Akurat

Hipertensi Masih Menjadi Momok Memprihatinkan Masyarakat Dunia dan Indonesia

Sultan Tanjung | 26 Februari 2024, 12:45 WIB
Hipertensi Masih Menjadi Momok Memprihatinkan Masyarakat Dunia dan Indonesia

AKURAT.CO Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan penyakit kronis yang masih menjadi momok bagi masyarakat Indonesia dan dunia di tahun 2024.

Di Indonesia, diperkirakan lebih dari 26% penduduk dewasa menderita hipertensi, dan angka ini terus meningkat.

Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) bahkan menyebut hipertensi menjadi beban ekonomi yang serius bagi Indonesia.

“Hipertensi masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Berdasarkan data dari BPJS, klaim terbesar di tahun 2023 masih dipegang oleh penyakit jantung dengan besaran 17,63 triliun. Angka ini mengalami peningkatan dari tahun 2022 yang mencapai 12,1 Triliun. Berdasarkan laporan BPJS di tahun 2023, dari 23 juta peserta JKN yang di telah menjalani skrining riwayat kesehatan, sekitar 8 persen diantaranya berisiko menderita hipertensi,” ujar dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), Ketua Panitia The 18th Annual Scientific meeting of Indonesian Society of Hypertension (InaSH) 2024 di Jakarta, pada Jumat, (23/2).

Mengapa hipertensi masih menjadi masalah serius?

  • Kurangnya kesadaran: Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki hipertensi karena tidak menunjukkan gejala yang jelas.
  • Pengobatan yang tidak teratur: Pasien hipertensi seringkali tidak patuh dalam minum obat dan menjalani gaya hidup sehat.
  • Akses yang terbatas: Di beberapa daerah, akses terhadap layanan kesehatan untuk diagnosis dan pengobatan hipertensi masih terbatas.

Dampak hipertensi:

Hipertensi merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit berbahaya, seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal.

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi serius dan bahkan kematian.

”Tanpa disadari hipertensi dapat merusak organ selama bertahun tahun sebelum ada gejala. Apabila tidak diobati hipertensi dapat menyebabkan disabilitas, kualitas hidup buruk, hingga kematian karena kerusakan organ target seperti otak, jantung dan ginjal. Pembuluh darah pada orang sehat bersifat lentur, kuat dan elastis, permukaannya bersih dan licin sehingga darah mengalir bebas dan lancar untuk mensuplai oksigen dan nutrien ke organ vital.” ungkap dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, Wakil Ketua InaSH yang juga dokter RS Harapan Kita.

Apa yang bisa dilakukan?

  • Meningkatkan kesadaran: Masyarakat perlu di edukasi tentang bahaya hipertensi dan pentingnya deteksi dini.
  • Memperkuat layanan kesehatan: Pemerintah perlu meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan untuk diagnosis dan pengobatan hipertensi.
  • Menerapkan gaya hidup sehat: Menjalani gaya hidup sehat seperti diet seimbang, olahraga teratur, dan berhenti merokok dapat membantu mencegah dan mengendalikan hipertensi.

Pentingnya edukasi dan gaya hidup sehat:

Edukasi dan penerapan gaya hidup sehat menjadi kunci utama dalam memerangi hipertensi.

Masyarakat perlu di edukasi tentang bahaya hipertensi, cara deteksi dini, dan bagaimana mengendalikannya dengan gaya hidup sehat.

InaSH sendiri menghimbau agar masyarakat melakukan pencegahan penyakit hipertensi. dr. Erwinanto, Sp.JP(K), FIHA, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (Indonesian Society of Hypertension atau InaSH), menjelaskan,

“Diagnosis hipertensi ditegakkan jika tekanan darah yang diukur di klinik mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Tidak semua dari mereka yang tekanan darahnya terukur ≥140/90 mmHg di klinik mempunyai peningkatan tekanan darah jika diukur di luar klinik.

"Pengukuran tekanan darah di luar klinik dapat menggunakan Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) atau pengukuran tekanan darah di rumah menggunakan Home Blood Pressure Monitoring (HBPM)."

"Diagnosis hipertensi disebut akurat jika baik pengukuran tekanan darah di klinik maupun di luar klinik menunjukkan tekanan darah yang meningkat dan disebut sebagai true hypertension."

"Individu yang mempunyai tekanan darah meningkat ketika diukur di klinik tetapi mempunyai tekanan darah normal ketika diukur di luar klinik disebut ‘Hipertensi jas putih (whitecoat hypertension)’.

"Individu dengan true hypertension perlu terapi obat antihipertensi. Individu dengan whitecoat hypertension, yang jumlahnya dapat mencapai 30% dari mereka yang terdeteksi hipertensi di klinik, tidak perlu terapi obat."

"Pada saat ini belum ada bukti bahwa terapi obat yang diberikan pada penyandang whitecoat hypertension dapat mencegah penyakit akibat hipertensi seperti penyakit kardiovaskular, stroke atau penyakit ginjal.” jelasnya.

Hipertensi adalah masalah kesehatan yang serius yang membutuhkan perhatian dan tindakan bersama.

Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat layanan kesehatan, dan menerapkan gaya hidup sehat, kita dapat memerangi hipertensi dan menyelamatkan banyak nyawa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.