Akurat

Waspadai Stroke Hemoragik: Paling Berbahaya yang Harus Dikenali

Eko Krisyanto | 9 November 2025, 16:56 WIB
Waspadai Stroke Hemoragik: Paling Berbahaya yang Harus Dikenali

AKURAT.CO Stroke merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia dan menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia.
 
Dari dua jenis stroke yang umum terjadi, stroke hemoragik termasuk yang paling berbahaya karena disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Kondisi ini mengakibatkan aliran darah keluar dari pembuluh dan menekan jaringan otak di sekitarnya, sehingga menimbulkan kerusakan yang cepat dan luas.

Berbeda dengan stroke iskemik yang disebabkan oleh penyumbatan, stroke hemoragik terjadi akibat pendarahan internal di otak.

Itulah mengapa penanganan yang terlambat dapat menyebabkan komplikasi serius hingga berakibat fatal.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mencegah Stroke di Usia Muda? Yuk, Mulai dari Sekarang!

Penyebab Utama Stroke Hemoragik

Pecahnya pembuluh darah di otak dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Salah satu penyebab paling umum adalah tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol. Tekanan yang tinggi secara terus-menerus dapat melemahkan dinding pembuluh darah hingga akhirnya pecah.

Selain hipertensi, aneurisma otak atau tonjolan pada dinding pembuluh darah juga dapat menyebabkan stroke hemoragik.

Ketika aneurisma pecah, darah keluar dan merusak jaringan otak di sekitarnya. Faktor lain yang turut memicu kondisi ini antara lain cedera kepala, gangguan pembekuan darah, konsumsi obat pengencer darah tanpa pengawasan medis, serta penyalahgunaan narkoba seperti kokain atau amfetamin.

Gejala Stroke Hemoragik yang Perlu Diwaspadai

Stroke hemoragik biasanya terjadi secara tiba-tiba dan menunjukkan gejala yang jelas.

Penderita bisa mengalami sakit kepala hebat, sering kali digambarkan sebagai sakit kepala terparah seumur hidup. Gejala lain meliputi kelemahan mendadak di salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, penglihatan buram, kehilangan keseimbangan, hingga kehilangan kesadaran.

Jika seseorang menunjukkan tanda-tanda tersebut, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Penanganan cepat sangat penting untuk mengurangi risiko kerusakan otak permanen.

Baca Juga: Bikin Terobosan, Bethsaida Healthcare Hadirkan Pusat Pemulihan Pasca-Stroke Pertama di Indonesia

Mengapa Stroke Hemoragik Bisa Mematikan

Stroke hemoragik tergolong mematikan karena tekanan darah dari pendarahan dapat menghancurkan jaringan otak dalam waktu singkat.

Selain itu, darah yang keluar dapat mengganggu fungsi vital otak seperti pernapasan dan detak jantung.

Tanpa tindakan medis darurat, penderita berisiko mengalami koma bahkan kematian.

Menurut data medis, tingkat kematian akibat stroke hemoragik jauh lebih tinggi dibandingkan stroke iskemik.

Bahkan bagi pasien yang selamat, banyak yang mengalami cacat fisik atau gangguan kognitif jangka panjang.

Langkah Penanganan Stroke Hemoragik

Penanganan stroke hemoragik harus dilakukan sesegera mungkin di rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Tindakan medis bisa meliputi:

  1. Pemeriksaan CT scan atau MRI untuk memastikan lokasi dan tingkat keparahan pendarahan.

  2. Obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah, mengurangi pembengkakan otak, dan menghentikan pendarahan.

  3. Operasi bedah saraf jika ditemukan aneurisma atau pendarahan besar yang perlu diangkat.

  4. Rehabilitasi pasca-stroke untuk membantu pasien memulihkan kemampuan motorik, berbicara, dan fungsi tubuh lainnya.

Cara Mencegah Stroke Hemoragik

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko stroke hemoragik, di antaranya:

  1. Mengontrol tekanan darah secara rutin. Hipertensi menjadi faktor utama pemicu stroke, sehingga pemeriksaan tekanan darah secara berkala sangat penting.

  2. Berhenti merokok dan menghindari alkohol berlebihan. Kedua kebiasaan ini dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah.

  3. Menerapkan pola makan sehat. Konsumsi makanan rendah garam dan lemak jenuh dapat menjaga elastisitas pembuluh darah.

  4. Rutin berolahraga. Aktivitas fisik seperti jalan kaki, bersepeda, atau yoga dapat membantu menjaga sirkulasi darah tetap lancar.

  5. Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Deteksi dini kondisi seperti aneurisma atau gangguan pembekuan darah bisa mencegah risiko stroke lebih lanjut.

Nadira Maia Arziki (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R