Kenali Penyebab Depresi Postpartum, PAFI Beri Solusi Pengobatan

AKURAT.CO Berbicara tentang gangguan kesehatan mental, salah satunya yang sering dialami remaja hingga orang dewasa adalah depresi postpartum.
Depresi postpartum sering dialami oleh wanita. Wanita yang mengalami depresi postpartum dapat mengalami berbagai gejala, seperti merasakan kesedihan, rasa bersalah, serta gejala depresi lainnya terutama setelah masa melahirkan. Prevalensi depresi postpartum mencapai 10%.
PAFI dengan alamat website pafiluwuk.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat.
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia berupaya untuk meningkatkan profesionalisme dan etika ahli farmasi, memastikan bahwa setiap ahli farmasi di Indonesia memiliki standar kualifikasi serta etika yang tinggi dalam praktiknya
Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab depresi postpartum, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.
Baca Juga: Deteksi Depresi pada Anak, Ini yang Dokter Kerap Lakukan!
Apa saja faktor penyebab terjadinya depresi postpartum?
Pada umumnya, depresi postpartum adalah suatu kondisi kesehatan mental yang dialami oleh beberapa ibu setelah melahirkan. Kondisi ini ditandai dengan gejala-gejala seperti perasaan sedih yang berkepanjangan, kecemasan, kelelahan, dan kesulitan dalam merawat diri sendiri dan bayi.
Berbeda dengan baby blues, yang biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga dua minggu, depresi postpartum dapat berlangsung lebih lama dan memiliki dampak yang lebih signifikan pada kehidupan sehari-hari.
Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya depresi postpartum yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Adanya perubahan pada hormon
Salah satu faktor utama depresi postpartum adalah perubahan hormon yang drastis setelah melahirkan. Kadar estrogen dan progesteron yang meningkat secara signifikan selama kehamilan akan menurun tajam setelah melahirkan. Perubahan ini dapat mempengaruhi suasana hati dan fungsi otak.
Selain estrogen dan progesteron, perubahan kadar prolaktin, kortisol, dan hormon tiroid juga dapat berperan dalam depresi postpartum. Hormon-hormon ini berfungsi dalam regulasi emosi dan metabolisme tubuh.
2. Faktor genetik atau riwayat keluarga
Faktor selanjutnya adalah genetik atau riwayat keluarga. Faktor genetik juga dapat memainkan peran dalam depresi postpartum. Ibu yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mental mungkin lebih rentan mengalami depresi postpartum.
3. Stres dan kecemasan
Pada umumnya, setelah melahirkan dapat menimbulkan stres dan kecemasan yang signifikan, terutama terkait dengan kemampuan merawat bayi dan peran baru sebagai ibu. Kecemasan ini dapat memperburuk kondisi mental.
Selain itu, ibu yang memiliki riwayat depresi, gangguan bipolar, atau gangguan mental lainnya sebelumnya lebih rentan mengalami depresi postpartum.
4. Dukungan sosial yang kurang
Faktor terakhir yang menyebabkan depresi postpartum adalah kurangnya dukungan dari keluarga, teman hingga pasangan. Kurangnya dukungan dari keluarga, suami, atau teman dapat membuat ibu merasa terisolasi dan meningkatkan risiko depresi postpartum.
Baca Juga: Karir di Dunia Farmasi: Langkah Awal Bersama PAFI
Apa saja obat yang tepat untuk mengobati depresi postpartum?
PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama dari depresi postpartum. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala depresi postpartum serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:
1. Sertraline
Sertraline adalah obat pilihan utama untuk mengatasi depresi. Obat ini relatif aman untuk ibu menyusui.
Sertraline memiliki profil keamanan yang baik dan umumnya tidak berdampak signifikan pada bayi yang disusui. Untuk dosisnya akan diresepkan oleh apoteker.
2. Fluoxetine
Fluoxetine adalah obat antidepresan yang termasuk dalam golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs). Obat ini bekerja dengan cara menghambat penyerapan serotonin di otak, sehingga meningkatkan kadar serotonin dan membantu menyeimbangkan kondisi mental.
Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengurangi gejala depresi postpartum seperti terapi keluarga. Terapi ini melibatkan anggota keluarga dalam proses pemulihan untuk meningkatkan dukungan sosial.
Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









