Kenapa Ada Puasa? Ini Alasan Spiritual, Ilmiah, dan Sosial yang Jarang Dibahas

AKURAT.CO Pernah nggak sih kamu bertanya, kenapa ada puasa di hampir semua agama dan budaya? Dari Ramadan, Yom Kippur, hingga praktik puasa intermiten yang lagi tren di media sosial—semuanya punya satu kesamaan: menahan diri dari makan dan minum.
Pertanyaannya, apakah puasa cuma soal ritual agama? Atau sebenarnya ada alasan biologis, psikologis, bahkan sosial yang lebih dalam?
Jawabannya ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar “tradisi turun-temurun”.
Jawaban Cepat: Kenapa Ada Puasa?
Puasa ada karena manusia sejak dulu menggunakan praktik menahan makan dan minum untuk tujuan:
-
Spiritual: mendekatkan diri pada Tuhan dan melatih ketakwaan
-
Psikologis: membangun kontrol diri dan kesadaran emosional
-
Sosial: memperkuat solidaritas komunitas
-
Biologis: memicu perubahan metabolik dan proses perbaikan sel
Menurut Britannica dan sejumlah studi ilmiah (NCBI/PubMed Central), puasa bukan hanya praktik keagamaan, tetapi juga bagian dari evolusi manusia dalam menghadapi kelangkaan makanan dan pencarian makna hidup.
Sejarah Puasa: Bukan Cuma Ritual Agama
Kalau ditarik ke belakang, sejarah puasa sudah ada jauh sebelum agama-agama besar berkembang.
Dalam kebudayaan Yunani Kuno, praktik puasa dilakukan sebelum ritual penyembuhan oleh pengikut dewa Asclepius. Puasa dianggap membantu kejernihan pikiran dan kesiapan spiritual.
Di masyarakat prasejarah, puasa bahkan terjadi secara alami karena kelangkaan makanan. Tubuh manusia beradaptasi terhadap periode tanpa asupan. Adaptasi inilah yang kemudian menjadi dasar munculnya berbagai bentuk puasa dalam budaya dan agama.
Artinya, puasa bukan sekadar aturan, tapi bagian dari perjalanan panjang manusia.
Puasa dalam Agama: Latihan Spiritual dan Disiplin Diri
Hampir semua agama mengenal puasa, dengan tujuan berbeda namun esensinya mirip.
Dalam Islam, puasa Ramadan bertujuan meningkatkan ketakwaan (QS Al-Baqarah: 183). Dalam Yudaisme, Yom Kippur dijalani sebagai hari pengampunan. Kekristenan mengenal puasa Prapaskah (Lent) sebagai bentuk penitensi. Hindu dan Buddha mempraktikkan puasa untuk meditasi dan pengendalian diri.
Benang merahnya jelas:
puasa adalah latihan menahan dorongan biologis agar manusia lebih sadar, lebih reflektif, dan lebih terkoneksi dengan nilai yang lebih tinggi.
Menariknya, praktik ini selalu dilakukan secara kolektif. Ada kekuatan sosial di sana.
Alasan Ilmiah: Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Puasa?
Di luar aspek religius, banyak penelitian membahas manfaat puasa dari sisi kesehatan.
1. Metabolic Switching
Dalam 12–24 jam tanpa makanan, tubuh kehabisan glukosa dan mulai membakar lemak sebagai sumber energi. Proses ini dikenal sebagai metabolic switching.
Akibatnya:
-
Kadar insulin menurun
-
Sensitivitas insulin meningkat
-
Tubuh menggunakan cadangan lemak
2. Autophagy: “Mode Bersih-Bersih” Sel
Puasa memicu proses autophagy—mekanisme daur ulang sel rusak. Jalur mTOR ditekan, AMPK diaktifkan. Fokus tubuh bergeser dari pertumbuhan ke perbaikan.
Beberapa studi mengaitkan proses ini dengan potensi umur panjang dan perlindungan dari penyakit kronis.
Namun perlu dicatat, sebagian besar data berasal dari studi puasa intermiten, bukan puasa religius secara spesifik.
Kenapa Puasa Membuat Mental Lebih Jernih?
