Bikin Terobosan, Bethsaida Healthcare Hadirkan Pusat Pemulihan Pasca-Stroke Pertama di Indonesia

AKURAT.CO Dalam upaya menjawab tantangan besar pemulihan pasca-stroke di Indonesia, Bethsaida Healthcare mempersembahkan terobosan terbaru melalui pembukaan Stroke Assisted Living Center (SALC) di Moriah Pavillion Bethsaida Hospital Gading Serpong.
SALC menjadi pusat layanan rehabilitasi pertama di Indonesia yang terintegrasi langsung dengan rumah sakit.
Mengusung filosofi "Live The Life Together", SALC menjembatani kebutuhan medis, rehabilitatif dan sosial secara holistik dalam satu tempat yang aman dan nyaman.
Baca Juga: Bethsaida Healthcare Bersama Jakarta Heart Center Hadirkan Layanan Jantung dengan Harga Terjangkau
CEO Bethsaida Healthcare, Prof. dr. Hananiel P. Wijaya, menjelaskan, SALC merupakan wujud komitmen Bethsaida dalam menjawab tantangan kompleks perawatan pasca-stroke.
"Pemulihan pasca-stroke tidak berhenti di hospital. Banyak pasien kehilangan kemandirian karena kurangnya dukungan yang berkelanjutan. Dengan SALC, kami memberikan rumah kedua yang bukan hanya aman tetapi juga mendorong pasien untuk bangkit, belajar kembali, dan hidup dengan kualitas yang layak," katanya, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (13/6/2025).
Perawatan Komprehensif dan Terkoordinasi
SALC menawarkan layanan intensif mulai dari fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara hingga dukungan psikososial dan pelatihan kemandirian.
Baca Juga: Bethsaida Healthcare Jalin Kerja Sama dengan Jejaring Rumah Sakit Luar Negeri dan Evakuasi Medis
Program ini dirancang khusus sesuai kondisi dan kemampuan setiap pasien.
Keunggulan SALC juga terletak pada akses langsung ke fasilitas medis Bethsaida Hospital, memastikan keamanan dan ketenangan bagi pasien dan keluarga.
"Dengan tagline Live The Life Together, kami ingin setiap pasien stroke tidak hanya pulih, tetapi kembali menjalani hidup dengan penuh makna. SALC hadir untuk memberikan pengalaman pemulihan yang lebih menyeluruh. Kami merancang paket program dengan fleksibilitas tinggi, mulai dari layanan residensial, day care hingga program dengan pendamping agar pasien dan keluarga dapat memilih sesuai kebutuhan dan kenyamanan," jelas Direktur Sales & Marketing Bethsaida Hospital Gading Serpong, Iwan A. Setiawan.
Sementara itu, Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Raymond Posuma, menekankan bahwa rehabilitasi pasca-stroke merupakan fase penting yang harus dijalankan untuk mendukung pemulihan pasien.
"Stroke memang dapat mempengaruhi berbagai fungsi motorik dan kognitif, namun dengan terapi yang tepat, pasien memiliki peluang besar untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, berbicara, bahkan makan secara mandiri. Intervensi rehabilitatif yang terstruktur dan berkelanjutan dapat membantu pasien meminimalkan risiko disabilitas dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Rehabilitasi tidak hanya berfokus pada pemulihan gerak tapi juga melatih ulang fungsi otak serta membangun kembali kemandirian dan kepercayaan diri pasien," paparnya.
Menurut Dokter Raymond, rehabilitasi pasca-stroke tidak hanya sebatas latihan fisik. Proses ini juga bertujuan untuk mengaktifkan kembali sistem saraf yang sempat terganggu.
Pendekatan yang komprehensif, mulai dari fisioterapi, stimulasi kognitif hingga dukungan psikologis, sangat penting untuk dilakukan secara bersamaan.
"Di SALC, kami menyediakan semua layanan tersebut dalam satu sistem yang terpadu, sehingga pasien dapat memperoleh dukungan optimal untuk pemulihan mereka," sambungnya.
Selain itu, saat ini semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa intervensi sosial atau yang dikenal dengan istilah social prescription intervention. Juga merupakan bagian penting dalam proses rehabilitasi stroke.
Social prescription intervention adalah upaya untuk menghubungkan pasien dengan berbagai aktivitas sosial, komunitas atau kelompok pendukung di lingkungan mereka.
Pendekatan ini terbukti dapat memberikan dampak positif yang signifikan, seperti meningkatkan semangat, memperluas jejaring sosial dan membantu pasien merasa lebih diterima serta didukung selama masa pemulihan.
Dengan mengintegrasikan komponen sosial ini ke dalam program rehabilitasi, pasien tidak hanya mendapatkan manfaat secara fisik dan mental tetapi juga secara emosional dan sosial, sehingga proses pemulihan menjadi lebih menyeluruh dan bermakna.
Fokus pada Kualitas Hidup
Data menunjukkan bahwa delapan dari 10 penyintas stroke berisiko kehilangan kemandirian jika tidak menjalani rehabilitasi terstruktur.
Di sinilah SALC mengambil peran penting. Bukan hanya memulihkan fungsi tubuh tetapi juga memulihkan harga diri dan semangat hidup.
Program-program seperti daycare sosial, sesi interaktif seperti melukis dan merangkai bunga hingga sesi komunitas dan rekreasi, menjadikan SALC sebagai tempat di mana pasien kembali merasa berdaya, bukan sebagai pasien semata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah








