Akurat

Peringatan Maulid Nabi Menurut Muhammadiyah, Pandangan Ilmiah dan Sejarah

Fajar Rizky Ramadhan | 14 September 2024, 11:00 WIB
Peringatan Maulid Nabi Menurut Muhammadiyah, Pandangan Ilmiah dan Sejarah

AKURAT.CO Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah menjadi tradisi penting dalam masyarakat Muslim di banyak negara, termasuk Indonesia.

Namun, ada perbedaan pandangan terkait perayaan Maulid Nabi di berbagai organisasi Islam.

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki pandangan yang cukup spesifik mengenai Maulid Nabi.

Artikel ini akan mengulas pandangan Muhammadiyah berdasarkan data ilmiah, buku, dan pendapat tokoh-tokoh dalam organisasi tersebut.

Sejarah Maulid Nabi

Maulid Nabi merujuk pada perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah.

Tradisi ini dipercaya bermula di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah, sekitar abad ke-10. Di Indonesia, Maulid Nabi telah menjadi tradisi yang dilakukan dengan beragam cara, seperti pembacaan syair, pengajian, hingga pawai.

Namun, seiring perkembangan zaman, pandangan tentang perayaan ini mendapatkan perhatian khusus dari berbagai kelompok, termasuk Muhammadiyah.

Pandangan Muhammadiyah Terhadap Maulid Nabi

Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1912, adalah organisasi yang fokus pada purifikasi ajaran Islam.

Muhammadiyah menekankan pada upaya kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih (otentik) sebagai sumber hukum dan pedoman hidup.

Baca Juga: 40 Ucapan Maulid Nabi Muhammad SAW 2024, Penuh Makna dan Doa Kebaikan

Dalam hal ini, Muhammadiyah mengkritisi praktek-praktek ibadah yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam sumber-sumber Islam tersebut, termasuk perayaan Maulid Nabi.

1. Maulid Nabi Tidak Disebut dalam Al-Qur’an atau Hadis 

Salah satu argumen utama Muhammadiyah adalah bahwa perayaan Maulid Nabi tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi Muhammad.

Menurut Muhammadiyah, tidak ada dalil yang secara eksplisit atau implisit yang mengharuskan peringatan Maulid Nabi.

Dengan demikian, mereka menganggap bahwa peringatan ini adalah bentuk bid'ah atau inovasi dalam agama yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.

2. Fokus pada Esensi, Bukan Seremonial 

Alih-alih memperingati Maulid Nabi melalui ritual seremonial, Muhammadiyah lebih menekankan kepada pengamalan ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Muhammadiyah, yang lebih penting adalah memahami dan mengikuti akhlak serta ajaran Nabi Muhammad dalam semua aspek kehidupan, bukan sekadar merayakan hari kelahirannya.

Dalam hal ini, Muhammadiyah menganjurkan umat Islam untuk lebih memperdalam ilmu agama dan melaksanakan syariat Islam secara benar.

3. Meningkatkan Keilmuan Islam 

Beberapa tokoh Muhammadiyah juga menekankan bahwa peringatan yang sifatnya seremonial bisa mengarah pada pemborosan dan hal-hal yang tidak substansial.

Sebaliknya, Muhammadiyah mendorong umat untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang Islam melalui pendidikan, dakwah, dan kegiatan-kegiatan sosial yang lebih bermanfaat.

Tokoh seperti Buya Syafii Maarif pernah menyampaikan bahwa umat Islam seharusnya lebih fokus pada esensi nilai-nilai Islam dan pengembangan diri daripada sekadar ritualisasi.

Pendapat Tokoh Muhammadiyah

Beberapa tokoh Muhammadiyah kontemporer telah menyampaikan pendapat mereka mengenai peringatan Maulid Nabi.

Prof. Dr. Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW, namun bentuknya tidak perlu dalam perayaan seperti Maulid.

Menurutnya, umat Islam seharusnya fokus pada pengamalan ajaran Nabi secara lebih mendalam daripada pada ritual-ritual yang tidak memiliki landasan teologis yang kuat.

Sementara itu, Buya Syafii Maarif, seorang tokoh senior Muhammadiyah, menegaskan pentingnya untuk lebih memusatkan perhatian pada pendidikan dan keilmuan.

Baca Juga: Puasa di Hari Maulid Nabi Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Hukumnya

Ia menyarankan agar energi umat Islam diarahkan pada kegiatan yang memperkaya pemahaman mereka tentang agama, ketimbang pada perayaan-perayaan yang hanya bersifat seremonial.

Peringatan Maulid Nabi menurut Muhammadiyah didasarkan pada prinsip kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Muhammadiyah tidak merayakan Maulid Nabi karena perayaan tersebut dianggap sebagai bid'ah, namun mereka tetap mengakui pentingnya meneladani Nabi Muhammad dalam setiap aspek kehidupan.

Organisasi ini lebih menekankan kepada praktik keagamaan yang substansial dan pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan ini tidak dimaksudkan untuk menentang penghormatan terhadap Nabi, tetapi lebih kepada menghindari ritualisasi yang tidak memiliki landasan teologis yang jelas.

Dalam konteks sosial, pandangan Muhammadiyah ini mencerminkan fokus mereka pada pembaruan Islam dan penguatan pendidikan, yang diharapkan dapat memperkaya kehidupan beragama umat Muslim di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.