Banyak orang merasa lebih fokus saat berpuasa. Ini bukan sugesti semata.
Ketika tubuh menggunakan keton sebagai energi, otak mendapatkan suplai yang lebih stabil dibandingkan fluktuasi gula darah setelah makan besar.
Selain itu, menahan diri dari makan melatih delayed gratification—kemampuan menunda kepuasan. Skill ini relevan dalam dunia kerja, pendidikan, bahkan keuangan.
Puasa jadi semacam “gym untuk kemauan”.
Baca Juga: Tata Cara Mandi Sebelum Puasa Ramadhan: Niat Lengkap dalam Bahasa Arab, Latin, dan Artinya
Baca Juga: Hukum Puasa Ramadan Saat Masih Punya Utang, Sah atau Tidak?
Puasa sebagai Gerakan Sosial dan Politik
Puasa juga pernah menjadi alat perlawanan.
Mahatma Gandhi menggunakan aksi mogok makan sebagai bentuk protes damai melawan ketidakadilan kolonial. Di sini, puasa berubah dari ritual pribadi menjadi pesan politik yang kuat.
Dalam konteks modern, puasa juga digunakan sebagai syarat medis sebelum operasi atau pemeriksaan tertentu—menunjukkan bahwa praktik ini punya fungsi praktis.
Puasa: Antara Makna dan Tren
Di satu sisi, puasa religius berbicara tentang spiritualitas dan disiplin batin. Di sisi lain, intermittent fasting dijual sebagai strategi diet.
Paradoksnya, banyak orang mengejar manfaat fisik tanpa memahami dimensi mental dan sosialnya.
Puasa bisa menjadi sarana refleksi. Akan tetapi, jika hanya dijadikan tren tanpa kesadaran, maknanya bisa tereduksi.
Yang lebih penting bukan sekadar “tidak makan”, melainkan apa yang berubah dalam diri saat melakukannya.
Contoh Nyata: Generasi Muda dan Puasa
Bayangkan mahasiswa yang berpuasa Ramadan sambil tetap kuliah dan magang. Ia belajar mengatur energi, waktu, dan emosi.
Atau pekerja yang mencoba intermittent fasting demi kesehatan. Ia lebih sadar pola makan dan kebiasaan impulsif.
Dalam dua skenario berbeda, puasa menjadi alat pengendalian diri. Itu sebabnya praktik ini bertahan ribuan tahun.
Kenapa Ini Penting untuk Kamu?
Di tengah budaya instan dan serba cepat, kemampuan menahan diri adalah aset.
Puasa mengajarkan:
-
Kontrol impuls
-
Empati sosial
-
Manajemen energi
-
Kesadaran terhadap tubuh
Jika diabaikan, kita mudah terjebak pola konsumtif—baik makanan, media sosial, maupun gaya hidup.
Bagi generasi milenial dan Gen Z yang hidup di era distraksi tinggi, latihan seperti ini justru makin relevan.
Penutup
Jadi, kenapa ada puasa?
Karena manusia selalu mencari cara untuk bertahan, memperbaiki diri, dan menemukan makna. Puasa adalah salah satu caranya—entah lewat spiritualitas, sains, atau solidaritas sosial.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “kenapa ada puasa?”, tetapi “apa yang berubah dalam diri kita setelah menjalaninya?”
Pantau terus perkembangan riset dan perspektif tentang puasa untuk memahami bagaimana praktik kuno ini tetap relevan di masa depan.
Baca Juga: 15 Rekomendasi Takjil untuk Buka Puasa Selain Gorengan, Segar dan Mudah Dibuat di Rumah
Baca Juga: 10 Manfaat Puasa yang Jarang Diketahui, Nomor 5 Bikin Awet Muda!
FAQ
Apa itu puasa dan mengapa manusia melakukannya?
Puasa adalah praktik menahan diri dari makan dan minum dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan untuk tujuan spiritual, kesehatan, atau disiplin diri. Manusia melakukan puasa sejak ribuan tahun lalu sebagai bagian dari ritual keagamaan, adaptasi terhadap kelangkaan makanan, hingga metode menjaga kesehatan. Selain membantu mendekatkan diri kepada Tuhan dalam tradisi agama, puasa juga dipercaya dapat melatih kontrol diri dan membantu tubuh beradaptasi secara metabolik.
Mengapa puasa ada di hampir semua agama?
Puasa ada di hampir semua agama karena praktik ini dianggap efektif untuk melatih kesabaran, membersihkan jiwa, dan meningkatkan kesadaran spiritual. Dalam banyak tradisi keagamaan, menahan makan dan minum membantu seseorang mengurangi dorongan duniawi sehingga lebih fokus pada doa dan refleksi diri. Kesamaan tujuan spiritual ini membuat puasa berkembang secara paralel di berbagai peradaban meskipun agama-agamanya berbeda.
Bagaimana puasa memengaruhi tubuh manusia?
Puasa memengaruhi tubuh dengan menurunkan kadar insulin dan membuat tubuh beralih menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi setelah glukosa habis. Perubahan metabolik ini membantu mengatur gula darah dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Dalam periode tertentu, puasa juga dapat memicu proses perbaikan sel yang dikenal sebagai autophagy, meskipun efeknya berbeda pada setiap orang.
Mengapa puasa bisa meningkatkan kontrol diri?
Puasa membantu meningkatkan kontrol diri karena seseorang belajar menahan dorongan dasar seperti lapar dan haus dalam waktu tertentu. Latihan menunda kepuasan ini membuat individu lebih terbiasa mengendalikan impuls, baik dalam hal emosi maupun kebiasaan sehari-hari. Banyak orang merasakan peningkatan disiplin setelah menjalani puasa secara rutin karena tubuh dan pikiran terbiasa dengan pola pengendalian diri.
Apa dampak puasa bagi kesehatan jika dilakukan dengan benar?
Puasa yang dilakukan dengan pola makan seimbang dapat membantu menjaga berat badan, memperbaiki metabolisme, dan menurunkan risiko penyakit tertentu. Beberapa penelitian menunjukkan puasa dapat membantu menurunkan tekanan darah, kolesterol, serta peradangan dalam tubuh. Namun manfaat tersebut biasanya optimal jika asupan makanan tetap sehat dan kebutuhan cairan terpenuhi.
Mengapa puasa membuat orang lebih empati terhadap orang miskin?
Puasa membuat seseorang merasakan lapar dan haus secara langsung sehingga lebih memahami kondisi orang yang kekurangan makanan setiap hari. Pengalaman ini sering menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial, terutama dalam tradisi puasa yang diiringi kegiatan berbagi seperti sedekah atau bantuan makanan. Karena itu, puasa sering dianggap sebagai sarana membangun solidaritas sosial di masyarakat.
Bagaimana puasa bisa memperbaiki kesehatan mental?
Puasa dapat membantu kesehatan mental karena memberi kesempatan bagi seseorang untuk berhenti sejenak dari kebiasaan konsumsi berlebihan dan lebih fokus pada kesadaran diri. Banyak orang merasa pikirannya lebih tenang dan fokus saat berpuasa karena tidak terganggu oleh pola makan yang berlebihan. Selain itu, keberhasilan menjalani puasa juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis.
Apa dampaknya jika puasa dilakukan secara berlebihan?
Puasa yang dilakukan secara ekstrem tanpa pengawasan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti dehidrasi, kekurangan nutrisi, gangguan elektrolit, hingga penurunan energi yang drastis. Dalam beberapa kasus, puasa yang tidak diimbangi pola makan sehat justru dapat memicu kenaikan berat badan setelah periode puasa berakhir. Karena itu, praktik puasa sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebutuhan kesehatan masing-masing orang.
Mengapa puasa tetap dilakukan sampai sekarang?
Puasa tetap dilakukan hingga sekarang karena manfaatnya dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari spiritual, kesehatan, hingga sosial. Tradisi puasa diwariskan dari generasi ke generasi dan terus relevan karena membantu manusia mengembangkan disiplin diri dan kesadaran hidup. Bahkan di era modern, praktik puasa berkembang menjadi metode kesehatan seperti intermittent fasting yang menunjukkan bahwa puasa masih memiliki nilai praktis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









