanan dan hasil panen yang ada.
Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan konsep ta’awun atau gotong royong, di mana kaum Muslimin yang memiliki makanan berlebih dianjurkan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
Hal ini diperkuat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan." (HR. Bukhari).
Peristiwa musim kemarau ini juga memunculkan kebijakan ekonomi baru, di mana Rasulullah SAW semakin mendorong umat Islam untuk mengelola perdagangan dengan lebih baik dan mencari sumber daya air yang lebih stabil.
Dalam jangka panjang, kekeringan ini menjadi faktor yang mendorong pembangunan sumur baru dan penguatan sistem pertanian di Madinah.
Baca Juga: 3 Calon Gubernur Jawa Timur Semuanya Perempuan, Ini Daftar Pemimpin Perempuan di Masa Sahabat Nabi
Musim kemarau yang menyebabkan kelaparan di zaman Rasulullah SAW bukan hanya sebuah ujian, tetapi juga memberikan banyak hikmah bagi umat Islam.
Kesabaran, solidaritas sosial, dan pentingnya sistem ketahanan pangan menjadi pelajaran yang tetap relevan hingga saat ini.
Dalam konteks modern, peristiwa ini mengingatkan kita tentang pentingnya mitigasi bencana, manajemen sumber daya air, serta perlunya kebijakan sosial yang berpihak kepada kelompok rentan saat terjadi krisis.
Sejarah mencatat bahwa di tengah kesulitan, umat Islam justru semakin memperkuat persaudaraan dan mempererat hubungan dengan Allah melalui doa dan amal kebajikan.
Dari kejadian ini, kita dapat memahami bahwa dalam situasi sulit sekalipun, ada jalan keluar yang bisa ditemukan melalui kebersamaan, kerja keras, dan doa kepada Allah.
Peristiwa kemarau panjang di zaman Rasulullah SAW menjadi bukti bahwa ujian bisa menjadi jalan menuju kebangkitan dan pembelajaran bagi umat manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









