Akurat

Selfie Lee Jae Myung dan Xi Jinping Jadi Simbol Babak Baru Hubungan Korea Selatan–China

Kumoro Damarjati | 6 Januari 2026, 19:24 WIB
Selfie Lee Jae Myung dan Xi Jinping Jadi Simbol Babak Baru Hubungan Korea Selatan–China

AKURAT.CO Lee Jae Myung tertawa dan berpose bersama Xi Jinping pada Senin, bertepatan dengan dimulainya kunjungan empat hari Lee ke Beijing. Ia menyebut pertemuan itu sebagai awal dari “fase baru” hubungan Korea Selatan–China, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Asia Timur, khususnya dengan Jepang dan Taiwan.

Momen selfie Presiden Korea Selatan bersama Presiden China itu menjadi sorotan publik internasional. Foto tersebut dinilai bukan sekadar potret santai, melainkan simbol mencairnya hubungan diplomatik antara Seoul dan Beijing yang sempat merenggang dalam beberapa tahun terakhir.

Pertemuan ini merupakan yang kedua dalam dua bulan terakhir, menandakan upaya kedua negara untuk mempererat hubungan bilateral. Setelah pertemuan puncak di Beijing, Lee membagikan foto selfie bersama Xi Jinping dan istri masing-masing melalui media sosial X.

“A selfie dengan Presiden Xi Jinping dan istrinya, diambil dengan Xiaomi yang saya terima sebagai hadiah di Gyeongju,” tulis Lee, merujuk pada pertemuan KTT APEC sebelumnya di Korea Selatan.

“Berkat mereka, saya mendapatkan foto seumur hidup,” tambahnya.

Kantor kepresidenan Korea Selatan juga membagikan video singkat saat foto itu diambil. Dalam video tersebut, Xi Jinping terdengar memuji kemampuan Lee mengambil foto.
“Kualitas gambarnya memang bagus, bukan?” tulis Lee dalam unggahan lain di X.

Gestur ramah Xi Jinping terhadap Seoul ini muncul di saat China justru menunjukkan sikap keras terhadap kekuatan regional lain. Dalam pertemuan tersebut, Xi secara terbuka menyinggung ketegangannya dengan Jepang dan menyoroti sejarah bersama China dan Korea Selatan dalam menghadapi militerisme Jepang pada Perang Dunia II.

“Lebih dari 80 tahun lalu, China dan Korea Selatan melakukan pengorbanan nasional yang sangat besar dan memenangkan kemenangan melawan militerisme Jepang,” kata Xi kepada Lee.
Ia menambahkan bahwa kedua negara harus “menjaga perdamaian dan stabilitas di Asia Timur Laut”, serta mendorong Lee untuk berdiri di “sisi sejarah yang benar”.

Lee Jae Myung menjadi presiden Korea Selatan pertama yang berkunjung ke China sejak 2019. Ia tiba di Beijing pada Minggu untuk kunjungan empat hari yang juga mencakup agenda di Shanghai.

Dalam lawatan tersebut, Lee memimpin delegasi besar yang terdiri dari lebih dari 200 pemimpin bisnis Korea Selatan, termasuk Ketua Samsung Electronics Jay Y. Lee, Ketua SK Group Chey Tae-won, dan pimpinan Hyundai Motor Group Euisun Chung.

Kunjungan Lee menyusul lawatan Xi Jinping ke Korea Selatan pada akhir Oktober lalu, yang merupakan kunjungan pertamanya dalam 11 tahun. Saat itu, Xi menekankan pentingnya perdamaian kawasan dan menjanjikan kerja sama yang lebih erat dengan Seoul.

Pertemuan puncak ini dipandang penting untuk memulihkan hubungan bilateral yang memburuk pada masa pemerintahan sebelumnya. Pendahulu Lee, mantan Presiden Yoon Suk Yeol yang dimakzulkan, dikenal sangat kritis terhadap China dan lebih memprioritaskan hubungan dengan Amerika Serikat.

“Pertemuan puncak ini akan menjadi kesempatan penting untuk menjadikan 2026 sebagai tahun pertama pemulihan penuh hubungan Korea–China,” kata Lee.
“Saya percaya upaya untuk mengembangkan kerja sama dan kemitraan strategis antara kedua negara menjadi tren yang tidak dapat dibalikkan akan terus berlanjut,” tambahnya.
“Kami ingin membuka fase baru dalam perkembangan hubungan Korea Selatan–China.”

Di sisi lain, Beijing juga berkepentingan memperkuat hubungan dengan Seoul setelah hubungan China dan Jepang memburuk. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya menyatakan Tokyo bisa mengambil langkah militer jika China menyerang Taiwan.

Dalam pertemuan di Beijing, kedua negara menandatangani 15 kesepakatan kerja sama, termasuk di bidang teknologi, kekayaan intelektual, dan transportasi. Selain itu, perusahaan China dan Korea Selatan juga menandatangani sembilan perjanjian bisnis, melibatkan Alibaba International, Lenovo, dan peritel Korea Selatan Shinsegae.

Lee mengatakan China dan Korea Selatan perlu memperluas kerja sama ekonomi, terutama di bidang kecerdasan buatan (AI). Selain itu, kerja sama juga bisa dikembangkan di sektor produk rumah tangga, kecantikan, makanan, serta industri budaya seperti film, musik, gim, dan olahraga.

Namun, pengamat hubungan internasional dari Universitas Ewha di Seoul, Leif-Eric Easley, menilai hasil pertemuan tersebut lebih bersifat simbolik.
“Pertemuan puncak di Beijing ini, yang berlangsung tak lama setelah APEC di Gyeongju, memang mencapai tujuan itu,” ujarnya.
“Namun, meski Seoul telah melakukan upaya diplomatik, China belum mengadopsi kebijakan yang lebih bertanggung jawab secara internasional terkait sengketa maritim atau ancaman nuklir Pyongyang.”

Easley juga menyebut China belum sepenuhnya mencabut tekanan ekonomi yang diterapkan setelah Korea Selatan memutuskan menjadi tuan rumah sistem pertahanan rudal AS hampir satu dekade lalu.

“Penting bagi Presiden Lee untuk memperingati hari kemerdekaan Korea di Shanghai, tetapi disayangkan media China kemungkinan akan membingkainya dalam narasi sejarah anti-Jepang, terutama saat hubungan Beijing dan Tokyo tengah tegang terkait Taiwan,” tambahnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.