Mengapa Ada Orang yang Tak Bisa Membedakan Merah dan Hijau?

AKURAT.CO Pernahkah kamu merasa warna merah dan hijau terlihat mirip? Atau bingung membedakan antara ungu dan biru? Jika iya, mungkin kamu mengalami buta warna, kondisi ketika mata kesulitan mengenali atau membedakan warna tertentu.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007, prevalensi buta warna di Indonesia mencapai 7,4%, dengan angka tertinggi berada di DKI Jakarta (24,3%).
Angka ini menunjukkan bahwa buta warna bukanlah kondisi langka, banyak orang hidup dengan persepsi warna yang berbeda tanpa menyadarinya.
Apa Itu Buta Warna?
Buta warna terjadi ketika salah satu sel pada retina, bagian peka cahaya di dalam mata, tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Retina memiliki dua jenis sel penerima cahaya:
-
Sel batang (rod cells) – berfungsi dalam kondisi minim cahaya, seperti malam hari.
-
Sel kerucut (cone cells) – bertanggung jawab atas penglihatan warna di siang hari.
Sel kerucut terbagi menjadi tiga tipe, masing-masing sensitif terhadap warna merah, hijau, dan biru. Saat salah satu atau lebih sel ini rusak atau tidak berfungsi optimal, kemampuan membedakan warna pun terganggu.
Penyebab Buta Warna
Penyebab utama buta warna adalah faktor genetik yang diturunkan dari orang tua. Kondisi ini bersifat permanen dan lebih sering dialami oleh laki-laki, karena mereka hanya memiliki satu kromosom X (sementara perempuan memiliki dua, yang bisa “menutupi” gen rusak pada salah satunya).
Baca Juga: 5 Negara Paling Berbahaya di Dunia 2025: Indah Tapi Mematikan
Namun, selain faktor keturunan, buta warna juga bisa disebabkan oleh hal lain, seperti:
-
Penyakit kronis, misalnya Alzheimer.
-
Cedera otak atau mata, termasuk akibat stroke.
-
Efek samping obat-obatan tertentu yang memengaruhi saraf optik.
-
Paparan bahan kimia industri seperti karbon monoksida atau karbon disulfida.
-
Penuaan, terutama setelah usia 60 tahun.
Jenis-Jenis Buta Warna
Ternyata, buta warna tak hanya satu macam. Ada beberapa tipe tergantung pada sel kerucut mana yang mengalami gangguan.
1. Anomali Trikomatik
Penderitanya masih bisa melihat warna, tetapi tidak seakurat orang normal.
-
Protanomali → sensitivitas terhadap warna merah berkurang.
-
Deuteranomali → sensitivitas terhadap warna hijau berkurang.
-
Tritanomali → sensitivitas terhadap warna biru berkurang.
Mereka dengan protanomali atau deuteranomali kerap kesulitan membedakan warna merah, hijau, cokelat, jingga, dan ungu.
Sedangkan penderita tritanomali sering tertukar antara biru dan kuning, atau ungu dan merah.
2. Dikromatik
Pada tipe ini, hanya dua dari tiga sel kerucut yang berfungsi.
-
Protanopia → tidak bisa melihat warna merah.
-
Deuteranopia → tidak bisa melihat warna hijau.
-
Tritanopia → tidak bisa melihat warna biru.
Penderita protanopia dan deuteranopia umumnya melihat dunia dalam nuansa hijau keabu-abuan, sementara warna biru dan kuning tampak lebih kuat.
Baca Juga: Bahlil Minta Kader Golkar Solid: Jangan Ada Gerakan Tambahan di Luar Konsolidasi Partai
Sedangkan penderita tritanopia sulit membedakan biru muda dengan abu-abu, atau jingga dengan merah.
3. Monokromatik (Akromatopsia)
Ini adalah bentuk buta warna paling langka — hanya terjadi pada sekitar 1 dari 33.000 orang.
Semua sel kerucut tidak berfungsi, sehingga penglihatan mereka hanya berupa hitam, putih, dan abu-abu, seperti layar televisi jadul.
Biasanya, penderita akromatopsia sangat sensitif terhadap cahaya terang dan perlu menggunakan kacamata hitam untuk mengurangi silau.
Tantangan dan Adaptasi
Meski tampak sebagai kekurangan, banyak penderita buta warna yang tetap beraktivitas normal.
Mereka hanya perlu sedikit adaptasi, seperti menggunakan label warna pada pakaian, aplikasi pendeteksi warna di ponsel, atau bantuan teman dalam situasi tertentu.
Yang terpenting adalah kesadaran, agar kondisi ini tidak menghambat aktivitas sehari-hari maupun pilihan karier, terutama di bidang yang menuntut ketepatan warna seperti desain, grafis, atau penerbangan.
Buta warna bukan sekadar soal tidak bisa membedakan warna. Ini tentang cara seseorang melihat dunia, secara harfiah dan figuratif.
Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, siapa pun dapat menjalani hidup berwarna, meski mungkin warnanya berbeda dari kebanyakan orang.
Laporan: Dewi Triana Rahmawati/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










