World Stroke Day 2025 Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Nasional Turunkan Angka Stroke

AKURAT.CO, Peringatan World Stroke Day 2025 tingkat nasional resmi digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 13–16 November 2025.
Kegiatan yang dipusatkan di Indonesia Timur ini menyoroti urgensi kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat untuk menekan angka stroke yang masih menjadi penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia.
Acara tersebut digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) bekerja sama dengan Perdosni Cabang Denpasar, mengusung tema “Menyatukan Advokasi dan Kesadaran Stroke untuk Mendorong Tindakan pada Stroke.”
Baca Juga: Mengenal Stroke Ringan yang Diderita Kak Seto: Gejala dan Penyebab
Kegiatan dihadiri Ketua Umum Perdosni Dr. dr. Dodik Tugasworo, Sp.N (K), jajaran pemerintah daerah NTT, Ketua Yayasan Stroke Indonesia Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Ketua Kolegium Neurologi Prof. Dr. dr. Syahrul Sp.N (K), serta para tenaga kesehatan dari berbagai wilayah.
Dalam sambutannya, Dokter Dodik menegaskan bahwa stroke tetap menjadi ancaman serius.
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk, sementara pembiayaan stroke menembus Rp5,2 triliun, menjadikannya penyakit katastropik tertinggi ketiga di Indonesia. "Stroke dapat membunuh 1,9 juta sel otak setiap menit. Kesadaran dan deteksi dini sangat menentukan, karena golden period penanganan stroke iskemik adalah 4,5 jam,” ujar Dokter Dodik.
Di NTT, beberapa wilayah menunjukkan prevalensi stroke tinggi, seperti Sikka (9%), Manggarai (8%), dan Kupang (6%). Minimnya akses layanan kesehatan serta keterbatasan dokter spesialis saraf memperburuk risiko keterlambatan penanganan.
Perdosni mencatat, saat ini hanya 22 neurolog bertugas di seluruh NTT, sementara masih terdapat enam kabupaten tanpa dokter spesialis saraf.
Kolegium Neurologi menilai NTT membutuhkan tambahan 77 neurolog agar layanan lebih merata. “Geografis kepulauan membuat penanganan stroke harus lebih cepat dan terkoordinasi. Semoga para dokter PPDS putra daerah bisa kembali mengabdi di NTT,” ujar Prof. Syahrul.
Pemerintah Provinsi NTT melalui Staf Ahli Gubernur Bidang Kesra Ady Enderson Mandala menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan World Stroke Day di Kupang.
Dia menekankan bahwa sebagian besar kasus stroke di NTT adalah stroke iskemik dan menyerang usia produktif. “Kami terus mengedukasi pola hidup sehat, cek tekanan darah dan gula darah, serta mengurangi konsumsi rokok dan minuman beralkohol,” ujar Ady.
Ketua Umum Yastroki, Dokter Tugas Ratmono, mengingatkan bahwa stroke adalah “bencana kehidupan” yang dapat mengubah kondisi sosial-ekonomi pasien. Menurutnya, keberhasilan penanganan sangat ditentukan kecepatan mendapat perawatan medis. "Jika stroke sumbatan ditangani dengan trombolisis dalam dua jam, peluang pulih lebih besar. Karena itu, rantai penanganan dari masyarakat hingga rumah sakit harus tanpa jeda,” tegasnya.
Ketua Panitia, dr. Yuliana Imelda Ora Adja, Sp.N, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan meliputi simposium untuk tenaga kesehatan, seminar awam deteksi dini stroke, pemeriksaan faktor risiko, hingga peluncuran Guideline Stroke Nasional.
Acara juga diisi senam pencegahan stroke, yang bertujuan menstimulasi saraf dan otot serta memperbaiki aliran darah.
Rekomendasi aktivitas fisik mengikuti standar AHA/ASA, baik untuk pencegahan primer maupun sekunder.
Menutup acara, Ketua Umum Perdosni kembali menekankan pentingnya hidup sehat untuk mencegah serangan stroke. “Stroke kini menyerang usia 40–50 tahun. Kena stroke itu madesu, masa depan suram. Karena itu, promotif dan preventif harus jadi gerakan bersama,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







